Meri Si Merak Yang Angkuh

Angin bertiup lembut menerpa bulu-bulu cantik pada sayap Meri si merak, padang rerumputan turut bergoyang riang menikmati tiupan lembut angin di siang hari. Sambil mengepak-ngepakkan sayapnya Meri berjalan dengan dada yang membusung. Meri sangat membanggakan kecantikan dan keindahan bulu-bulunya.

“Hei ! teman-teman lihatlah betapa indahnya bulu-buluku. Semakin indah dan mengkilat saat matahari mengenai buluku, lihatlah !” ujar Meri bangga sambil mengembangkan sayapnya.

“Meri, janganlah sombong ! setiap hewan mempunyai kelebihan dan kekurangan,” jawab si Ulo.

Ulo adalah jenis ular Leopeltis  salah satu jenis ular pemakan serangga dan biasanya hidup di pohon. Selama ini Meri dan Ulo hidup bertetangga, jika Ulo tinggal di atas pohon sementara Meri tinggal di rerumputan di bawah pohon.

“Kekurangan ? Aku gak punya kekurangan. Badanku bagus dibalut dengan bulu-bulu yang indah dan cantik. Bentuk kakiku juga kuat. Kalo kamu badanmu kecil, tak punya kaki pastinya kamu juga tak bisa berlari dengan cepat sepertiku,” ejek Meri ketus.

Ulo meninggalkan Meri dengan memanjat pohon lebih tinggi. Lebih baik aku menghindari si Meri karena celotehannya selalu menyakitkan hati, bathin Ulo.

Ulo memanjat bagian pohon paling atas, dari atas pohon ia dapat melihat lebih jauh. Tampak dari kejauhan ada manusia sambil membawa sesuatu, benda apakah itu ? pikir Ulo. Ulo mengamati mungkinkah itu pemburu sedang membawa senjata untuk berburu ? Aku harus segera turun dan memberitahu teman-teman jika ada pemburu menuju ke arah kita.

“Teman-teman, segera bersembunyi ada pemburu menuju ke arah kita !” teriak Ulo.

Namun rupanya pemburu sudah memasuki wilayah mereka. Ulo berpikir keras, bagaimana caranya mengusir pemburu dari padang rumput ini. Segera ia mengajak teman-teman ularnya untuk mengusir pemburu dengan cara ular-ular menjatuhkan dirinya tepat di tubuh para pemburu seketika para pemburu ketakutan dan berlari meninggalkan padang rumput tersebut.

“Terima kasih teman-teman berkat bantuan kalian padang rumput kita aman,” ucap Ulo.

Tak lama kemudian datanglah Meri mendekati Ulo saat Ulo akan memanjat pohon.

“Ulo maafin Aku ya, kalau kamu dan teman-temanmu tak mengusir pemburu pasti Aku sudah ditangkap dan mungkin ditembak dengan benda yang ada di tangan pemburu. Terima kasih,” suara Meri tersendat kepalanya tertunduk karena malu dengan apa yang telah ia lakukan selama ini pada Ulo.

“Tak ada yang sempurna, meski tubuhmu kecil Kamu begitu berani menghadapi para pemburu. Sekali lagi maafin Aku ya. Aku janji akan jadi teman yang baik,” lanjut Meri dengan suara lirih.

“Baiklah, kita berteman !” ujar Ulo dengan riang.

Ilustrasi Gambar : Karya Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.