Izinkan Alia Hidup Sekali Lagi

Izinkan Alia Hidup Sekali Lagi

Dalam derai tawa yang terdengar renyah, Alia terlihat begitu bahagia. Meski sesak sesekali menghampiri, ia tetap melengkungkan senyum indah, dari wajah pucat yang lemah.

Dua tahun melewati setiap denting yang berbunyi, di sebuah kamar dengan dekorasi kupu-kupu warna-warni. Di sebuah rumah sakit yang sudah menjadi rumah kedua kini.

Kini kepala sudah tak berambut lagi, hanya berbalut topi rajutan sang bunda, tubuh ringkih yang kian lemah tak berdaya, kedua mata sayu yang sudah tak berbinar indah, pancaran wajah hanya menyisakan lelah.

Alia masih memiliki jiwa kanak-kanak seusianya. Ingin bermanja, ingin bermain dengan teman sebaya, ingin menikmati dunia yang pernah dikecapnya meski sesaat saja.

Dua tahun menjalani serangkaian pengobatan, terkadang membuatnya bosan. Tapi dukungan dan cinta ayah bunda selalu bisa menguatkan. Alia seringkali menangis kesakitan. Bergulat dengan sel kanker yang menjalar di tubuh, kian melelahkan.

Alia adalah gadis kecil yang baru menginjak delapan tahun. Semestinya kini, ia tengah berlarian kesana-kemari dengan teman-teman di luar rumah. Menikmati masa indah kanak-kanak yang bahagia. Belajar di sekolah dan mendapatkan prestasi gemilang. Mengukir tawa riang tanpa beban berkepanjangan.

Vonis dokter akan kanker darah yang diderita menghancurkan bukan hanya masa depan Alia, tapi juga meluluhlantakkan jiwa ayah bunda yang begitu mencintai sepenuh hati. Putri semata wayang harus berjuang melawan sakit yang hampir semua orang tak bisa melawan. Mereka berkubang duka yang entah kapan akan berakhir.

**

Alia berlarian di tengah taman kota, berbaur dengan anak-anak lainnya. Teriakan kecil menyuarakan keinginan untuk mengajak sang ayah turut serta. Dengan anggukkan kepala, Amira, sang bunda, menyetujui suaminya untuk bermain bersama putri tercinta.

Belum sempat Ardi, sang ayah menghampiri, Alia yang masih berlari tiba-tiba terjatuh. Segera mereka berdua mendatangi anak semata wayang dengan wajah cemas.

Alia meringis kesakitan, tangan dan lututnya mengalami luka berdarah. Mereka pun pulang ke rumah, mengobati luka yang tak seberapa.

Malam harinya, Alia demam tinggi. Amira memberikan obat ibuprofen, berharap panasnya akan segera turun. Tapi ternyata panas Alia semakin tinggi, ia menggigil kedinginan. Mereka pun membawa sang putri ke rumah sakit terdekat.

Dari sanalah awal mula penyakit Alia terdeteksi. Luka akibat terjatuh mungkin biasa bagi sebagian anak, tapi tidak bagi gadis kecil seperti Alia. Infeksi yang terjadi memicu demam semakin tinggi, dokter pun menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Rasanya seperti bumi runtuh saat mendengar penjelasan dokter mengenai hasil laboratorium yang Alia jalani. Putri semata wayang yang selama ini dijaga dengan penuh kasih sayang, didiagnosa mengidap penyakit berbahaya.

“Dari hasil pemeriksaan laboratorium, Alia positif mengidap penyakit kanker darah atau yang biasa disebut leukimia.”

Pernyataan dokter membuat Ardi dan Amira tercengang tak percaya. Selama ini Alia tak menunjukkan gejala jika ia menderita sakit yang hebat. Hanya sesekali mimisan dan demam, itu lumrah terjadi pada anak-anak di masa pertumbuhan, dan menurut dokter pribadi mereka pun, Alia dalam kondisi sehat-sehat saja.

“Bagaimana putri kami bisa mengidap leukimia, Dok? Padahal selama ini, ia baik-baik saja, tak pernah terlihat gejala jika ia menderita sakit parah,” ujar Ardi penasaran. Ia berharap dokter salah mendiagnosa.

