Santri itu Imam Salat Kami

Santri itu Imam Salat Kami

Ramadan kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya bagi keluarga saya dan juga seluruh umat Islam di belahan bumi manapun karena berbarengan dengan adanya pandemi virus corona.

Untuk memutuskan rantai penyebaran virus, pemerintah memberlakukan pembatasan aktivitas kehidupan masyarakat termasuk dalam masalah ibadah. Masyarakat dilarang mengadakan kegiatan ibadah berskala besar dan melibatkan banyak orang. Umat Islam mesti mematuhi perintah dari para pemimpin dan ulama untuk beribadah dari rumah.

Walaupun demikian, bukan berarti kita harus menjeda, melalaikan kewajiban di bulan Ramadan yang mulia ini.
Ibadah haruslah tetap dilaksanakan. Amalan istimewa diperbanyak dari bulan-bulan sebelumnya walaupun itu harus dikerjakan di rumah saja.

Ada rasa sedih dan tentu saja kehilangan momen terindah bagi saya dan keluarga. Dulu, saya dan suami yang terbiasanya salat terawih di masjid, sementara anak-anak melewatkan saum Ramadan di pesantrennya masing-masing bareng para musyrif/musyrifah serta teman santri/santriwati. Namun, kali ini harus mengerjakan salat sunah ini di rumah.

Alhamdulillah, suami masih bisa salat wajib lima waktu di masjid walaupun tetap melakukan Physical Distancing.
Ada jarak yang sudah diatur antara jemaah yang satu dengan yang lain.

Putra saya satu-satunya kemudian didapuk ayahnya sebagai imam salat di rumah. Awalnya, Abang Imba, panggilan kami di rumah, sedikit ragu untuk menjalankan amanahnya. Anak bungsu saya ini, anak laki-laki yang baru berusia lima belas tahun kelas 10 SMA ini berulang kali meminta ayahnya saja seperti biasa.

Namun, sang Ayah tetap menyuruhnya untuk mengimami salat wajib dan sunah untuk bunda dan saudara perempuannya yang berjumlah tiga orang. Terkadang, bergantian pula dengan Ayahnya memimpin salat kami.

Alhamdulillah, Abang Imba bisa melaksanakan amanah ayahnya dengan baik. Imam salat kami di keluarga ini paling belia diatara penghuni yang lain. Bacaan Alqurannya cukup baik dan hapalannya sudah banyak pula. Suaranya terdengar syahdu.

Diam-diam saya sering menangis. Ada yang meleleh dalam hati ini.

Sulthan Noor Imbawinata Effendi.

Anak laki-laki saya satu-satunya yang ketika baru berusia dua minggu melihat dunia harus masuk inkubator dan dirawat selama dua minggu pula karena kuning dengan kadar bilirubin yang tinggi.

Kini dengan tubuhnya yang menjulang Abang Imba menjadi imam salat. Dia bukan lagi si anak bungsu yang banyak kekurangan dan pasien rumah sakit yang harus rutin kontrol. Saya masih ingat bagaimana dulu ia sering berlindung dan memeluk saya jika bertemu orang lain. Dan anak yang pernah membuat saya hampir putus asa karena pernah hilang di pasar pada usia dua tahun.

Dalam hati saya dan suami bersyukur, memasukan anak-anak ke boarding school adalah pilihan yang tepat. Walaupun sekarang ibadah hanya di rumah saja, salatnya sangat terjaga dan tepat waktu. Bahkan paling rajin mengingatkan kakak dan saudara kembarnya yang semua perempuan. Selesai salat, Abang Imba biasanya berdzikir dan muroja’ah Alquran.

Semoga, badai ini cepat berlalu. Virus segera menghilang dari muka bumi ini. Anak-anak kangen pesantrennya. Mereka merindukan masa-masa bersama teman dan para guru di sana. Rindu akan salat berjamaah dan juga setor hapalan Alquran.

Gambar dari pinterest

Jumat, 15 Mei 2020

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.