Teleng

Mana ya fotonya? hmm, kubuka galeri mencari foto yang layak tuk dijadikan stiker whatsApp. Karena malam ini akan ada perang? hah, perang apa? pikirku. Eh ternyata perang stiker. ‘Tujuannya untuk hiburan aja sih biar nggak teleng.’ ucap sang Master. Padahal aku belum paham teleng itu apa ya? Kusempatkan nengok kamus sejenak. Oh teleng itu miring ke sebelah. Walah tujuannya biar kita tidak miring. Biar waras gitu yaa, hehehe.

Sangat perlu kita hiburan, hidup tak harus selalu serius. Agar tidak teleng. Sedikit lucu kata ini, tapi aneh bagiku. Eit jangan salah ternyata kata teleng sudah ada di KBBI lho. Aku saja yang sangat jangan mengucapkan kata itu malah tidak pernah, malah asing bagiku. Sehingga aku harus membuka kamus. Teleng, teleng ngomong-ngomong kata teleng disadur dari bahasa apa ya? Masih saja berputar-putar kata tersebut. Teleng, teleng oh teleng.

Eh, tiba-tiba saat kubuka file, teringat tulisan sisiwiku. Ya Allah sudah lama ini tulisan terpendam dalam ponselku. Aku berjanji akan kutulis di sebuah web Rumah Media Grup tepatnya. Ya ampun sudah bulan Mei, padahal ini tulisan dari bulan April. Kala memperingati hari Kartini ia menulisnya. Maafkan gurumu ini ya Nak. Terkadang memang usia tak pernah bohong. Biar dipoles dengan apapun, ya bila usia sudah berkepala empat mulailah rasa lupa dan ‘poho teh aya wae, cek urang sunda mah.

Inilah tulisan siswiku, Aisyah Nur’afni kelas X Akuntansi SMKIT Fitrah Hanniah. Sok atuh ditingali sareng dibaca heula.

Tokoh di balik kata “habis gelap terbitlah terang” adalah pahlawan wanita Indonesia, yaitu Raden Ajeng Kartini, dengan nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Ia lahir di Jepara, Jawa tengah pada tanggal 21 April 1879. Kartini merupakan keturunan ningrat. Hal ini dapat dilihat dari silsilah keluarganya dan adat istiadat yang begitu melekat padanya.

Kalimat ‘Habis gelap terbitlah terang’, mengungkapkan bahwa setiap manusia akan mengalami masa-masa sulit, tetapi juga akan merasakan masa-masa membahagiakan. Hal ini sejalan dengan ayat dalam surah Al-Insyirah yang berbunyi ‘Inna ma’al ‘Usri Yusro’ artinya sesungguhnya bersama kesusahan pasti ada kemudahan. Kalimat ini juga mengingatkan bahwa kita tidak perlu sedih dalam keadaan apapun yang kita alami, karena ‘Badai pasti berlalu’.

Jadi, ketika kita dilanda musibah, kesusahan ataupun kegagalan, maka tetaplah semangat apapun masalahnya dan jangan merasakan sedih yang berkelanjutan, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Hadapilah dengan ikhlas, sabar dan jangan mudah menyerah. Yakinkan dalam hati bahwa bersama kesusahan pasti ada kemudahan, badai pasti berlalu, jalan tak selalu berliku-liku dan habis gelap terbitlah terang.

Selamat hari kartini untuk perempuan-perempuan hebat Indonesia. 🌷🌷 #polsisfh #polisisiswa #dirumahaja #harikartini2020

Singkat sih tulisannya, tapi bagiku seorang siswa atau siswi sudah mampu menuangkan pikiranya. Kuanggap keren, sudah jarang melihat anak siswa dan siswiku menulis. Bahkan membaca buku saja, seperti buku fiksi atau nonfiksi, saat ditanya kapan terakhir kali kalian membaca buku atau novel? mereka katakan ada yang setahun lalu bahkan ada terakhir duduk di bangku SMP. Ya Allah, kurang sekali mereka untuk membaca. Mereka lebih asyik dengan gawai di tangannya.

Bukannya dengan ponsel juga bisa baca? ya baca siih, paling pesan singkat yang dibaca. Terutama baca whatsapp, iya kan? Namun bila tulisan itu panjang dan lebar pasti deh diskip iya kan, akhirnya tertinggal deh informasi. Padahal tak disadari bahwa membaca itu mampu mengurangi teleng. Eh kembali lagi ya dengan kata teleng.

Sebenarnya minat baca itu ada setiap insan, tak terlewatkan siswa dan siswiku. Terbukti mereka akan betah dengan gawainya, berjama-jam betah dengannya. Tak terkecuali denganku dan kamu, iya kan? Namun daya baca mereka yang kurang. Nah lho, muncul lagi pertanyaan apa itu minat baca? apa itu daya baca? hehehe … kapan-kapan mungkin dari pembaca bisa menjelaskan apa itu minat dan daya baca? Siapa tahu setelah membaca, kita tidak teleng. Lalu mau menulis deh, biar tidak teleng juga.

Mulailah menulis, biar nggak T-E-L-E-N-G. hahaha jaga ketelengan dengan menulis. Memang ada kata ketelengan? berpikir lagi.

Menulislah dari hati maka ia akan masuk ke dalam hati pula.

Wallahu alam bishoawab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.