Mudik dalam Harapan

Mudik dalam Harapan

Waktu terus bergulir, tidak mempedulikan Amir yang masih terpaku menatap kalender yang tergantung di dinding kamar kontrakannya. Dari hari ke hari, kerap ia berdiri terpaku di situ.

“Lebih dari separuh Ramadan telah berlalu,” gumamnya. “Apa yang bisa aku lakukan kini?”  Menghela nafas berat. “Berjualan keliling, tidak bisa lagi. Selain dilarang kamtib, masyarakat pun menutup jalan ke perumahan mereka. Apalagi sekarang untuk berbuka saja mereka diimbau untuk menghindari minum yang dingin-dingin. Berjualan di sini, siapa yang mau beli? Sebagian besar kontrakan di sekelilingku kini telah kosong ditinggal pulang para penghuninya. Kalaupun ada yang tinggal, mereka juga sama-sama penjual es yang kini menganggur sepertiku,” batinnya.

Amir merupakan salah satu perantau yang terpaksa menjalani Ramadan di Ibu Kota. Sebagian dari teman-temannya sesama penjual es yang mengontrak di situ, memilih segera pulang kampung sebelum Ramadan tiba. Kepulangan mereka bukan semata karena ingin manjalankan ibadah Ramadan bersama keluarga mereka di kampung. Akan tetapi situasi yang mulai tidak menentu akibat wabah coronalah yang mendorong mereka untuk segera pulang. Mereka nekat pulang karena sudah tidak bisa bebas berjualan lagi.

Sementara itu, Amir dan beberapa teman lainnya memilih bertahan. Apalagi Amir baru kembali dari kampung. Dia tidak tahu jika corona mulai menyebar di Jakarta. Baru beberapa hari saja dia kembali berjualan es doger keliling, situasi mulai kacau. Dia berharap kondisi segera membaik. Akan tetapi, situasi malah semakin tidak menentu. Hingga akirnya pemerintah daerah menerapkan jaga jarak sosial. Masyarakat diimbau untuk tinggal di rumah. Amir masih berharap, situasi akan segera normal kembali. Dia mengira corona itu virus yang biasa saja.  Tapi apa daya, jauh panggang dari api.  Bukannya mereda, wabah corona semakin menggila.

Hari-hari Amir lewati hanya dengan menunggu. Sementara uang yang ia miliki nyaris habis. Pernah terlintas untuk pulang. Akan tetapi, belum juga berangkat, PSBB telah digulirkan disusul dengan larangan mudik.  Dia tidak memiliki keberanian untuk melanggar. Apalagi dia mendengar selentingan kabar untuk yang memaksa mudik akan dikenai sanksi. Bukan ancaman adanya sanksi itu yang membuatnya bertahan, tetapi adanya kabar bahwa jika dia pulang, ada kemungkinan dia akan membawa corona itu ke rumah. Saat itulah dia mulai sadar akan betapa berbahayanya corona.

Meskipun merasa dirinya baik-baik saja, tapi Amir khawatir jika keluarganya sakit karena virus yang ia bawa dari perjalanan. Kekhawatirannya itulah membuat Amir memilih untuk menunggu situasi kembali normal. Akan tetapi, apa yang diharapkannya tak juga terpenuhi. Situasi bahkan semakin tidak menentu. Akhirnya, Amir sampai pada kondisi seperti peribahasa memakan buah simalakama.

Dering panggilan telepon membuyarkan lamunannya. Istrinya dari kampung meneleponnya. Dia segera terima panggilan itu. Diucapkannya salam. Dibalas istrinya dengan suara bergetar.

“Bagaimana kabar Akang sekarang? Akang sehat kan?” Tanya istrinya.

“Alhamdulillah, akang sehat Ai,” jawabnya. Beberapa kali Amir menelan ludah. Tenggorokannya seperti tercekat, perih.

“Syukurlah kalau Akang sehat. Akang masih bisa berjualan, kan?” Tanya istrinya lagi.

“Maafkan Akang, Ai. Setelah pulang waktu itu, akang hanya sempat berjualan beberapa hari. Setelah itu, Akang tidak bisa berkeliling. Jalan-jalan ke perumahan pada ditutup,” paparnya.

“Kenapa Akang tidak pulang saja? Jika di sana tidak bisa bekerja, mendingan pulang, Kang,” pinta istrinya.

“Tidak bisa pulang, Ai. Kemarin juga teman akang nekat pulang, tapi di jalan disuruh putar balik. Akhirnya kembali lagi ke sini. Akang dengar sekarang selalu ada razia untuk yang nekat mudik,” papar Amir.

“Akang mah bukan mudik atuh Kang. Katakan saja Akang mah mau pulang. Mungkin diizinkan lewat.”

“Mana bisa, Ai. Mereka tidak akan mau menerima alasan itu,”

“Jadi bagaimana, Kang? Akang sampai kapan akan terus di situ? Jika tidak kerja, bagaimana Akang dapat uang?”

“Itu yang sedang akang pikirkan, Ai,” menarik nafas berat. “Maafkan Akang, Ai. Sepertinya lebaran ini akang tidak bisa memberi uang untuk beli baju barumu dan anak-anak,” mulai tersedu.

“Jangan pikirkan itu, Kang. Yang penting Akang di sana sehat, sudah Alhamdulillah. Tapi bagaimana untuk biaya Akang sehari-hari? Dari mana nanti Akang makan jika uang Akang habis?” Pecahlah tangis Ai.

“Entahlah Ai. Akang pasrah saja pada yang Maha Pemberi rezeki,” tersedu. “Yang Akang pikirkan sekarang, bagaimana nanti membayar zakat fitrahnya Ai? Sepertinya akang tidak akan bisa mengirim untuk itu juga,” isaknya mulai terdengar jelas.

“Kalau soal itu, insya Allah Ai bisa bayarkan, Kang. Akang tidak usah pikirkan itu. Tabungan kita masih ada, Kang. Cukup untuk itu.”

Keheningan menyelimuti percakapan kedua suami istri itu. Kegetiran tiba-tiba menyelinap di hati keduanya. Getir jika nanti mereka tidak bisa berlebaran bersama di kampung. Dari lubuk hati mereka yang terdalam terbetik harapan semoga sebelum lebaran tiba, corona telah lenyap dari muka bumi. Dengan begitu, tidak akan ada larangan untuk mudik.***

#WCR_mudik_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.