Pertemuan Terakhir

  Baru saja sampai gerbang sekolah saat aku dan anakku mau pulang, tiba-tiba gawaiku berbunyi.

   “Be,  angkat siapa yang nelpon?” Aku menyuruh anakku yang saat itu duduk di boncengan sepeda motorku.

   “Bapak Mah”. Kata anakku

   “Iya, angkat aja ada apa”. Aku menyuruh anakku menerima telepon dari bapaknya karena aku lagi mengendarai motor.

   “Apa kata Bapakmu?” tanyaku pada anakku setelah telponnya ditutup.

   “Kata Bapak,  pulangnya langsung ke rumah paman”. Anakku menjawab.

   ” Ada apa ya? “

   ” Ga tau,  Bapak ga ngasih tau ada apa. Hanya disuruh pulang langsung ke rumah paman”. Jawab anakku.

   Selama di perjalanan aku terus berfikir ada kejadian apa sebenarnya di rumah adekku.  Kenapa suamiku nyuruh aku pulang ke rumah adekku. Namun karena sejak pagi aku sudah punya niat mau ke pasar dulu beli retsleting buat baju yang sedang kujahit, akhirnya aku mampir dulu ke pasar. Pikirku tak kan lama di pasarnya. Lagi pula suami ga ngasih tau ada apa sebenarnya. Setelah barang yang kucari ada,  langsung kubeli. Aku pun langsung pulang.

   Di persimpangan jalan yang menuju ke arah rumah, aku berpapasan dengan suamiku yang ada di mobil temannya. Ia langsung turun dari mobil dan langsung mengambil alih kemudi motorku. Membonceng aku dan anakku. Aku mulai curiga ada apa ini,  dia malah menenangkanku. Aku semakin deg degan. Jarak dari pinggir jalan raya dengan rumah adikku paling 50 meter.  Begitu sampai di rumah adik, aku heran sudah banyak orang di sana. Suami membopong aku memasuki rumah. Begitu tiba di ruang tengah kulihat tubuh yang terbujur kaku. Ibuku yang sedang menangis di hadapan jenazah adekku berteriak.

   “Neng,  maafkan adekmu!” Kata ibu sambil terisak.

   Di hadapan jenazah tampak sang kiyai, guru ngajiku terdiam saja melihat aku yang baru datang. Beliau juga masih belum percaya kalau adekku sudah tiada. Ingin rasanya aku memeluk tubuh yang terbujur itu. Tapi aku masih sadar takut air mataku menetes membasahi jenazah. Aku hanya bisa menangis sambil memegang kakinya yang dingin. Istri dan kedua anaknya yang masih kecil menangis di kamar. Beberapa saat aku terpaku di hadapan tubuh yang terbujur kaku. Aku belum percaya kalau dia sudah tiada. Aku melihat dia seperti sedang tidur tenang. Bagaimana pun aku belum percaya kalau dia sudah dipanggil. Baru sekitar dua hari sebelumnya dia datang ke rumah. Berkunjung dan bercerita. Tak sedikit pun aku mendengar kalau dia sakit. Aku memang jarang ketemu dia karena kesibukkanku. Biasanya dia selalu datang ke rumahku karena rumah kami memang tak begitu jauh jaraknya. Ternyata hari itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Aku dan dia tak bisa lagi saling bercerita dan berkeluh kesah.

Menurut cerita ibu, pagi-pagi dia masih sempet berkunjung ke rumah ibu. Ditawari makan dan ngopi. Bahkan dia sempet mengantar jenazah tetangga di kampung sebelah ke pemakaman. Tak disangka dia ternyata harus ikut juga. Awalnya, ibu yang sedang di rumah dipanggil oleh tetangga bahwa anaknya itu ada di puskesmas dan dengan suara yang ga beraturan dia mengabarkan bahwa adekku sudah tiada. Ibu masih belum mengerti dengan berita itu karena pagi-pagi dia masih sempat ketemu anaknya. Dia pun setengah berlari menuju rumah anaknya. 

    Setelah agak tenang, aku bangkit dan kudekati anak-anaknya. Tangisku pun kembali memecah. Kesedihanku muncul lagi melihat kedua anaknya yang masih kecil harus menjadi yatim. Kuusap kepalanya sambil berkata “Kalian tak perlu sedih, ada Wawa yang akan mengurus kalian”. Air mataku tak berhenti berlinang.

    Semua orang masih belum percaya dengan takdir ini. Petugas yang biasa memandikan jenazah pun belum berani memandikannya karena tubuhnya katanya berkeringat. Bahkan ustadz sendiri menyuruh menunggunya berharap ada suatu keajaiban kalau-kalau dia itu mati suri. Atas anjuran dari petugas puskesmas ditunggu saja sampai 3 jam. Tetapi pamanku, adik Ibuku malah membentak.

    “Ini mau bagaimana? Kasian jenazahnya”.  Katanya sepertinya ia ingin melihat adikku buru-buru dikubur. Memang biasanya kalau ada yang meninggal kami tak pernah berlama-lama membiarkan jenazah tak diurus.

     Namun kami masih penasaran, karena kematiannya begitu mendadak. Waktu kejadian itu adikku sedang melihat temannya memperbaiki mobilnya. Tiba-tiba dia terjatuh dan langsung tak ingat lagi. Kemudian dibawa ke puskesmas. Namun petugas puskesmas menyatakan bahwa dia sudah meninggal. Pernyataannya itu tanpa pemeriksaan apa pun hanya dipegang denyut nadinya. Makanya agar tak penasaran lagi meski aku tak sempat ganti baju, ku bawa saja jenazahnya ke rumah sakit agar bisa diperiksa lebih detail. Hasil pemeriksaan dengan alatpun menyatakan sudah tidak ada tanda kehidupan. Menurut dokter penyebab kematiannya kemungkinan sakit jantung. Saya tidak tahu karena selama ini tak pernah ia didiagnosa punya sakit jantung. Hilanglah kepenasaranku setelah pemeriksaan rumah sakit. Aku menyuruh sopir ambulan yang kusewa dari puskesmas untuk pulang lebih dulu membawa jenazah agar jenazah segera diurus. Sedangkan aku dan suami mengurus administrasi dulu di rumah sakit. Aku pun mesti mengikhlaskan kepergian adikku untuk selamanya.

Ketika sampai rumah aku tak sempat ikut memandikan jenazah karena sudah selesai. Adikku yang bungsu baru tiba dari Bandung bersama anak istrinya ketika Jenazah sedang dikapani. Ia hanya terduduk lemas melihat jenazah kakaknya. Dia seolah tak percaya kepergian kakaknya yang begitu mendadak.

    “Emang si Aa sakit apa?” Pertanyaan yang hampir semua orang tak tahu jawabannya. 

    Semua yang terjadi adalah takdir Tuhan. Manusia tidak ada yang tahu. Kapan pun jika Tuhan menghendaki kita pasti akan meninggal. Mati tak harus tua. Seperti adikku yang meninggal di usia 38 tahun. Selamat jalan adikku semoga tenang di sisi-Nya dan mendapat maghfiroh. aamiin.

foto: koleksi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.