Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi 7. Khasiat Talbinah

Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi

7. Khasiat Talbinah

Abah memandang anak-anak dari balik kaca jendela ruang tamu. Mereka tertawa gembira di depan teras sambil menikmati cemilan yang dikirim oleh Pak Samsudin tadi pagi.

Pak lurah datang secara pribadi ke rumah dan membawa bingkisan yang banyak sebagai tanda terima kasih karena Abah telah memberi pertolongan tempo hari. Sekarang beliau sudah kembali sehat.

Abah teringat ke masa tujuh tahun yang lalu, bagaimana mereka berdua bisa dikelilingi anak-anak yatim itu. Rumah yang asalnya sepi sekarang terasa begitu hangat dan semarak. Semula dua anak yang diurus sekarang bertambah banyak.

Abah dan Umi mengasuh lima belas anak yatim. Delapan anak laki-laki dan tujuh anak perempuan. Mereka tidak hanya berasal dari kampung Darmasatya saja, tapi ada yang berasal dari kampung lain. Bahkan Sarah dan Alya, dua gadis belia remaja, berasal dari kecamatan lain. Mereka anak-anak yang kurang beruntung tapi memiliki tekad kuat ingin sekolah dan mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Abah dan Umi merespon keinginan anak-anak dan ibu kandung serta keluarganya yang ikhlas menyerahkan pengasuhan kepada mereka berdua. Anak-anak itu diberi kehidupan dan pendidikan yang layak walaupun sederhana.

Anak-anak itu ada yang sekolah di madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Kebetulan ada sahabat Abah pemilik sebuah yayasan Islam yang siap menampung mereka dan tidak dipungut bayaran sepeser pun. Lokasi sekolahnya tidak jauh dari rumah Abah. Jadi anak-anak bisa pulang pergi dengan berjalan kaki.

Alhamdulillah, Allah memudahkan mereka yang mau menuntut ilmu dan bersusah payah mengejar impiannya. Mereka ingin menjadi anak-anak yang memiliki bekal ilmu agama yang kuat sebelum bertebaran di bumi Allah.

Untuk biaya hidup sehari-hari, Abah dan Umi mengandalkan hasil sawah dan kebun, juga peternakan ayam potong yang dikelola Mang Sanip. Abah juga berjualan obat-obatan herbal Tibbun Nabawi yang diambilnya dari distributor di kota. Selain itu, ada donatur tetap yang rutin mengiriman dana bulanan untuk kebutuhan anak-anak.

Alhamdulillah. Rezeki Allah Maha Luas.

*****

Tak berapa lama, Umi dan Mak Isah datang dari dapur. Mak Isah membawa nampan berisi panci besar berisi bubur yang masih panas. Lalu Mak Isah memasukan bubur itu ke mangkok-mangkok yang sudah disiapkan oleh Umi.

Umi lalu memanggil anak-anak. Mereka datang dan mengerubungi Mak Isah dan mencicipi bubur menu baru. Anak-anak terlihat menyukainya. Malahan, Adib minta tambahan porsi. Umi dan Abah tertawa melihatnya.

Untuk Rahman dan Gustaf, Mak Isah akan memasaknya nanti jika mereka sudah kembali dari balai desa. Tadi pagi Gustaf dan Rahman ikut Pak lurah ke sana. Ada urusan mengenai program buat anak-anak muda di kampung.

“Jangan lupa baca doa mau makan. Jangan ditiup juga. Dikipas-kipas saja atau bersabar sampai makanannya hangat, ” Umi mengingatkan anak-anak.

“Umi, ini bubur apa? Kok rasanya beda ya? Engga kayak biasa,” tanya Nasrul, kepala geng anak-anak. Nasrul si bijak paling tua usianya di antara yang lain.

“Itu namanya Bubur talbinah. Bahannya dikasih Abah Jamal tempo hari. Ayoo … duduk disini semua! Sambil nunggu buburnya dingin, Abah mau cerita mengenai talbinah ini,” kata Abah.

