TRADISI “MALEMAN NGIDANG” DI BULAN RAMADHAN PADA MASYARAKAT BEKASI

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan  adalah sebuah kewajiban bagi umat muslim diseluruh dunia. Pada masyarakat Bekasi yang mayoritas dikenal sebagai orang Betawi karena beririsan dengan wilayah Jabodetabek boleh dibilang keluarga serumpun. Oleh karena itu memiliki banyak kesamaan adat dan tradisi. Khususnya di Bekasi ada sebuah adat tradisi atau budaya unik yang dilakukan masyarakat menjelang malam-malam ganjil di bulan ramadhan. Selain malam-malam ganjil diyakini sebagai malam dimana diturunkannya Wahyu Al’Quran, kaum muslim juga menyambut datangnya malam Lailatul Qodar. Pada malam malam ganjil tersebut umat muslim biasanya melakukan itikab di mesjid sambil mengaji membaca Al Quran. Dimalam ganjil mulai tanggal 21 Ramadhan, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan adalah malam yang ditunggu untuk dapat berjumpa dengan malam Lailatul Qodar, malam yang labih baik dari seribu bulan.

Ada tradisi unik dalam rangka menyambut malam malam ganjil tersebut dilakukan oleh masyarakat disetiap kampung di Bekasi. Masing- masing kampung memiliki malam ganjil tertentu untuk melakukan tradisi “ngidang atau maleman”. Ngidang atau maleman merupakan tradisi membawa kue-kue, minuman dan makanan ringan oleh masyarakat secara sukarela dihantar ke mesjid dan mushola. Kue yang terkumpul dikelola oleh pengurus mushola atau mesjid untuk dihidangkan setelah sholat isya dan taraweh selesai dilakukan. Maleman atau ngidang merupakan tradisi yang diisi oleh pengajian, tahlil, ceramah agama singkat yang dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat atau ustadz. Maleman atau ngidang merupakan acara yang sangat ditunggu tunggu oleh anak anak, karena pada acara itu mereka dapat menikmati makanan dan minuman secara gratis dan bersama-sama.

Ngidang atau maleman tiap kampung berbeda waktu dan tanggalnya. Misalnya saja, masyarakat Pondok Melati melakukan ngidang pada malam tanggal 21 Ramadhan. Penganan yang biasa masyarakat hidangkan meliputi kue pisang aduk, kue unti, lepet, minuman teh, sirop dan kopi. Pada masyarakat Bojong Sari Jatisari juga melakukan maleman tanggal 21 ramadhan. Namun ada perbedaan pada jenis kue yang dihidangkan, misalnya kue cucur, kue cincin,kue unti dan ketupat. Malam ke 23 ramadhan di kampung Rawa Bogo juga dilakukan di mushola atau mesjid. Penganan yang biasa dihidangkan misalnya kue bugis,kue unti, rengginang, akar kelapa dan lain lain. Sedangkan pada masyarakat kampung Pedurenan ngidang dilaksanakan pada malam 25 ramadhan. Hidangan yang dihantar ke mushola misalnya kue pisang aduk, lepet, kue akar kelapa, geplak, dodol, wajik dan lainnya. malam ke 27 dan 29 ramadhan juga dilakukan oleh masyarakat kampung lainnya di Bekasi dengan hidangan yang tidak jauh berbeda.

Dijaman serba canggih dan kemajuan iptek yang luar biasa rupanya tradisi ngidang dan maleman perlahan tergeser. Masyarakat Bekasi, terutama kaum muda, setelah makin berkurangnnya orangtua, sebagai tokoh yang memegang adat tradisi meninggal, kaum milenial kehilangan obor kebudayaan. Tradisi ngidang atau maleman yang memiliki nilai moral sangat tinggi, silaturahim, kekeluargaan, gotong royong dan nilai religi makin terkikis oleh kemajuan jaman. Sehingga boleh dibilang kemajuan teknologi menggeser peradaban yang memiliki nilai sangat tinggi tersebut, maka sebagai generasi muda, kaum milenial sudah seharusnya kembali menengok jatidiri nenek moyang, para leluhur dan tokoh-tokoh adat masyarakat Bekasi. Sangat sulit dilakukan. Namun bukan berarti tidak dapat mengembalikan kemasyhuran tradisi tersebut. Tugas budayawan adalah mengembalikan dan terus memelihara, merawat, menjaga, melestarikan dan mengembangkan kultur tradisi yang makin hilang tersebut.

Berharap kedepan, kemajuan teknologi akan meninggikan peradaban, bukan justru kemajuan teknologi menghancurkan peradaban seperti yang kita rasakan sekarang ini. Teknologi mengebiri keraifan lokal. Gadget menggantikan budaya santun, tegur sapa personal nyata menjadi tegur sapa digital dunia maya. Siapa yang harus disalahkan? Tentu saja manusia yang harus pandai mengekploitasi peradaban dan kemajuan tersebut,

Majayus Irone/Budayawan/Rumahmediagrup.com/Artikel Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.