Kue Tanpa Rasa

Kue Tanpa Rasa

Saat itu Iduladha hari kedua. Banyak orang melakukan ibadah kurban. Aku dan isteri telah melaksanakannya di hari pertama di kantor. Kebetulan ada panitia di tempat kerjaku.

“Assalamualaikum, Pak. Ini daging,” seorang anak mengantarkan daging.

“Alaikum salam. Ini daging dari mana?” tanyaku.

“Dari Pak RT,” jawab anak itu.

“Oh. Terima kasih. Salam Pak RT, bapak nggak bantuin karena bukan panitia,” lanjutku.

Sementara itu sekantong daging kubawa ke dapur di mana isteriku sedang sibuk. “Ma, ini daging banyak sekali, mau dimasak apa?” tanyaku pada isteri.

“Alhamdulilah. Bikin sate aja, Pak. Nanti mama buatkan bumbunya,” jawabnya.

“Baiklah Mama persiapkan yang lainnya, papa mau cari arang dulu ke pasar,” kataku.

Saat Iduladha biasanya banyak warung yang mendadak menyediakan arang. Hari itu aku mencari hingga ke pasar karena beberapa warung telah habis menjual arangnya. Sulit menjumpai arang di hari-hari biasa. Khusus saat Iduladha banyak dijumpai karena banyak orang membuat sate di rumah.

Arang adalah kayu yang dibakar di dalam tanah. Susunan paling bawah, bahan-bahan yang mudah terbakar seperti kertas, daun kering dan ranting-ranting kayu yang kering. Susunan di atasnya, kayu basah bakal arang. Susunan berikutnya, dedaunan basah yang menutupi seluruh kayu basah tadi. Susunan terakhir, tanah yang membentuk seperti gunung. Kemudian susunan paling bawah, dibakar melalui celah yang telah disiapkan. Setelah api menyala, kemudian ditutup. Asap yang ke luar dari celah-celah tanah menunjukkan proses sedang terjadi. Menunggu sekitar beberapa hari hingga asap berhenti.

Kami asyik membuat sate. Tak terasa perut rasanya kenyang. Isteriku kurang suka daging kambing.

Malam hari aku tertidur nyenyak. Mungkin karena terlalu lelah membuat sate atau karena kekenyangan. Mati lampu pun, aku tak menyadarinya hingga kami terbangun. Aku dan isteri jalan meraba-raba menuju ke belakang.

Aku berjalan ke kamar mandi setelah itu duduk di ruang makan. Kuambil segelas air minum untuk menghilangkan dahaga. Mataku samar-samar melihat sesuatu di sebuah piring. “Kebetulan ni ada kue. Perut sedang lapar,” pikirku.

“Ma, kue apa ini? Kok, nggak ada rasanya,” tanyaku.

“Aduh, Papa. Itu arang kayu sisa membakar sate,” jawab isteriku, sambil kaget.

Sumber foto: https://images.app.goo.gl

Rumahmediagrup/saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.