Catatan Kecil Tentang Perpisahan Sekolah Kaka

Catatan Kecil Tentang Perpisahan Sekolah Kaka

Detik-detik kelulusan kelas 6, terasa semakin dekat. Telah banyak kenangan yang terlewati, begitu banyak kisah yang tercipta di setiap harinya. Canda, tawa dan mungkin air mata mewarnai cerita ke-20 siswa perempuan SDIT Al-Falah. Termasuk Kaka Kenia salah satunya.

Putri sulungku yang mulai beranjak remaja di usianya yang sudah 12 tahun. Aku membersamainya selama ini dengan menyekolahkannya ke sekolah khusus Tahfidzul Qur’an. Dengan harapan ia akan menjadi penghafal Al-Qur’an.

Alhamdulillah, selama kurang lebih 6 tahun ini, ia bisa menunjukkan prestasinya, tak hanya di hapalan Al-Qur’an, akan tetapi, di bidang akademik pun, bisa dibilang memuaskan.

Ditambah dengan didikanku yang cukup keras tentang bagaimana hidup itu sesungguhnya. Karena sejatinya, seorang perempuan itu adalah madrasah pertama nantinya saat kelak ia mejadi seorang ibu, jadi dari dirinyalah nantinya terlahir putra-putri yang menjadi kebanggaan orang tua.

Di sini, aku tidak akan bercerita tentang pendidikan anak-anakku. Aku ingin menuliskan mengenai perpisahan anak-anak kelas 6, khususnya kelas Kaka Ken, anak perempuanku.

Semenjak terjadinya Covid-19 dan menerapkan pemberlakuan sekolah di rumah saja, kedua anakku Kaka Ken dan adiknya, Mas Zio yang masih duduk di bangku kelas 3, mau tak mau harus mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan kegiatan di rumah selama masa pandemi.

Kaka Ken, yang sebentar lagi lulus kelas 6, terpaksa harus melakukan ujian praktek, ujian tulis dan tugas-tugas penunjang untuk penilaian rapot dan ijazah dari rumah. Tugas tahfidz dan tahsin pun dilakukan melalui video call, sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Cukup berat mendampingi kegiatan belajar mengajar anak-anak di rumah, karena kita sebagai orang tua memerlukan tak hanya penguasaan materi, akan tetapi kesabaran ekstra menghadapi tingkah laku anak-anak yang mungkin tak sedisiplin bila mereka melakukannya di sekolah.

Kembali lagi ke masalah kelulusan Kaka Ken, hanya tinggal menghitung hari saja, ia akan lepas dari predikat sebagai siswi sekolah dasar, berganti menjadi santriwati di sebuah pondok pesantren. Karena rencananya, Kaka Ken akan menjalani masa sekolah menengah pertamanya di pesantren.

“Bunda, Kaka sedih, sebentar lagi, ngga bisa ketemu sama temen-temen di sekolah. Apalagi sejak ada virus Corona, kami ngga pernah bisa bersama,” ucap putriku dengan wajah memelas, di satu hari, saat ia selesai chatting di whatsaap dengan teman sekelasnya.

Aku hanya bisa mencoba menenangkannya.

“Meskipun kalian terpisah nanti, kalian masih bisa ketemu walau ngga sesering saat masih belajar di kelas 6. Mengenai perpisahan sekolah, semoga bisa dilakukan setelah lebaran nanti.”

“Kalau ngga ada?”

“Ya berarti pertemuan kalian hanya sampai pada saat sebelum virus Corona datang. Ikhlaskanlah, Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambanya.”

Kaka Ken tampak termenung. Mungkin dalam hatinya belum rela, jika ia harus berpisah dari teman-temannya dengan cara seperti ini.

Aku mencoba menguatkannya, dan memilih mengalihkan pembicaraan mengenai sekolah barunya nanti.

Aku tahu, bukan hanya putriku yang merasa sedih atas wabah yang terjadi, sehingga mengharuskan anak-anak belajar di rumah. Terlebih bagi Kaka Ken yang hendak berpisah dengan teman-temannya.

Kerinduan terhadap wali kelas, guru-guru dan teman-temannya, pasti meninggalkan kesan yang mendalam. Justru di saat akan meninggalkan sekolah, biasanya mereka menghabiskan waktu sebaik-baiknya dengan kebersamaan, tapi kini, semuanya di luar dugaan.

Hanya bisa berkomunikasi melalui whatsaap adalah solusi melepas kerinduan mereka.

Pandemi yang terjadi tiba-tiba, di luar prasangka
Semua dilakukan dari rumah
Belajar, bekerja dan beribadah

Kebersamaan anak-anak kelas 6 C SDIT Al-Falah yang termasuk terkena dampaknya
Mereka harus merelakan waktu yang tinggal sedikit
Dengan melakukan kegiatan dari rumah
Tak bertemu dan bercanda riang dengan teman-teman
Tak mendapatkan pengajaran secara langsung dari guru-guru tercinta
Tak merasakan serangkaian ujian akhir
Tak bisa menikmati suasana sekolah yang akan ditinggalkannya

Semua tinggal kenangan dalam memori mereka
Semua tinggal cerita dalam hidup mereka
Kini, hanya kerinduan menggebu dalam dada
Bersua kembali dengan guru dan teman-teman

Akankah itu ada waktunya satu hari nanti?
Sebelum raga meninggalkan almamater tercinta?
Untuk menempuh pendidikan di tempat yang lebih tinggi, dan mengukir kenangan baru

Terima kasih untuk semua guru yang telah memberikan pendidikan pada anak-anak kami selama kurang lebih 6 tahun ini

Terima kasih untuk kesempatan anak-anak kami menempuh pendidikan hapalan Al-Qur’an hingga bisa mencapai tingkat yang cukup memuaskan

Semoga mereka kelak akan menjadi kebanggan almamaternya
Semoga mereka kelak akan kembali dan memeluk guru-guru tercintanya dengan penuh rasa hormat

Meski waktu yang sudah tak memberikan kesempatan untuk bisa bersama
Setidaknya masih ada kenangan yang tersisa di hari yang lalu
Akan menjadi sebuah cerita yang tak akan pernah terlupa

Semoga Allah selalu menjaga dan memberikan karunia-Nya pada kita semua, di mana pun berada
Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan, hingga satu hari nanti dipertemukan kembali
Aamiin…

Foto : Anak-anak kelas 6 C dan wali kelasnya saat sesi foto di sekolah bertema cita-cita

Terima kasih kepada wali kelas 6C yang selama ini telah membersamai ke-20 anak perempuan kami.

Terima kasih kepada guru-guru SDIT Al-Falah Cirebon yang telah memberikan pendidikan pada anak-anak kami selama kurang lebih 6 tahun ini.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.