Mudik Tinggal Harapan

Mudik Tinggal Harapan

Surabaya sudah menjadi kota kita, Bang

Tapi bukan rumah kita

Di sini kita tidak punya sanak saudara

Tiga tahun sudah kita merantau

Mulai kita berdua,

Hingga bertiga dengan anak kita

Tiga tahun itu pula kita belum pernah menjenguk kampung halaman

Kita masih berjuang, Dik

Kita tabung dulu uang kita

Untuk pulang ke luar Jawa

Sudah tiga tahun, Bang

Aku rela hanya makan dengan kerupuk

Atau cuma dengan sambal terasi

Asal bisa mengumpulkan uang

Untuk bisa berbagi dengan handai taulan

Jika kelak pulang ke kampung halaman

Kutimang putraku

Sebentar lagi kau melihat kakek nenekmu, Nak

Sebentar lagi kau akan digendong paman dan bibimu

Mereka pasti bahagia melihatmu

Tinggal sebentar lagi

Kita akan saba menanti

Kampung halaman kita sudah di ujung mata

Berita corona,

Virus covid 19 merajalela

Larangan keluar rumah,

Jangan mudik, kata pemerintah

Bagaimana ini, Bang?

Aku sudah tak tahan

Aku sudah membaui aroma kampung halaman

Masakan mamak yang penuh cinta

Aku pun terlelungkup di bantal

Menangis, meratap

Abangpun cuma bisa diam

Mengusap rambutku pelan

Kita bisa apa, dik?

Kita berada di zona merah

Kita beresiko membahayakan handai taulan

Jika kita memaksa pulang

Uang sudah terkumpul, Bang

Tapi mudik tinggal harapan

Rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

One comment

Tinggalkan Balasan ke muslimatulfaiqoh Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.