Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi 6. Khasiat Kain Sutra

Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi

6. Khasiat Kain Sutra

Hari ini Abah dan Umi mempunyai niat untuk bersilaturahmi ke rumah sahabat Abah yang berada di kota. Pagi-pagi sekali, Abah dan Umi sudah bersiap-siap. Karena dari tempat tinggal Abah ke kota cukup jauh dan membutuhkan waktu yang lama.

Anak-anak yang ikut ke kota ada tiga orang. Aisyah, Sarah, dan si kecil Ibrahim. Mereka mendapatkan giliran minggu ini untuk mendampingi Umi dan Abah bepergian. Gustaf yang membawa mobil milik Abah.

Sementara anak-anak yang lain, mengerjakan tugasnya masing-masing dan diingatkan oleh Abah agar tetap menjaga tilawah alqurannya.
Mak Isah dan Bi Nina, diminta Umi memasak pindang ikan patin untuk sore nanti. Rahman membantu Mang Yana membawa karung berisi gabah ke pabrik beras milik Haji Syukur untuk digiling.

Selama perjalanan, mereka melewati beberapa kampung tetangga dan sungai Cirangkas yang airnya masih jernih dan banyak ikan. Banyak bebatuan hitam dengan ukuran besar berada di tengah-tengah aliran sungai yang cukup deras.

Satu hal yang patut disyukuri, dengan adanya Sungai Cirangkas, membantu para petani mengairi sawah dan ladangnya. Kampung-kampung yang dilewati aliran sungai ini tidak pernah kekurangan air.

*****

Setelah dua jam perjalanan, sampailah mereka di kota. Terasa sekali bedanya antara kampung tempat mereka tinggal dengan kota yang sekarang mereka datangi. Anak-anak begitu terpukau. Umi dan Abah tersenyum melihatnya. Begitu juga dengan Gustaf. Bukan hal yang aneh buat pemuda ini. Dia lahir dan besar di kota besar yang sangat ramai dan sibuk.

Tak lama kemudian mereka sudah ada di depan sebuah rumah besar dengan desain Mediterania yang cantik dan mewah. Abah dan rombongan diterima dengan baik oleh si pemilik rumah. Seorang laki-laki seumuran Abah dengan paras Timur Tengah. Namanya Pak Jamal Halil dan istrinya Bu Azizah.

Abah sangat bahagia bertemu dengan sahabatnya itu. Begitu juga Pak Jamal dan istrinya. Mereka sudah mempersiapkan penyambutan untuk keluarga Abah. Beberapa orang pembantunya terlihat hilir mudik membawa jamuan berbagai makanan untuk tamu istimewa.

Mereka dijamu dengan makanan khas negeri Tengah. Ada kurma, kismis, samboosa, maamoul, baklava, bahkan untuk makanan berat pun sudah disediakan. Nasi kebuli kambing.

Abah melihat banyak tumpukan lembaran kain di selasar ruang tamu.

“Wan, ini banyak kain sutra buat apa?” tanya Abah. Wan Jamal, panggilan Abah terhadap Pak Jamal sedari dulu zaman kuliah di Mesir.

“Gini, Ji. Kain sutra ini ada pesanan dari orang. Katanya butuh banyak. Sekalian ane beli buat isi toko kain si Syarifah yang di Jakarta. Ane ambil dari Wajo, Sulawesi Selatan. Ke depannya mungkin ane mau ambil kain sutra dari dari Cianjur. Katanya ada juga di sana. Lebih dekat lagi.”

“Bah, kain sutra itu buat apa?” tiba-tiba Aisyah bertanya. Gadis kecil itu menyimak obrolan Abah dan Wan Jamal.

Sementara Umi, Ibrahim, dan Sarah ada di belakang dengan Umi Azizah, istri Wan Jamal.

“Tuh tanyain sama Abah Jamal, coba Aisyah berani engga?” titah Abah.

Aisyah menoleh ke Wan Jamal. Mata polosnya menatap ragu dan sedikit takut. Perlahan dia mendekati Gustaf meminta dukungan. Wan Jamal tersenyum. Aisyah tersipu.

“Sini anak cantik, Abah Jamal jelasin ya! Ada orang yang butuh kain buat pengobatan. Mau dibuat semacam mantel,” kata Abah Jamal tersenyum.

“Coba Abah Jamal mau tanya, kain sutra bahan asalnya dari apa? Kalau Aisyah betul jawabannya, Abah kasih hadiah deh!” pancing Wan Jamal.

