Corona, Mudik, dan Base Camp

Corona, Mudik, dan Base Camp

Selama ini aku belum pernah merasakan apa itu mudik. Kalau menampung pemudik sih sering, he he …. Semenjak berumah tangga, aku tinggal di kampung halaman. Suamiku diminta ibunya tinggal dekat dengannya. Sebagai anak yang berbakti, dia pun menurut. Akhirnya, kami membangun rumah di samping rumah orang tuanya. Jadi, ceritanya aku ini turut suami. Mutasi dari tempat kerjaku yang di luar kota agar bisa terus mendampingi suami.

Rumahku tak ubahnya seperti rumah singgah bagi para pemudik. Maksudku, untuk keluarga iparku yang tinggal di luar kota dan berkesempatan mudik saat lebaran. Berhubung rumah orang tua tidak bisa lagi menampung mereka, maka rumahku pun kemudian menjadi base camp pegungsi, eh … pemudik.

Sebagai tuan rumah, sudah sewajibnya menjamu tamunya kan? Makanya, sebelum, pada saat, dan setelah singgahnya para pemudik, aku luar biasa sibuk. Menyiapkan ini itu, memasak ini itu, dan merapikan kembali ini itu yang luar biasa berantakan tentunya. Luar biasa lelah, tapi jika para tamu istimewa itu kembali ke habitatnya di kota dengan wajah puas, hilanglah rasa lelahku itu. Tinggal aku menjatuhkan diri di kasur empuk dengan menarik nafas lega.

Eit, jangan salah! Agar bisa memulyakan para tamu istimewa itu dengan sepenuh hati, perlu perjuangan panjang loh. Aku terlahir sebagai anak bungsu, anak perempuan satu-satunya ibu dan bapakku. Sebelum menikah, aku terbiasa dimanja oleh kedua orang tua dan kedua kakakku yang semuanya laki-laki. Wajar dong jika memiliki sedikitsifat manja dan suka diladeni.

Setelah menikah dan diboyong ke rumah baru kami, sifat manjaku terbawa serta. Suamiku cukup pengertian sehingga tidak terlalu mempermasalahkannya.  Tetapi, keadaan  memaksaku melepaskan atribut “putri manja” itu. Hal itu bermula saat rumahku mulai dijadikan rumah singgah keluarga iparku yang mudik.

Saat pertama kali menjadi tuan rumah, aku sempat kikuk. Tidak tahu harus berbuat apa. Yang paling membuatku kikuk ialah mengenai menu untuk menjamu mereka. Jujur saja, aku tidak mahir memasak. Hanya berbekal sedikit pengalaman saat mengintip ibu memasak,  aku keluarkan menu-menu andalan dengan segala rekayasa tentunya. Dengan modal nekat, aku kerahkan segala kemampuan untuk menjamu mereka. Bisa ditebak kan, bagaimana hasilnya? Realitanya tak seindah ekspektasi. Ketika mencicipi masakanku, rona wajah mereka terlihat sangat serius. Ada juga yang tercenung menatap makanan yang terhidang. Waduh … mati gaya deh aku saat itu.

“Masakanku ga enak ya, Kak?” tanyaku pada kakak ipar permpuan.

“Enak, kok. Cuma kayaknya kurang garam dikit,deh,” jawabnya. “Biar kuambilkan garamnya,” lanjutnya kemudian sambil bangkit dari kursinya.

“Biar saya saja,” aku medahuluinya beranjak ke dapur hendak mengambil garam.. Sekilas kulihat kakak iparku mengangguk pelan. Tapi saat hendak kembali ke ruang makan, aku mendengar suami kakak iparku berbisik pada istrinya, “Ajari dia masak deh, Mah!”

Serasa ada palu godam menghantam ulu hatiku. Aku sadar bahwa menu yang aku sajikan pada mereka adalah menu versi gagal total tentunya. Itulah kegagalan pertamaku menjamu tamu.

“Nanti, kalau mau masak lagi, kakak bantun ya,” kata kakak ipar perempuan saat aku meletakkan tempat garam di meja.

“Dengan senang hati,” jawabku dengan mencoba melemparkn seulas senyum. Jujur saja, aku semakin malu dengan tawaran kakak iparku itu.

