Menahan Diri

Menahan Diri

Setiap ada aturan pasti ada sanksi. setiap aturan dibuat pasti ada alasan dibaliknya. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Ungkapan ini mengandung arti yang jelas untuk kita sebagai makhluk sosial, dimanapun kita berada atau kita bermuara, disitu juga kita harus mengikuti segala aturannya.

Maksud dari segala himbauan yang diputuskan pemerintah kepada kita masyarakatnya untuk tidak mudik dalam merayakan hari kemenangan lebaran harus kita patuhi, itu sebagai bentuk ketaatan kita kepada pemimpin.

Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatila Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu , maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya. (QS.An-Nisa : 59).

“Mah kita pulang kampung tidak?” Pertanyaan anak keduaku membuyarkan lamunanku. Aku membayangkan jika tidak mudik bagaimana situasi di kampung. Kebetulan kampung aku dan suamiku tidak berbeda, dan jaraknya dekat masih satu propinsi, tapi kebiasaan mudik kami selalu lakukan setiap berapa bulan sekali karena jaraknya yang dekat, kami selalu mengunjungi oran tua dan saudara. Tapi sejak orang tuaku dan mertuaku sudah tiada, kami jarang mudik tapi minimal satu tahun dua kali. Rasanya aneh jika lebaran tidak mudik.
“Kita lihat nanti ya mas” Anak laki-lakiku selalu ingin dipanggil “Mas” walaupun suku kami dari sunda.
“Ya..sepi dong di sini”.
“Di sini semua tidak mudik, jadi lebaran tahun ini di perumahan kita rame”. Kami adalah keluarga besar karena keluarga suami dan keluargaku berdekatan, jadi serasa satu kampung semua saudara, setiap idul fitri kami berkumpul begitu banyak saudara dari ayah/ibu, dan keluarga suami.
“Kita belajar menahan diri mas” Ayahnya menimpali. “Kan sedang puasa menahan diri dari hawa napsu, ternasuk hawa napsu mudik” Ayahnya melanjutkan bicaranya sambil tersenyum.
“Ayah ada-ada aja, kalau pas lebaran ya sudah tidak puasa kali”.
Kami mengahiri diskusi karena sudah terdengar adzan magrib lalu kami berbuka puasa bersama dengan hidangan sederhana.

Kami bersiap menikmati idul fitri di rumah aja, “Mohon maaf ya De, Ka, lebarannya tidak kemana-mana”.
Aku mengusap punggung anak-anakku. “Mudah-mudahan kita semua sehat sampai hari idul fitri”.
“Wah uangnya utuh dong mah” Anak laki-lakiku menimpali. “Seharusnyakan buat ampao dibagi-bagi”. Hadi anak laki-lakiku melanjutkan sambil tersenyum, aku balas dengan senyum lagi.

Bekasi, 10 Mei 2020
Sumber gambar : Canva
Rumahmediagrup/Maepurpple

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.