Anak-anak mematuhi perintah Abah. Anak perempuan duduk dekat Umi, sementara di dekat Abah anak laki-laki sudah bersila dengan rapi.

“Talbinah adalah sup atau bubur dari tepung gandum yang sangat halus sebagai makanan yang mencukupi. Seperti susu. Menurut Al-Harawy, dinamakan talbinah karena mirip susu, baik warnanya yang putih maupun kelembutannya.

“Jenis makanan ini sangat bermanfaat bagi orang yang sakit karena teksturnya yang tidak kasar. Keutamaannya juga sama seperti air gandum. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa talbinah itu air gandum sendiri. Bedanya, air gandum dimasak dengan seluruh biji dan juga kulitnya, sementara talbinah adalah tepungnya yang sudah dihaluskan.”

“Seringkali orang sakit nafsu makanya menurun, dan akhirnya menjadi sulit makan. Padahal orang sakit itu butuh asupan gizi yang cukup selama masa penyembuhan. Nah, bubur susu atau Talbinah dengan rasanya yang manis dan aromanya yang memikat tentu dapat menggugah nafsu makan orang yang sakit.”

“Jadi … talbinah itu bisa dijadikan makanan pemulihan kesehatan. Lebih gampang dicerna oleh perut orang sakit.”

Asal kalian tahu, adat kebiasaan masyarakat Arab zaman dulu berpengaruh pada pemanfaatan obat dan makanan. Kebiasaan mereka membuat bubur tepung/gandum dengan digiling dahulu, bukan bentuk aslinya (tidak digiling), hal ini lebih memberikan pengaruh dan lebih memberikan kenyamanan di perut.”

“Manfaatnya apa aja, Bah, selain untuk pemulihan kesehatan?” tanya Alya.

“Banyak,” jawab Abah. “Diantaranya: bagus untuk sakit maag, baik untuk orang yang sudah monopause, memelihara pencernaan, untuk sembelit, bahkan untuk diet juga. Selain itu, untuk pengendali kolesterol dalam darah, menurunkan tekanan darah karena sebagai penyeimbang air dan garam, dan juga meningkatkan imunitas tubuh.”

“Satu hal lagi manfaat talbinah. Dalam sebuah riwayat hadits, Talbinah disebut dapat membantu meringankan kondisi psikologis orang yang sedang bersedih.”

“Kenapa talbinah bisa membantu meringankan psikologis orang yang depresi?”

“Dalam talbinah mengandung Potasium, Magnesium, anti oksidan dan vitamin B, kekurangan zat-zat ini di dalam tubuh menyebabkan kekurangan mineral.

“Tahukah kalian? Para ilmuwan modern mengatakan bahwa penyakit-penyakit kejiwaan, depresi, dan sebagainya merupakan akibat kekurangan mineral tertentu.”

******

Medical Hadis:

Dari Aisyah RA, istri Rasulullah SAW bahwasanya apabila ada keluarga yang meninggal dunia, maka para wanita datang dan berkumpul di situ, kemudian baru mereka pulang kecuali keluarga dan teman dekatnya. Aisyah menyuruh disiapkan satu mangkuk bubur susu untuk dimasak. Setelah itu dibuatlah roti campur daging. Kemudian bubur susu itu dituangkan di atas roti daging tersebut.

Aisyah berkata, Makanlah ini, karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bubur susu atau Talbinah itu dapat melembutkan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian rasa sedih.” (HR Bukhari dan Muslim)

*****

Selesai Abah bercerita, bubur talbinah sudah hangat. Dan mereka menikmatinya bersama-sama.

Oh iya, dari tepung talbinah bisa dibuat berbagai jenis makanan. Bisa untuk bikin bolu, bubur, sup krim, kue kering, martabak, bolu kukus, puding. Tergantung selera.

Referensi :

– Alquran Cordoba – Amazing

(Ibnul Qayyim Aljauziyyah, Zadu’l Ma’adi fi Hadyi Khayri’l Ibadi, Juz 4 t.t. : 119-130)

– Google, berbagai jurnal islam mengenai kesehatan dan tibbun nabawi

Senin, 11 Mei 2020

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.