Ibadah di Rumah Mengajari Kami Lebih Khusyuk dalam Beribadah

Secara umum orang merasakan bahwa untuk tahun ini bulan Ramadan berbeda dengan tahun-tahun yang terdahulu. Jelaslah iya, karena tahun ini kita sedang diberikan ujian tambahan, atau ujian remedial agar bisa memperbaiki nilai tambah yaitu nilai iman. Kita sedang dilanda wabah penyakit menular, serangan virus covid-19 merebak dan menjadikan gundah gulana.

Mengapa dikatakan ujian remedial? Karena di awal sebelum bulan Ramadan kita telah diuji dengan mengalami kemarau yang panjang. Hampir setahun lebih kita menanti hujan,  sumur-sumur kering, untuk menyalakan pompa air saja harus dilakukan secara dipancing terlebih dahulu. Begitu juga sawah dan ladang surut tanpa air.

Kali CBL juga mulai surut, walaupun nggak sampe kering. Padahal secara normal tidak biasa kali ini surut. Kali CBL merupakan kali di daerah kami yang konon katanya dinamakan CBL diambil dari nama Cibitung Barat Laut airnya biasa melimpah ruah mengalir hingga laut, sempat kami warga sekolah SIT Fitrah Hanniah melakukan salat Istisqa salat untuk memohon hujan.

Bersyukur terhadap Allah SWT kemarau telah bisa terlewati. Alhamdulillah hujan pun turun membasahi bumi dan menyuburkan kembali tanah-tanah yang mulai tandus. Namun ujian itu belum selesai, sebagai syarat naik kelas. Karena Allah telah memberikan ujian remedial, mungkin karena belum mendapatkan nilai KKM atau belum tercapai Kriteria Ketuntasan Minimum. Allah menguji kembali dengan diberikan wabah penyakit menular virus covid-19 yang sangat meresahkan. Telah banyak korban berjatuhan.

Hampir tiga bulan wabah ini belum berlalu juga. Sebenarnya wabah penyakit ini bukan kali pertama saja terjadi, dulu zaman Rasulullah SAW pun telah terjadi masa kekeringan dan kemarau panjang. Setelah kemarau yang berkepanjangan lalu wabah penyakit Tha’un pun merebak. Sehingga banyak korban berjatuhan, bahkan banyak juga yang meninggal dunia.

“Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan rida-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).

Dari hadis di atas menjelaskan wabah ini akan menjadikan sebagai rahmat bagi orang beriman. Kita senantiasa bersabar, untuk menahan diri di rumah untuk memutus rantai penyebarannya. Namun banyak hikmah di balik wabah ini. Sebagai seorang guru yang biasa mengajari anak didik, kali ini bisa mengajari anak sendiri. Ibadah biasa bersama rekan dan anak didik. Kini salat dan ibadah lain dikerjakan bersama di rumah.

Pembelajaran jarak jauh memberikan arti pentingnya seorang guru, untuk menjadi fasilitator. Seharian terpisah dengan keluarga, karena bekerja di luar kini bisa bekerja ditemani anak. Walaupun sedikit repot ketika anak mendapatkan tugas dari para gurunya dan kami berusaha menjelaskan materi yang sebenarnya bukan bidang kami. Kami harus mengajarkan anak, materi SD. Sedangkan kami sudah lupa dengan materi tersebut.

Ada hal yang berbeda dirasakan di awal bulan Ramadan tahun ini. Terutama hal ibadah di rumah merupakan hal yang sulit bagi kami. Sulit menciptakan kekhusyukan ibadah di rumah. Karena bagi kami yang bukan ahli dalam agama yang sama-sama belajar, menjadi hal baru untuk suami mengimami salat tarawih di rumah. Hari pertama salat tarawih di rumah, sempat kami mengalami kesulitan karena suami merasa grogi untuk mengimami. Hingga sempat sulit untuk memulai. berulang-ulang niat dibacakan, kami masih menantinya.

Beberapa kali anak-anak mengucapkan, ayo ayah kami sudah siap. Si ayah masih diam dalam niatnya, maklumlah kali pertama suami untuk menjadi imam tarawih, biasanya kan salat tarawih di masjid. Alhamdulillah hari pertama salat tarawih lancar, walaupun surat yang dibaca surat pendek-pendek ada kebahagian sendiri bagi keluarga kami untuk menghapalkan surat yang lain. Suami menjadi lebih semangat menghapalkan surah pendek dalam Alquran esok harinya.

Sempat suami merasa minder untuk mengimami, tapi tetap kami berikan semangat. Karena sesungguhnya semua manusia bisa berubah lebih baik. Anak-anak pun semangat memberikan motivasi. Semua mempunyai kelebihan dan kekurangan, tetaplah bersabar dan bersemangat menjadi imam di keluarga dan di salat kami. Berdoalah semoga Allah mudahkan dalam menghapalkan surah Alquran. Sesungguhnya Allah akan mengabulkan setiap doa-doa hambanya.

Sesuai janji Allah SWT dalam Alquran surah Al Mukmin ayat 60 yang artinya “Berdoalah kepada Ku pastilah Aku kabulkan untukmu”. Setiap kali menginginkan sesuatu hendaknya mengusahakan dengan sungguh sungguh dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doa kita. Allah senang pada hamba-Nya yang senantiasa berdoa, karena doa menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Allah.

Mungkin inilah, cara Allah memberikan kesempatan kepada keluarga kecil kami untuk lebih banyak belajar dan senantiasa lebih dekat dengan sang pencipta. Dengan adanya pandemik ini, Allah telah memberikan kesempatan kepada kami untuk belajar beribadah lebih khusyuk bersama keluarga, begitu juga dengan suami. Banyak belajar bertanggung jawab untuk ibadah seluruh anggota keluarga. Ayah memiliki kedudukan yang mulia. Sebagai pemimpin keluarga, Ayah mengemban tanggung jawab besar dan berat.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahrim: 6)

“Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanya (bertanggung jawab) tentang yang dipimpinnya; seorang imam/kepala adalah pemimpin yang akan ditanya (bertanggung jawab) tentang yang dipimpinnya dan seorang Suami/Ayah adalah pemimpin yang akan ditanya (bertanggung jawab) tentang yang dipimpinnya”.
(HR. Al Bukhari no. 893)

Tidak ada kata terlambat, semoga kekhusyukan ibadah-ibadah di masa pandemik ini mampu menaikkan atau meluluskan kami semua dari ujian yang telah Allah SWT berikan tanpa ujian remedial. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah ayat 5)

Wallahu alam Bishowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.