Aisyah menatap Abah Abdul dan Gustaf bergantian. Gustaf mengacungkan jempol dan Abah mengangguk. Mendukung Aisyah.

“Hhmmm … dari kokon atau kepompong ulat sutra.”

“Waah … Aisyah pintar ya! Nah, sekarang Abah Jamal mau tanya lagi. Makanan ulat sutra itu apa?”

“Daun murbei.”

Wan Jamal berdecak kagum. Segera dia berdiri dan masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, beliau keluar membawa sesuatu. Lalu diberikannya kepada Aisyah.

“Hadiah buat anak pintar yang udah menjawab benar pertanyaan Abah.”

Netra Aisyah berbinar-binar. Hadiah dari Abah Jamal membuat dia senang. Satu kantong besar isi cokelat kurma dibungkus kertas berwarna warni yang dikemas cantik. Aisyah pernah memakannya satu. Itu juga diberi oleh teman sekolah yang bapaknya baru pulang Umroh.

“Terima kasih banyak, Abah Jamal.”

Aisyah lalu berlari menuju Umi yang masih di belakang. Rencananya mau memberi cokelat untuk Kak Sarah dan Ibrahim.

“Bah, kain sutra buat pengobatan. Bagaimana caranya?” tanya Gustaf kepada Wan Jamal.

“Begini … dalam Islam, kita mengenal adanya Tibbun Nabawi. Dalam pengobatan ala Nabi, ada solusi untuk permasalahan kulit eksim, gatal, dan berkutu. Baik itu di bagian tubuh, rambut, dan jenggot. Untuk yang memiliki masalah itu semua nubuwahnya dengan cara memakai pakaian dari bahan sutra asli.

“Bukannya sutra haram untuk kaum laki-laki, Bah?” tanya Gustaf lagi.

“Begini, dari segi fikih memang ada ketetapan memperbolehkan untuk wanita dan mengharamkan untuk laki-laki, tapi dari segi pengobatan sutra diperbolehkan dipakai kaum laki-laki jika ada uzur darurat sebagai solusi dan jalan keluarnya.” kata Abah Abdul.

Abah Jamal menambahkan. “Selain itu, ada kebutuhan mendesak bisa berupa hawa dingin yang menusuk tulang, sementara tidak ada kain selain itu atau tidak ada mantel selain dari mantel yang terbuat dari sutra. Atau … boleh juga digunakan karena ada penyakit kudis, gatal di kulit, dan banyaknya kutu di badan atau rambut.”

“Kaitannya dengan pengobatan, kain sutra itu ‘kan mengandung obat yang berasal dari ulat sutra. Jadi kain sutra dikategorikan sebagai obat hewani. Bahkan, manfaatnya lebih itu, sutra bisa menguatkan jantung.”

“Kain sutra itu menghangatkan tapi tidak memanaskan dan sebagai peyeimbang suhu tubuh. Sutra adalah jenis kain yang tidak kering dan tidak kasar.”

“Kamu tahu, Gustaf ?Kenapa kain sutra bermanfaat untuk kulit? Karena kandungan kepompong sutra mengandung serat protein yang bermanfaat untuk meremajakan kulit. Selain itu, mengandung zat anti bakteri yang bermanfaat untuk melindungi kulit.

“Adalagi nih, menurut salah satu ahli kecantikan, scrub pada kepompong bermanfaat menghaluskan, mencerahkan, flek hitam dan komedo pada kulit wajah. Makanya, wajar jika kain sutra atau kepompong ulat sutra mahal di pasaran.” Pungkas Abah Jamal.

Gustaf mengangguk.

****
Menurut Ar-Razy, kain sutra lebih hangat dari bahan kain rami dan lebih dingin dari kain katun.

Medical Hadis :
Dari Anas bin Malik Ra, ia berkata, ” Rasulullohu memberi keringanan hukum bagi Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair bin Al-Awwam dalam mengenakan kain sutra karena alasan sakit gata yang diderita keduanya”
(HR Bukhori dan Muslim)

*****
Sore hari, Abah dan Umi berpamitan. Abah Jamal membekali Abah dan Umi dua helai kain sutra yang sangat indah. Selain itu, mereka di beri juga banyak madu, habatussauda, minyak zaitun, dan beberapa jenis makanan yang baru aja datang dari Madinah.

Referensi :
– Alquran Cordoba – Amazing
(Ibnul Qayyim Aljauziyyah, Zadu’l Ma’adi fi Hadyi Khayri’l Ibadi, Juz 4 t.t. :76-81)
– Google berbagai jurnal islam dan kesehatan

Ahad, 10 Mei 2020

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.