Ibadah Tersembunyi

Beberapa waktu lalu lewat meme di beranda media sosial saya. Isinya lebih kurang begini: Di masa pandemi hanya rumah ibadah dan sekolah yang tutup. Pasar mah santai, tetap buka.

Bila Anda renungkan, kalimatnya terasa sungguh pahit. Sesuatu yang bernilai lebih tinggi untuk sementara dibatasi, lalu silakan sepuas-puasnya menjadi makhluk konsumtif. Apakah memang begitu seharusnya?

Perkara kita mau jadi konsumtif atau tidak, meninggalkan ibadah, atau tidak lagi belajar, pilihannya ada di tangan kita. Namun kali ini kita akan bahas tentang efek tutupnya rumah ibadah.

Dengan ditutupnya mesjid, berarti semua kegiatan ibadah harus dilakukan di rumah. Artinya juga, kita tak bisa lagi pamer wajah/pamer sikap bahwa kita tergolong pada orang yang rajin ke mesjid. Tak ada lagi pencitraan. Kini semua ibadah jadi tersembunyi.

Sisi baiknya, di sinilah keikhlasan teruji. Seperti surat Al-Ikhlas yang tak memuat kata ikhlas sama sekali. Ada, tapi tiada terlihat. Demikianlah ibadah dalam rumah yang sedang kita lakoni. Kecuali mungkin ada yang sambil salat minta difoto kemudian posting ke media sosial.

Ibadah di rumah saja, hanya untuk sementara. Namun bukan berarti ibadahnya jadi semena-mena. Tetap ajaklah keluarga untuk tetap memuji dan memuja-Nya. Dengan niat mencapai rida Allah semata.

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.