Sang Bidadari (29)

Sang Bidadari (29)

Jika ada sesuatu yang membuat hati Naya terluka, itu bukan karena kecemburuannya terhadap Viona, tapi lebih terhadap sikap Aditya yang masih memperlakukan Viona seolah ia bukanlah istrinya.

Bagaimana pun juga, Viona berhak mendapatkan perlakuan yang sama dari Aditya, meski jika soal cinta, tak bisa dipaksakan untuk bisa tumbuh. Butuh waktu yang tak sebentar agar benih cinta itu bisa tertanam dalam hati Aditya untuk perempuan selain Naya.

Naya gelisah. Ditatapnya Aditya yang begitu asyik dengan layar laptop di depannya. Sudah sesaat lalu Naya menyuguhkan secangkir kopi untuk suaminya, tapi belum juga ia mengeluarkan sepatah kata pun.

Aditya melirik Naya sesaat. Tatapan mereka bertemu, tanpa suara. Aditya kembali asyik dengan laptopnya, sementara Naya memainkan jemarinya dengan gelisah.

“Adakah yang ingin kau katakan, sayang?” tanya Aditya akhirnya. Kedua netranya kini hanya fokus menatap Naya.

Naya salah tingkah. Ia hanya menggigit bibir bawahnya. Mencoba berpikir tentang apa yang ingin diucapkannya.

Aditya beringsut, menggeser posisi duduknya, mendekati Naya, lalu meraih kedua tangan yang masih saling meremas itu.

“Katakanlah jika ada yang ingin kau sampaikan padaku, apa pun itu, aku siap untuk mendengarnya, sayang,” ucap Aditya seraya menggenggam tangan istrinya erat.

“Maaf, jika perkataanku ini agak sedikit mengusik perasaanmu, Mas.”

Aditya mengerutkan kening. Mencoba menerka apa yang ada dalam pikiran Naya.

“Katakan saja.”

Naya mencoba menetralisir perasaannya saat ini. Berbalik menggenggam kedua tangan suaminya. Ini bukan pertama kalinya ia meminta sesuatu dari Aditya.

Namun terasa berat bagi Naya, mengatakan masalah Viona pada Aditya.

“Mas, aku tahu, kita telah banyak melewati berbagai ujian selama hidup berumah tangga, termasuk saat kehadiran Viona dalam pernikahan kita. Aku tak akan pernah bosan untuk terus meminta maaf padamu, karena sudah membawa Viona dalam pernikahan kita, meski aku tak pernah menyesal telah menghadirkannya.”

Naya mengentikan ucapannya. Belum sampai ia pada inti cerita, tapi ia sudah mulai merasa sedikit lega.

Aditya hanya menanggapi dengan tatapan yang meneduhkan. Ia tak berkata apa pun, memberi keleluasan pada Naya untuk menyelesaikan apa yang ingin diucapkannya.

“Meski pada awalnya, aku sering kali merasa cemburu pada Viona karena ia bisa menjadi perempuan yang sempurna, tapi kini aku sadar, Allah memberikan setiap kelebihan dan kekurangan pada hamba-Nya yang dikehendaki. Aku bisa lebih ikhlas menerima takdir-Nya kini.”

Kembali Naya menghentikan ucapannya. Ia embuskan napasnya perlahan,

“Namun akhir-akhir ini, ada yang sedikit mengganjal hatiku. Maaf, Mas, ini tentang perlakuanmu pada Viona.”

Aditya menautkan kedua alisnya. Mencoba berpikir tentang apa yang diucapkan Naya.

“Maksudmu?” tanya Aditya akhirnya tak mengerti.

“Aku tahu, kau belum bisa membuka hatimu untuk Viona. Walaupun ia telah memberikanmu seorang anak, tapi belum bisa merubah perasaanmu terhadapnya. Viona merasa, ia belum bisa menjadi istrimu sepenuhnya karena perlakuanmu itu. Bisakah kau lebih menerima Viona sebagai istrimu?”

Aditya menarik napas pelan, lalu membuangnya kasar.

“Terkadang aku berpikir, kenapa kau selalu peduli dengan perasaan Viona tanpa mempedulikan perasaanku? Aku merasa seperti aku melakukan kesalahan karena tak bisa menerima Viona sebagai istriku yang seutuhnya. Bisakah kau memahami itu, Sayang?”