Kata orang, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Itu menjadi kata-kata sakti yang membuatku menyingsingkan lengan baju. Berjuang mati-matian belajar memasak. Tiga buku resep aku beli. Satu buku  resep masakan tradisional, satu buku resep kue dan aneka minuman, serta satu buku resep campuran menu dalam dan luar negeri. Selain itu aku banyak bertanya pada ibu dan rekan sekerjaku yang terkenal pandai memasak. Saat itu aku belum terbiasa melihat tutorial memasak di youtube. Bagaimana tidak, saat itu belum masuk era digital. Jangankan android, hp jadul saja aku belum punya.

Tahun kedua rumahku dijadikan base camp. Itulah saatnya kemampuan memasakku diuji. Saat kusajikan hidangan di meja, para tamu malah saling pandang di antara mereka. Mereka saling mempersilakan yang lain untuk mencicipi lebih dulu. Akhirnya, istri kakak iparku mulai menyendok nasi dan lauk-pauknya. Mungkin dia tidak tega melihatku yang berdiri kaku menunggu mereka mencicipi hidangan. Dengan terlihat ragu, setelah melemparkan seulas senyum manisnya padaku, dia mulai memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Saat itu aku rasanya seperti  menjadi bintang iklan obat sesak nafas yang dadanya dililit tambang besar atau pemeran utama film laga yang dililitkan bom waktu di pinggangku. Tik-tak jam dinding terdengar seperti hitungan mundur waktu pemicu bom itu untuk meledak. Pelan-pelan kakak iparku mengunyah makanan di mulutnya. Dan … taraaaaaaaaa …. dia dengan semangat mengabari keluarganya yang masih terpaku menunggu.

“Enak,” katanya. “Serasa makan di resoran mewah,” lanjutnya yang sontak membuat tersanjung.

“Terima kasih,” sahutku.

Tambang besar ataupun bom yang melilit di tubuhku itu lenyap seketika. Heaaaahhhh …. lega sekali rasanya. Ingin rasanya melonjak-lonjak kegirangan sambil berteriak, “Horeeee!” Bahagianya aku saat melihat para tamuku menyantap hidangan dengan penuh semangat.

Itu terjadi lebih dari dua puluh tahun lalu, hampir seumur dengan anak sulungku. Sejak itulah, setiap tahun aku menjadi lebih bersemangat menjadi tuan rumah bagi mereka. Dari merekalah aku mendengar banyak kisah tentang perjalanan mudik. Sejak mereka datang, telingaku selalu kupasang untuk menyimak obrolan seru mereka selama di perjalanan. Kadang aku ikut tertawa saat mereka bercerita tentang pengalaman lucu. Kadang juga turut merasakan deg-deg-plas saat mereka bercerita tentang bagaimana ketar-ketirnya terjebak kemacetan di jalanan menanjak sementara di kanan-kiri jalan itu adalah jurang.

Pada beberapa tahun terakhir ini, aku pun turut merasakan lelahnya mereka yang terjebak macet total meskipun di jalan tol. Sebelum akhirnya pemerintah memberlakukan jalan satu arah untuk arus mudik, pernah suatu kali, mereka terjebak macet hingga dua hari dua malam. Padahal dalam keadaan normal, biasanya mereka cukup dengan menempuh perjalanan sekitar lima jam.

Setelah lebih dari dua puluh tahun aku menjadi tuan rumah bagi mereka, aku mendengar kabar bahwa kemungkinan besar tahun ini mereka akan berlebaran di tempat masing-masing.

“Tidak diperbolehkan mudik, Tante,” begitu kabar dari salah satu keponakanku melalui panggilan telepon. “Gara-gara corona, nih,” gerutunya.

Aku tidak tahu apa sesungguhnya reaksi hatiku saat mendengar kabar itu. Bahagiakah karena tidak perlu repot-repot mempersiapkan segalanya untuk mereka? Atau sedih karena rumahku akan sepi pada lebaran nanti? Setiap mereka berada di rumahku, suasana rumah yang biasanya cukup tenang, berubah menjadi penuh hiruk-pikuk.

Setidaknya, aku ikut memperhatikan tumbuh kembang para keponakan yang saat itu masih teramat imut, hingga kini ada di antara mereka yang sudah menikah dan memiliki anak.  Saat mereka masih kecil, teriakan dan canda tawa para keponakan atau lengkingan kakak ipar perempuanku menyuruh mereka diam nyaris terdengar sepanjang waktu. Rumah menjadi tenang jika mereka tidur atau ke luar rumah. Aku merindukan keriuhan dan kebisingan itu? Entahlah … yang pasti, tiba-tiba saja semangatku menyambut hari yang fitri itu surut seketika. ***

#WCR_mudik_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.