Malapetaka dan Doa Yang Tertolak

Malapetaka dan Doa Yang Tertolak

Allah adalah Rabb yang mesti ditaati, melanggar perintah-Nya sama saja dengan mencelakakan diri sendiri, baik di dunia terlebih di akhirat. Salah satu perintah Allah adalah untuk selalu memuliakan kedua orang tua di antaranya dengan cara melaksanakan segala keinginannya selagi diri mampu dan tidak bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya.

Perintah berbakti kepada kedua orang tua, Allah sandingkan penyebutannya tepat setelah Dia memerintahkan hambanya untuk menaati-Nya, sebagaimana yang tertera dalam QS. Al-Israa ayat 23. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kewajiban berbakti kepada orang tua. Mendurhakai keduanya termasuk ke dalam dosa-dosa besar yang paling besar (Sahihain) dan Allah akan segerakan balasannya di dunia (HR. Imam At-Thabarani dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Hakim dan Imam As-Suyuthi).

Kala itu, ada seorang pemuda yang meminta izin kepada ibunya untuk keluar rumah, namun ibunya tidak mengizinkan. Pemuda ini tetap bersikeras pergi ke luar rumah dan mengabaikan larangan ibunya.

Tidak berapa lama setelah kepergiannya, tidak lama kemudia ia telah tiba kembali ke rumah dengan kepulangan yang tidak sebagaimana ia berangkat, di beberapa bagian tubuhnya menggurat luka-luka bahkan ada bagian tulang yang retak dikarenakan baru saja terjatuh dari motor yang dikendarainya.  Pemuda ini pun menyadari kesalahannya dan meminta maaf atas kelancangan yang ia lakukan kepada ibunya.

Ibadah yang tidak kalah agung adalah berdoa, permohonan kepada Yang Kuasa. Namun. apa jadinya apabila doa ditolak!? Kepada siapa lagi diri bermunajat, sementara tak ada satu pun yang berhak diibadahi dan bisa mengabulkan doa kecuali hanya Allah. Allah menjadikan ketaaatan kepada-Nya sebagai syarat dikabulkannya doa (QS. Al-Baqarah: 186).

Diriwayatkan dari Syaqiq bin Ibrohim bahwa suatu ketika orang-orang di pasar Bashroh berkumpul di hadapan Ibrohim bin ‘Adham dan bertanya kepadanya tentang doa mereka yang belum juga terkabul, maka Ibrohim bin ‘Adham menjawab, “Wahai penduduk Bashroh, sesungguhnya hati-hati kalian telah mati disebabkan oleh sepuluh hal:

  1. Kalian mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-Nya.
  2. Kalian membaca kitabulloh, tetapi tidak beramal dengannya.
  3. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
  4. Kalian mengetahui permusuhan setan kepada kalian, tetapi justru bersahabat dengannya.
  5. Kalian mengatakan cinta surga, tetapi tidak mau beramal untuk mendapatkannya.
  6. Kalian mengatakan takut neraka, tetapi kalian justru menggadaikan diri kalian dengannya.
  7. Kalian mengetahui bahwa kematian itu adalah benar, tetapi kalian tidak bersiap-siap menghadapinya.
  8. Kalian sibuk dengan aib saudara kalian, tetapi justru mengabaikan aib diri sendiri.
  9. Kalian telah mengenyam berbagai nikmat dari Robb kalian, tetapi kalian tidak menyukurinya.
  10. Kalian mengubur jenazah di antara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.

Memperhatikan perihal di atas, maka dengan sebab ketaatanlah segalanya akan dimudahkan. Allah tidak meminta yang lain kepada hamba-Nya kecuali untuk taat kepada-Nya, buah daripada ketaatan ini dapat dirasakan di antaranya dengan dihindarkannya dari malapetaka dan dikabulkannya doa. Allahu’alam.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: Kabarmedan.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.