“Perasaanmu?” tanya Naya mulai tak enak hati.

“Ya, tentu, perasaan suamimu. Pernahkah kau bertanya tentang perasaanku? Pernahkah kau bertanya bagaimana perasaanku saat kau memintaku untuk menikahi Viona? Pernahkah kau bertanya perasaanku saat aku tahu Viona hamil karena perbuatanku? Pernahkah kau bertanya saat Naura lahir dan diam-diam aku memperhatikanmu menangis, lalu keluar dari ruang perawatan? Pernahkah kau bertanya bagaimana perasaanku saat aku harus bersama Viona meski itu hanya untuk melihat putriku? Pernahkah kau bertanya bagaimana perasaanku saat itu, Sayang?”

Naya tak bisa membendung rasa yang sudah menyeruak keluar dari kedua netranya. Tetesan bening itu mulai mengembun dan mengaliri kedua pipinya. Ia menyadari tentang perasaan Aditya selama ini.

Ia memang tak pernah bertanya tentang perasaan suaminya itu. Ia seakan melupakan jika hati yang paling ia sakiti justru adalah suaminya sendiri. Bagaimana ia tak pernah menyadari itu selama ini? Bagaimana ia lalai dengan perasaan suaminya yang sudah ia bawa ke dalam kubangan luka yang tercipta kini?

Naya menangis tersedu seraya menundukkan kepalanya. Kini ia benar-benar menyadari semua itu.

“Aku tak pernah ingin melukai perasaanmu dengan kata-kataku ini, Sayang. Tapi, aku ingin kau sadar, jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain, sementara kau sudah melukai perasaanmu sendiri. Jangan sampai kau menemui puncak rasa sakitmu satu saat nanti. Karena jika hari itu tiba, aku takut akan kehilangan dirimu. Sementara kau tahu, kau adalah kebahagiaanku.”

Aditya meraih Naya dalam pelukan. Membiarkan perempuan yang dicintainya itu menumpahkan penyesalan di hati dengan puas. Matanya pun sudah basah. Ia mencoba menahan beban yang mulai kembali hadir dalam diri istrinya itu. Lagi-lagi, ia mengabaikan perasaannya sendiri.

Aditya tak ingin benar-benar menyakiti perasaan Naya. Justru ia ingin menyadarkan, bahwa apa yang diperbuat Naya itu terlalu berlebihan. Begitu mempedulikan perasaan orang lain, sementara tanpa disadari, perasaannya sendiri mulai terkoyak.

Naya adalah satu-satunya kebahagiaan Aditya. Tak pernah ingin kesedihan menguasai hati istrinya, walaupun ia tahu, Naya menyimpan rapat luka itu. Ia berusaha tegar di depan semua orang, ia mencoba ikhlas, merelakan semua yang terjadi, padahal hati itu begitu rapuh seperti dedaunan kering.

Aditya sudah bertahan selama ini, mencoba menutupi luka hatinya sendiri. Ia lebih peduli akan perasaan Naya. Tak ada yang lebih berharga selain melindungi perasaan perempuan yang berhati tulus itu.

Hanya saja ia mengkhawatirkan kondisi Naya. Perempuan itu pernah mengalami depresi saat semua masalah ia telan sendiri. Peringatan dokter akan keselamatan jiwa Naya, menjadi prioritas utama bagi Aditya untuk melindungi perasaan istrinya itu.

Bukan semata karena khawatir Naya mengalami kembali deperesi, tapi lebih pada rasa cintanya yang begitu dalam. Aditya tak bisa membayangkan jika ia melihat Naya menderita, apalagi sampai kehilangannya.

Dunia mungkin serasa kelam baginya jika itu semua terjadi. Bagi Aditya, Naya bukan hanya kebahagiaannya, akan tetapi cinta sejati dalam hidupnya.

Aditya mengelus kepala Naya dengan penuh kasih. Ia tahu, saat ini hati perempuan itu merasa rapuh. Ia pasti begitu dalam memikirkan perasaan suaminya yang selama ini ia abaikan.

