Diari Cik Onis

Balada Kopi Keriting

Cik Onis ingin menangis. Dia kira tugasnya sudah finish, eh ternyata masih belum habis. Sewaktu dicek malah jadual kegiatan selanjutnya berbaris-baris. Padahal tenaganya mulai kembang kempis. Kasihan sekali kalau kau tengok dia meringis.

Tak tahan menanggung penderitaan, Cik Onis menelepon sahabat kesayangan. Segala keluh kesah pun diadukan. Minta saran sebaiknya apa yang harus dilakukan. Untung tak pakai sedu sedan.

“Tenang, Cik,” ujar sang sahabat berusaha membantu. “Mula-mula susun dulu jadual terdekat, rinci keperluannya, jangan asal nekat, baca bismillah supaya mudah jalannya,” saran Mak Andah tanpa ragu.

“Tapi, semuanya harus pakai kopi keriting!” jerit Cik Onis.
“Ha? Kopi keriting Cik? Produksi dari mana? Atau maksudmu copywriting?” beruntun pertanyaan Mak Andah sahabat Cik Onis. Sekadar memastikan, karena dia paham sahabatnya sering korslet kalau sedang mepet.

“Iyaaa itu maksudku. Kepalaku macam berasap memikirkan apa yang harus ditulis. Kuliner, talent mapping, storytelling, webbing, semua perlu copywriting. Aku jadi makin keriting, Mak!” Cik Onis menjelaskan dengan suara melemah.

Mak Andah terdiam sejenak. Selama berteman dengan Cik Onis, dia belum pernah melihat sang sahabat tanpa jilbab. Jadi, dia ragu mau berkata ‘lurusin aja dulu ke salon’ atau ‘ah, masih segitu aja kok keritingnya’. Bukan apa-apa sih, takutnya Cik Onis malah tambah pikiran karena harus ke salon.

“Kalau tulis yang biasa-biasa saja, bagaimana Cik? Nggak usah dibikin sulit.”

“Kau macam tak ngerti aku pun Maaak! Aku tak enak menulis yang biasa-biasa. Lebih puas kalau sampai tulisanku bikin penasaran. Minimal bikin orang tertarik, lah.”

“Kau mau bikin orang tertarik, tapi kau sendiri panik. Lucu kali kurasa Cik.”

Di ujung sana Cik Onis terdengar menghela napas. Mungkin baru sadar dia kalau ucapan sang kawan ada benarnya. Lalu hening di telepon. Mak Andah menarik napas. Rada cemas. Jangan sampai ucapan terakhirnya memancing ledakan emosi. Agak ngeri-ngeri sedap berteman dengan manusia limited edition seperti Cik Onis ini. Tak bisa diprediksi apa yang bakal keluar dari mulutnya. Semoga saja masalahnya sudah terpecahkan dengan sendirinya.

Beberapa detik kemudian belum juga terdengar balasan Cik Onis. Mak Andah jadi nggak enak hati. Apa mungkin Cik Onis malah bunuh diri?

Kemudian telinga Mak Andah mendengar bunyi benda berkelotak jatuh di ujung sana. Perkiraannya, itu bunyi handphone yang jatuh dari pegangan Cik Onis. Sekarang gantian Mak Andah yang panik. Digedor-gedornya dinding dengan keras. Gelagapan dia mencari kain sekadar penutup kepala. Setelah dapat, segera ia berlari menuju rumah Cik Onis.

Dalam 3 kejap mata, Mak Andah sudah di depan pintu rumah Cik Onis. Mendobrak masuk dan langsung mendapati Cik Onis tengkurap di kursi tamu dengan tangan terjulur ke lantai. Diperiksanya hidung dan nadi Cik Onis. Syukurlah masih ada udara hangat terasa dari hidungnya dan nadinya juga masih berdenyut. Rupanya, setelah melepaskan beban pikiran, Cik Onis jadi mengantuk dan langsung tertidur.

Mak Andah menarik napas panjang dan mengomel dalam hati, “Cik Onis, Cik Onis, rumahku di sebelah pun harus kau telepon untuk curhat. Yang banyak kali rupanya pulsamu.”

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.