Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi 5. Teknik Mengobati Racun

Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi
5. Teknik Mengobati Racun

“Umi!”
“Abah!”
“Assalamualaikum!”

Suara panggilan diiringi salam berulang-ulang terdengar sangat kencang dan keras dari luar pintu pagar rumah. Belum cukup, suara pagar yang diguncang terus-menerus melengkapi kebisingan malam itu. Sesuatu yang tidak lumrah, membuat pengisi rumah menjadi panik dan sedikit terdengar ribut. Kaget dan bingung.

Umi dan Abah sudah siap-siap menuju peraduan. Malam sudah larut. Ketika mendengar sedikit keributan di luar sana, Abah dan Umi saling berpandangan. Abah segera membuka tirai jendela. Dilihatnya ada seseorang yang tidak jelas wajahnya sedang berdiri di luar pagar.

Abah segera keluar. Tak lama Umi pun menyusul. Ternyata, di beranda rumah anak-anak sudah berkumpul. Mereka pun seperti halnya Abah dan Umi, kaget mendengar panggilan yang cukup kencang. Abah melihat Rahman dan Gustaf sudah berdiri di depan pagar dan berbincang dengan orang itu.

Abah mendekati ketiganya. Ternyata orang yang memanggil itu Pak Firman. Pak Firman adalah orang kepercayaannya Pak Lurah Samsudin. Dengan suara yang tercekat dibarengi rasa ketakutan yang terlihat di wajahnya.

“Bah, maaf malam-malam bikin ribut. Saya di suruh Ibu Laila ke sini. I-itu, Ba-Bapak … Bapak pingsan! Sebelumnya mual dan muntah, dan diare terus. Lalu pusing dan demam. Kata Ibu, Bapak keracunan makanan yang di bawanya dari kota,” suara Pak Firman terengah-engah.

Abah mengerti. Lalu Beliau menenangkan dan menyuruh Pak Firman untuk menunggu. Abah masuk ke dalam diringi oleh Rahman dan Gustaf. Umi Salamah menunggu di teras rumah dengan anak-anak.

“Umi, tolong siapkan alat bekam. Semuanya, Mi! Jangan ada yang ketinggalan. Rahman dan Gustaf ikut Abah!” titah Abah sambil mengambil baju luaran yang tergantung. “Kalian anak-anak, jangan ada yang keluar! Temani Umi di rumah saja,” lanjut Abah.

Umi segera menyiapkan peralatan bekam milik Abah. Rahman dan Gustaf pun segera bersiap. Setelah alat bekam sudah ada, Abah, Rahman, dan Gustaf segera keluar. Pak Firman menunggu dengan wajah tegang.

“Abah, Rayhan ikut, ya!” Tiba-tiba Rayhan, anak yatim kelas dua Aliyah menerobos dari dalam rumah.

Abah memandang remaja itu. Kemudian beliau mengangguk. Rayhan mengusap wajahnya. Senang. Umi dan Nasita mengekor mereka dari belakang. Hendak mengunci pintu pagar.

Tak lama kemudian, rombongan Abah sudah ada dalam mobil yang dibawa Pak Firman. Mereka menghilang dalam kegelapan malam.

******
Sepuluh menit berlalu, mereka sudah sampai di sebuah rumah yang cukup bagus dan besar. Rumah milik Lurah Kampung Darmasatya. Abah segera menuju kamar dimana Pak Samsudin terbaring. Rupanya, bukan hanya Pak Samsudin yang kena racun, anak sulungnya, Ridwan, ikut kena juga.

Dengan cekatan Abah memeriksa Pak Samsudin dan Ridwan. Mereka sudah sadar. Abah meminta keduanya untuk memuntahkan isi perutnya kembali sampai benar-benar kosong. Kemudian, Abah meminta Pak Firman untuk mencari buah kelapa muda. Dengan dibantu oleh Rahman dan Rayhan, Pak Firman segera mencarinya.

Bu Laila menangis dari tadi. Ditemani oleh putri bungsunya, Mutia. Pak Samsudin dan Ridwan kelihatan sudah sangat payah. Untunglah, Pak Firman segera datang dengan dua buah kelapa ditangannya.

