Mendulang Emas #dirumahaja

“Lebaran sebentar lagi, Berpuasa sekeluarga, Sehari penuh yang sudah besar, Setengah hari yang masih kecil, Alangkah asyik pergi ke masjid, Shalat tarawih bersama-sama

            Masih ingat lirik lagu diatas? Ya betul, itu lirik lagu Gigi. Ada rasa senang sebentar lagi menuju Lebaran, ada rasa haru karena Ramadhan tinggal sepertiga lagi. Sobat, kadang sesuatu yang telah pergi itu tak pernah sama lagi. Ramadhan yang sudah berlalu hanya bisa dikenang menjadi tangisan dan bahan renungan pelajaran. Namun, bukan berarti kita diam saja untuk sisa masa ramadhan ini. Justru inilah masa mendulang emas di sepuluh hari terakhir ramadhan. Tapi, bagaimana caranya di masa pandemik ini?

            Sepuluh hari terakhir merupakan masa-masa berharga ibarat emas. Ada malam seribu bulan, yang patut kita kejar. Biasanya di sepuluh hari terakhir ramadhan, kita isi dengan I’tikaf. Namun, terpaksa hal itu tidak bisa dilaksanakan di pandemik ini demi kemaslahatan bersama.

            Sobat, malam lailatul qadar tidak disyaratkan iktikaf di masjid atau untuk mendapatkannya dengan beribadah di masjid. Orang yang beribadah di rumah pun masih bisa mendapatkan lailatul qadar. Itulah karunia Allah. Apakah untuk mendapatkan lailatul qadar harus begadang semalam suntuk? Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 329 dan HR. Muslim, no. 656 dan Tirmidzi, no. 221).

Memperbanyak ibadah di rumah, kita juga bisa mendapatkan keutamaan lailatul qadar, tidak disyaratkan harus begadang semalam suntuk. Begitu juga bagi wanita yang haid, nifas da yang mendapat uzur lainnya. Inilah saatnya untuk:

* memperbanyak doa “Allohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni”

* mengkhatamkan Al-Quran,  

* salat tarawih dengan memperpanjang bacaan surat-suratnya. Jikapun tidak hapal, maka boleh memegang mushaf ataupun hape untuk membaca surat bagi imam. Gerakan ini diperbolehkan dalam salat

* memperbanyak sedekah, terutama bagi yang terkena dampak wabah ini

* boleh mengeluarkan zakat fitrah di awal ramadhan. ‘Abdullah bin ‘Umar memberikan zakat fitrah atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya Idulfitri.” (HR. Malik dalam Muwatho’-nya, no. 629, 1:285). Dalil di atas menunjukkan kalau dua atau tiga hari sebelum shalat Id dibolehkan untuk mendahulukan bayar zakat fitrah. Dari sini, para ulama Syafiiyah menganggap berarti boleh juga dibayarkan zakat fitrah sejak awal Ramadhan. Wallahu a’lam.

Sobat, sebagai penyemangat ingatlah bahwa “Tidaklah seorang hamba ada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, ia tidak keluar dari negeri tersebut lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.”  (HR. Bukhari, no. 6619). Wallahu a’lam.

rumahmediagrup/nurfitriagustin

sumber gambar: pixabay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.