Cinta di Hati Rima – Bagian 4

Cinta di Hati Rima – Bagian 4

Tiga bulan sudah aku dan Bang Drey intens berkomunikasi. Jarak antara Subang-Jakarta bukan halangan bagi kami. Sudah dua kali setelah pertemuan itu Bang Drey ditemani Mas Aksa ke rumah. Namun Mas Aksa hanya mengantarkan saja. Selebihnya Mas Aksa beristirahat di rumah Bu Ranti. Baru ketika kembali ke Jakarta Bang Drey menjemputnya. Sepertinya dia sengaja meninggalkan kami agar aku dan Bang Drey lebih saling mengenal.

Selain pertemuan itu, aku dan Bang Drey hanya terhubung via telekomunikasi. Cukup dengan telepon dan sms kala itu sudah mewakili kebersamaan. Apalagi pekerjaan Bang Drey sering keluar kota terjun langsung mengecek kualitas kopi yang akan di ekspornya. Dari dia aku mulai mengenal berbagai macam jenis kopi Indonesia yang ternyata sangat digemari di luar negeri. Kopi robusta dan arabika. Apalagi setelah kopi luwak mulai dikenal.

Sejauh itu kami masih masih penjajakan. Mulai ada sedikit pembicaraan yang hangat menuju hal yang serius. Terus terang saja aku mulai nyaman dengannya. Lambat laun ada perasaan lain dalam kebersamaan ini. Kami saling menyamakan visi dan misi kehidupan di masa yang akan datang.

Perbedaan budaya memang cukup sedikit banyak mempengaruhi pola pembicaraan aku dan dia. Dia tipikal orang yang berbicara apa adanya dan tegas. Cerdas juga. Berbeda denganku yang banyak menahan diri untuk berbicara banyak. Cenderung hati-hati agar tidak seperti perempuan yang agresif.

Aku … menyukai laki-laki Bugis-Jawa itu.

Hingga suatu hari Bang Drey mengajakku ke daerah Lembang. Tempat yang sejuk dan indah. Aku suka sekali tempat ini. Dia bilang ada yang ingin dibicarakan. Ini pertemuan ke empat di bulan ke lima semenjak pertemuan.

Kami memilih sebuah restoran dengan latar pegunungan dan hamparan perkebunan sayuran. Pemandangannya dari tempat duduk kami begitu indah. Bang Drey sengaja memilih meja makan tipe lesehan dengan jendela yang langsung menghadap barisan bukit di kaki gunung dan sedikit lebih ke dalam posisinya dari pintu utama.

Hhmm … suasana romantis dengan alunan kecapi dan suling musik sunda.

“Dek, hhmm … Abang rasa, waktunya kita serius. Abang sudah tahu siapa Dek Rima dan bagaimana keluarga disini. Terus terang, Abang juga jatuh cinta sama kamu, Dek! Maukah menikah dengan abang secepatnya?”

Hah … menikah secepatnya?

Mata elang itu menghujam langsung jantungku. Netranya mengunci pandangan tanpa ada kesempatan untukku berpaling sekejap. Makanan yang aku santap pun sepertinya tidak sanggup masuk ke mulutku.

Balon-balon cinta di hati mulai meletus satu persatu. Aliran darah sepertinya mengalir deras. Wajahku tersipu malu dan tentunya menghangat.

Ingin rasanya aku teriak mengiyakan tapi malu. Ingin pula kepala ini mengangguk cepat tapi kok rasanya gengsi. Aku harus jaga image sebagai perempuan.

Ahaa Rima … mau tapi gengsi!

“Bagaimana, Dek? Maaf Abang tidak bisa romantis seperti anak muda. Saya engga mau muluk-muluk tanpa bukti. Umur sudah cukup. Tahun ini batas terakhir yang Umi kasih ke Abang. Kalau tidak bisa mencari jodoh sendiri nanti Umi yang akan mencarikan”

Tegas dan mengenai sasaran.

Seperti anak panah yang langsung meluncurkan dari busurnya. Cepat dan menembus titik hitam tujuan.

Tidak ada romantisme seperti di film-film yang aku tonton. Tidak ada bunga atau laki-laki yang berlutut dengan satu kaki ditekuk dan membuka kotak cincin seraya berkata, “maukah kau menikah denganku?”

Tapi .. aku suka seperti ini.

“Hhmmm … iya, Bang! Rima mau menikah dengan Bang Drey.”

Susah payah aku menjawabnya. Detak jantungku berlari kencang. Debaran hatiku rasanya tidak menentu. Ada yang membasah di sudut netra. Aku menagis bahagia.

Laki-laki itu telah menawarkan surga untukku.
Cintai aku karena Allah
Bukan karena nafsu semata
Sebab aku ingin dipilih karena akhlak
Bukan karena paras cantik yang kau lihat
Jika engkau ingin mengajakku ke surga
Genggamlah tanganku dengan erat
dan jangan kau lepas lagi
Setelah Allah menghalalkannya untukmu
-bersambung-
rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.