Abah lalu meminta Pak Samsudin dan Ridwan meminum dulu buah kelapa itu.

Setelah keduanya sudah mulai enak dan tidak ada lagi keluhan, Abah langsung melakukan bekam.

Bekam adalah satu cara Tibbun Nabawi yang sangat efektif mengeluarkan racun dan zat yang berbahaya yang sudah bercampur dengan darah di lapisan kulit.

Abah membekam Pak Samsudin dan Ridwan seperti yang di sunah Nabi, yaitu pada punggung bagian atas. Bagian itu merupakan bagian yang paling dekat dengan jantung sehingga unsur racun keluar bersama darah meskipun tidak keluar secara keseluruhan.

Satu hal yang cukup beruntung dan merupakan pertolongan Allah juga, Kampung Darmasatya saat ini kondisinya musim penghujan dan daerahnya dingin. Sebab, jika ada yang keracunan di daerah bercuaca panas dan kemarau, kekuatan racun akan mengalir cepat menuju darah, menjalar ke urat dan nadi hingga jantung.

Jika itu terjadi, kematian siap menunggu karena darah merupakan menghantar racun ke jantung dan seluruh tubuh.

Alhamdulillah, Pak Samsudin dan Ridwan sudah membaik. Namun masih harus tetap menjaga asupan makanan dan gizinya agar kondisi kembali sehat. Tak lupa juga, Abah memberikan habatussauda untuk dikonsumsi keduanya secara rutin.

Pak Samsudin sangat berterima kasih. Beliau berjanji akan menemui Abah esok lusa jika badannya sudah betul-betul pulih.

*****

“Bah, tadi sebelum dibekam, Pak Samsudin di beri air kelapa untuk apa?” tanya Gustaf ketika mereka sudah sampai di rumah.

“Oh, itu. Pertolongan pertama untuk orang yang keracunan. Kalau ada obat dari dokter, itu lebih bagus. Berhubung tidak ada, ya pakai air kelapa dulu.” terang Abah.

“Selain itu, bahaya diare yang muncul akibat efek keracunan makanan dapat menyebabkan dehidrasi parah jika tidak cepat-cepat ditangani. Minum air putih memang dapat membantu mengembalikan cairan tubuh, tapi air putih saja kadang tidak cukup untuk mengembalikan elektrolit yang hilang akibat diare. Nah, air kelapa solusinya.”

“Dalam air kelapa mengandung jumlah elektrolit yang lebih banyak daripada air putih sehingga dapat mempercepat pemulihan diarenya. Selain itu, berbagai kandungan zat dalam air kelapa dapat membantu proses detoksifikasi untuk membuang racun dalam saluran pencernaan makanan akibat keracunan makanan.”

“Terlebih, rasa manis alami dari air kelapa dapat membantu meningkatkan energi tubuh yang lemas sekaligus menghilangkan sensasi mual dan muntah akibat diare, dehidrasi, dan berbagai efek keracunan makanan lainnya.”

“Kalau bekam gimana, Bah?” tanya Rahman.

“Bekam itu ada dalam hadis.
Dari Said bin Jubair RA dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Kesembuhan bisa diperoleh dengan tiga cara: minum madu, sayatan pisau bekam, dan sundutan besi panas, dan aku melarang umatku (menggunakan) pengobatan dengan besi panas” (HR. Al-Bukhari)

“Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya cara pengobatan paling ideal yang kalian pergunakan adalah hijamah (bekam).”(Muttafaq ‘alaihi)

Rahman, Gustaf, dan Rayhan malam itu mendapatkan ilmu pengetahuan mengenai bekam, tibbun nabawi yang begitu banyak manfaatnya untuk kehidupan manusia.

Referensi:
– Google berbagai jurnal Islam dan kesehatan
– Alquran Cordoba – Amazing
– Ibnul Qayyim Aljauziyyah, Zadu’l Ma’adi fi Hadyi Khayri’l Ibadi, Juz 4 t.t :121-123)

Sabtu, 09 Mei 2020

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.