Cinta dalam Derita

Cinta dalam Derita

Satu ketika, kala di bangsal rumah sakit, aku melihat pemandangan yang mengharukan hati, para pasien dengan berbagai keluhan sakit terbaring lemah, menanti tindakan medis.

Menyaksikan itu, semakin terasalah betapa mahalnya nikmat sehat, nikmat yang kerap disia-siakan, nikmat yang baru disadari betapa berharganya setelah diri terkapar sakit. Ya Allah, tetapkanlah karunia kesehatan ini kepada kami dan jadikanlah kami hamba yang pandai mensyukurinya.

Di sela-sela waktu menanti dilaksanakannya tindakan medis, kerap digunakan oleh keluarga pasien untuk saling bertukar cerita tentang riwayat sakit keluarga masing-masing. Aku berkesempatan pula berbincang dengan seorang bapak yang istrinya tengah menjalani rawat inap karena usai melahirkan.

“Sepuluh tahun kami menanti untuk punya anak. Alhamdulillah, kemarin istri sudah melahirkan lewat operasi caesar.” Ungkapnya dengan penuh kesyukuran. Beliau pun menuturkan bahwa semasa menjalani ikhtiar untuk punya anak, ia dan istrinya pernah ditawari untuk melakukan praktik tertentu melalui tindakan medis, namun karena hal itu dinilainya bertentangan dengan prinsip agama, maka ia pun menolak dengan tegas. “Saya hanya menguatkan keyakinan bahwa segala sesuatunya telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, kalau memang Allah berkehendak kami punya anak, pasti kami punya anak.” Tandasnya mantap.

Aku turut berbahagia menyaksikan beliau dan istrinya yang kini telah memiliki seorang permata hati, kesabaran yang cukup lama dalam menanti kehadirannya. Kesabaran yang pada akhirnya berbuah manis. Alhamdulillah.

Anak adalah perhiasan dalam keluarga. Ia adalah penantian pertama setiap pasangan yang baru menikah. Seorang teman yang juga penggiat dakwah pernah menuturkan tentang kisah seorang bapak yang sampai botak kepalanya karena memikirkan sangat inginnya punya anak. Bagaimana pun manusia hanya bisa menjalani ihktiar dan doa yang maksimal, selanjutnya tawakal dengan ketentuan terbaik dari Allah.

Menyusuri lorong rumah sakit saat tiba waktunya pulang, banyak pelajaran berharga yang kupetik dari pengalaman ini. Belajar dari mereka yang sakit dan keluarganya, belajar tentang harapan, ketabahan, kesabaran, kekuatan, perjuangan, pengorbanan, kepasrahan pada Sang Pencipta, dan tentang cinta.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: Pixabay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.