Klinik Rasa Kantor Polisi

“Kenapa bu?” tanya asisten bidan. “Sakit, jawabku.”
“Sakit apa?” tanyanya lagi. “Batuk bu, balasku.”
“Hah, batuk?” Jawab asisten bidan sambil melongo dan mendongakkan kepala. Terlihat dari tatapan matanya berubah, alis sedikit mengernyit. Padahal hanya mendengar kata batuk loh. Bagaimana bila mendengar langsung bunyi batuknya ya? Bisa jadi langsung kabur, kayak di tiktok, tiktok gitu. hehehe

“Mari Bu, ditensi dulu. 120/80 ya Bu.” Ucap asisten bidan.
“Normal bu?” tanyaku. “Iya normal bu,” jawabnya lirih. “Tunggu dipanggil yaa.” Ujar asisten bidan sambil berlalu meninggalkanku. Aku mematung sambil berpikir, seseram itukah sakit batuk sekarang? iya sih seram, karena wabah covid -19 yang merebak.

Beberapa menit kemudian, datanglah Bu bidan, langsung masuk ruangan dan memakai APD plus maskernya.
“Ibu Suratmi!” Teriaknya.
Dengan tergesa-gesa kuhampiri ruangan pemeriksaan sambil mengajak suami ikut masuk ke dalam juga.

“Kenapa bu? Silakan duduk.” Dengan ramah bu Bidan menyambutku dengan sapaan yang hangat, penuh persahabatan. Aku dan suami langsung duduk tepat di depan bu bidan. Masker yang kupakai tak dilepas dari awal masuk klinik hingga masuk ruang pemeriksaan.

Bu Bidan mengulangi pertanyaannya. Sedikit ragu kujawab pertanyaan bu Bidan. Namun harus tetap kujawab, penasaran juga apa reaksi bidan ketika mendengar kata B-A-T-U-K.

“Saya batuk, Bu.” lirihku jawab. “Hah, batuk? Kembali bu Bidan kaget seperti asisten bidan yang di depan tadi. Kenapa memangnya dengan sakitku? Sehingga dua bidan ini langsung melotot, mungkin mulutnya juga ternganga seperti perawat yang tadi. Karena tertutup masker sehingga tak terlihat.

“Iya Bu, batuk. Ada sesak juga, Bu” Mendengar kata batuk dan sesak, bidan tersebut langsung menembakiku dengan pertanyaan. Keringat dingin mulai menetes di wajahku. Picingan mata dan raut muka Bidan di balik masker mulai berubah, tatapan matanya mulai tak bersahabat, sepertinya alergi sekali mendengar kata batuk dan sesak.

Padahal dari awal aku masuk klinik, hingga aku diperiksa, aku tidak batuk.
“Panas enggak bu, demam enggak? Sakit enggak tenggorokannya? Nyesek enggak bu?” Serangan pertanyaan dilontarkan bidan.

Hingga aku bingung menjawabnya. Mana dulu yang harus kujawab.
“Saya enggak panas bu, saya enggak demam.” Jawabku dengan grogi.
“Tenggorokannya panas enggak? Kaya ada dahak enggak nyangkut di tenggorokan?” Diulangi lagi pertanyaan tersebut. “mmm”

“Jangan bohong, Bu” tukas bu bidan.
Ya Rabb, mendadak panas dingin rasanya. Sepertinya aku salah tempat, seharusnya aku tidak ke klinik. Stay be humble eh maksudnya stay at home. hehehe

Aku salah masuk sepertinya. Klinik rasa kantor polisi. Pertanyaan untuk didiagnosis tapi rasanya malah kayak maling ayam yang lagi diinterogasi. Awalnya datang ke klinik tujuannya ingin sembuh dan diberi obat. Bukan malah ditembaki dengan berbagai pertanyaan, yang sedikit menjurus ke interogasi, jelas terlihat dari intonasinya yang tinggi. Aku mulai baper deh, mendengar pertanyaan bu bidan.

“Ibu jangan bohong ya, banyak pasien yang tidak mengakui ketika dicek skrining. Terkadang mereka menutupi.” Cetus bu bidan sambil menodongku dengan telunjuknya.

Astagfirullah, deg jantungku mendengar ucapan bidan itu. Keringat jagung mulai menumpuk di dahiku. Dinginnya ruangan berAC tak terasa dingin bagiku. Malahan terasa panas dan menyesakkan. Untung enggak pingsan di tempat.

“Ibu harus jujur ya. Ayo coba diperiksa dulu.” Ajak bu bidan mempersilakan aku naik ke dipan. Saking grogi nya, ketika naik ke dipan pemeriksaan, aku malah merangkak dan akan tengkurap.