“Maafkan aku, Sayang, telah membuatmu kembali merasa menyesali keputusanmu. Aku tidak ingin mengungkit masalah itu, aku hanya ingin kau memikirkan saja perasaanmu.”

Selama beberapa saat lamanya, Naya asyik melabuhkan diri dengan derai air mata dalam pelukan Aditya. Setelah merasa puas, Naya menarik diri, menghapus basah di kedua pipi, lalu menatap wajah suaminya.

“Aku sudah memaafkanmu sebelum kau memintanya,” gumam Aditya.

Naya tersenyum getir. Menatap lekat wajah suaminya, seolah ingin memastikan, ada luka yang mendalam juga di sana.

Tangan mereka saling menggenggam seakan ingin mengalirkan kekuatan. Naya mencium tangan Aditya takzim.

“Mulai sekarang, pikirkanlah kebahagiaanmu, Sayang. Jangan biarkan kesedihan datang dalam hatimu. Aku akan berusaha membuatmu selalu bahagia. Jadi, beri tahu aku jika kau merasa sedih dan terluka.”

Naya menatap kembali manik di mata Aditya, seraya mengukir sebuah senyuman di bibir. Ia merasa tersanjung dengan perlakuan suaminya. Rasa haru yang hadir mengisi relung jiwa, membuatnya kembali menitikkan air mata.

Aditya meraih pipi Naya, menghapus bulir bening itu. Ia mencium kening istrinya denga penuh cinta. Betapa ia sangat menyayangi Naya, hingga tak ingin air mata itu mengalir.

Jika Naya terluka, hatinya lebih merasakan sakit. Itulah mengapa ia tak ingin siapa pun melukai perasaan istrinya.

“Boleh aku kembali bertanya, Mas?” tanya Naya di sela keheningan.

Aditya mengangguk pelan.

“Jika aku bertanya tentang semua perasaan yang kau ucapkan tadi, maukah kau menjawabnya?”

Aditya terdiam sesaat. Meraih kembali tangan Naya, mengelus kedua tangan itu dengan lembut.

“Kau benar-benar ingin tahu perasaanku itu?” tanya Aditya meyakinkan Naya.

Naya mengangguk pasti. Ia telah siap mendengarkan jawaban Aditya.

“Bagiku, perasaanku tak lebih penting dari perasaanmu. Jika kau ingin tahu mengenai perasaanku, kau harus tahu satu hal, aku sangat terluka saat semua itu terjadi. Aku memikirkan bagaimana perasaanmu. Aku lebih merasakan sakit yang kau alami. Tak bisa menghapus kesedihanmu, membuatku semakin tak berarti menjadi suamimu.”

Naya menggeleng.

“Kau sudah lebih dari cukup menjadi suamiku selama ini. Bagiku, kau adalah suami yang sempurna. Dalam setiap doaku, aku hanya ingin hidup kembali bersamamu, tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat nanti.”

“Itu pula doaku, Sayang. Jadi, berbahagialah bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri. Jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain, sebelum kau benar-benar yakin, jika perasaanmu baik-baik saja. Tetaplah genggam tanganku, karena aku tak akan pernah melepaskannya, apa pun yang terjadi, hanya maut yang bisa memisahkan kita.”

Naya mengangguk bahagia. Menghambur dalam pelukan Aditya. Lelaki itu mengelus punggung istrinya dengan penuh rasa haru. Ia mencintai Naya, ingin selalu menyentuh hatinya, agar perempuan itu tahu, betapa ia mengasihi dengan sepenuh hati.

Naya tahu, Aditya begitu mencintainya. Ia berjanji dalam hati, akan selalu bahagia, agar suaminya juga bahagia. Bukankah sebuah hubungan itu harus saling memberi? Bukan kamuflase.

“Mas….”

“Hemm….”

“Bagaimana dengan Viona?”

“Aku akan lebih bersikap manis padanya. Terutama lebih menerimanya sebagai seorang istri. Semoga ia bisa memahami, jika butuh waktu untuk bisa menerima seseorang dengan penuh kerelaan.”

Naya tersenyum lega.

‘Semoga Allah memudahkan setiap urusan kita di dunia,’ bisik Naya dalam hati.

**

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.