Ya Allah, aku ngapain tengkurap? Pikirku, lalu aku turun dan kuulangi lagi naik ke dipan. Mulailah aku berbaring, deg-degan jantungku saat bidan mulai memasangkan stetoskop ke dadaku.

“Tarik napasnya bu, iya begitu. Ulangi bu, tarik napas lagi Bu.” Berulang-ulang bidan menempelkan stetoskop ke dadaku.
Lalu yang terakhir aku diminta tarik napas, dan tahan agak lama. Aku mengikuti yang dimintanya.

Entah lupa atau disengaja, bidan tidak memintaku untuk mengembuskan napas. Lumayan juga kutahan napas, layaknya orang dungu. Dengan inisiatif sendiri aku embuskan napas pelan-pelan. Setelah beberapa kali diulang menempalkan stetoskop akhirnya usai juga.

“Sebenarnya saya sudah enggak sesak bu. Memang sih bu di dada ini kayak ada yang menghalangi untuk bernapas. Sepertinya dahak ini bu yang di dada.” Ucapku dengan memelas. Ya siapa tahu, bu bidan enggak garang lagi kayak awal tadi mendiagnosis. Orang biasa garang, mendadak melempen dalam sekejap. hahaha

“Beneran, tenggorokan ibu enggak panas? Sakit enggak tenggorokannya?” Diulangi lagi pertanyaan itu.” Enggak bu, enggak panas, tapi memang saat batuk, tenggorokan saya sakit.” jawabku sambil memegang tenggorokan.

“Bagaimana bu?” tanyaku langsung karena gemes juga dengan pertanyaan-pertanyaan bidan tadi. Sebenarnya aku sudah merasa sehat, aku sudah tidak sesak lagi. Batukku juga sudah jarang. Setiap hari Kurutinkan meminum madu pahit dan mengonsumsi vitamin C.

Hanya karena kekhawatiran orang tua dengan keadaanku. Memaksakan aku untuk diperiksa. Salah tempat kayaknya, pikirku. Jika perlakuan bidan seperti ini, aku tak mau menginjakkan kaki ke klinik.

Lepas memeriksaku, bidan itu langsung membersihkan tangannya dengan sanitizer. Banyak lagi. Ah nggak mengapa sih sebenarnya. Kok aku malah makin baper. Memang harus waspada, apalagi kondisi pandemik begini, gumamku.

Usai memeriksa, bidan langsung memberikan resep, “Ibu tetap pakai masker ya walaupun di rumah. Karena di rumah ada orang lain dan anak-anak. Takut menular ke anak-anak.” Saran bu bidan mulai rendah intonasinya. Nah, beginikan enak dengarnya, bisikku dalam hati.

Benar juga pikirku yang dikatakannya, memang harus waspada, untuk apa aku baper? “Baik bu, terima kasih. Dulu saya juga pernah bu sakit begini, sebelum ada covid-19. Pulang mengajar langsung ke mari, diperiksa oleh ibu dan diberi obat selesai. Besoknya langsung sehat saya.”

“Lagipula saya tidak ke mana-mana bu. Karena dulu merasa cocok dengan obat dari klinik ini makanya orang tua di rumah menyarankan saya ke sini. Namun sekarang kok rasanya beda. Sepertinya orang sakit, batuk pilek belum tentu mengidap covid-19 langsung dijudge jelek.”

Ada rasa kecewa saat aku selesai diperiksa, dan lega karena aku tak kenapa-kenapa.
“Itu bidan memeriksamu sampai enggak disentuh. Kayak memeriksa bangkai. Takut banget dia.” Bisik suami di sampingku dengan sedikit emosi. Maklumlah ia juga menjadi saksi atas cecaran dari bidan.

Jadi teman-teman, pelajaran yang dapat diambil bila merasa sedang sakit dan selama merasa belum parah dan mampu diobati sendiri jangan sesekali pergi ke klinik apalagi ke rumah sakit. Wah bisa langsung jadi ODP. Gubrak …, bukannya sehat malah baper. Bisa jadi setelah diperiksa malah bisa menurunkan imun kita. Karena akan terpikirkan ucapan-ucapannya.

Cobalah untuk mengobati sendiri dengan rutin minum madu dan vitamin C. Sementara stop dulu minum air dingin, perbanyak minum air hangat. Apalagi kondisi saum, pastinya es yang paling diburu. Sekarang itu sakit batuk pilek biasa saja akan menjadi momok yang menakutkan, Untuk itu tetap waspada jangan panik ya. Eh malah saya deh yang panik.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.