“Leukimia memang sulit untuk dilihat gejala pastinya, Pak, karena penyakit ini timbul sama seperti sakit pada umumnya. Penyakit leukemia disebabkan oleh kelainan sel darah putih di dalam tubuh dan tumbuh secara tidak terkendali. Belum diketahui penyebab pasti dari perubahan yang terjadi, tapi beberapa faktor bisa menimbulkan penyakit ini diderita, baik oleh orang dewasa mau pun anak-anak.”

“Bisakah Dokter sekali lagi memastikan penyakit anak saya? Siapa tahu hasilnya berbeda. Tak mungkin Alia kecil kami menderita sakit separah itu, Dok.”

“Maaf, Bu, kami sudah melakukan pemeriksaan sebanyak dua kali, untuk memastikan kalau diagnosa pertama kami salah, tapi hasilnya ternyata tetap sama. Mohon maaf harus menyampaikan ini, kita masih bisa berusaha menjalani serangkaian pengobatan untuk membunuh sel kanker yang mulai menyebar, karena penyakit yang diderita putri kalian masih berada di stadium dua.”

“Pasti menjamin putri kami sembuh ‘kan, Dok?”

“Kita berusaha dan berdoa saja ya, Pak. Semoga Alia juga kuat menjalani kemoterapi. Dukungan dari Bapak dan Ibu untuk Alia sangat berarti untuk mempercepat kesembuhannya.”

“Akan kami lakukan apa pun untuk kesembuhan putri kami. Tolong berikan pengobatan terbaik untuk Alia, Dok.”

Amira menangis dalam pelukan suaminya. Mencoba menguatkan hati untuk memberikan semangat pada Alia. Sementara Ardi hanya terpaku, sambil sesekali mengusap mata yang basah. Berharap putri semata wayang dapat sembuh dengan kemoterapi yang disarankan dokter.

**

Amira bahagia melihat tawa Alia yang lepas tatkala sang ayah memerankan tokoh badut. Memberikan penampilan yang mengocok perut, membuat Alia sejenak lupa akan sakitnya. Hanya gurat bahagia terpancar dari wajahnya yang memucat.

“Terima kasih Ayah, sudah membuat Alia bahagia hari ini,” ucap Alia seraya memeluk ayahnya.

“Ayah akan lakukan apa pun untuk bisa membuat putri yang cantik ini bahagia, karena Alia adalah sumber kebahagiaan bagi Ayah dan juga Bunda.” Ardi mencoba menahan sesuatu yang hendak keluar dari kedua netranya.

Sementara Amira sudah berlinang air mata, segara ia hapus agar Alia tak melihatnya.

“Kalau Alia enggak ada di sini, Ayah dan Bunda harus tetap bahagia ya.”

Ardi dan Amira saling melempar pandang.

“Dengarkan Ayah, Sayang, kita sama-sama berdoa dan juga berjuang untuk kesembuhan Alia ya. Kita harus percaya, kalau Alia bisa kembali sehat seperti dulu.”

“Kemarin malam, Alia bertemu seorang Kakek di lorong rumah sakit. Kakek itu bilang, Alia harus pergi dengannya ke suatu tempat yang indah, tapi Alia enggak mau.”

“Lalu, Kakek itu melakukan apa pada Alia?” tanya Amira cemas.

“Kakek itu hanya bilang, kalau Alia sudah waktunya pergi. Kakek akan menunggu Alia di depan rumah sakit.”

Tangis Amira tak bisa terbendung lagi. Tertumpah seraya memeluk Alia yang keheranan. Ardi ikut memeluk dua perempuan yang sangat dicintainya itu, dengan mata yang sudah basah.

**

Takdir Allah sudah ditentukan. Meski berat melepaskan, tapi harus ikhlas merelakan. Kembali adalah jalan pulang yang tak bisa ditentang. Allah lebih tahu yang terbaik bagi hambanya, karena Allah lebih sayang.

Dua tahun Alia melawan sakit yang membuatnya menderita. Mungkin jalan terbaik, kini ia harus mengakhiri perjuangan panjang yang melelahkan. Ia pergi dengan wajah penuh kedamaian. Seakan segala duka terbawa terbang bersama lara.

Amira dan Ardi tak bisa membendung air mata yang menyeruak dari dalam dada. Kehilangan satu-satunya putri adalah kehancuran harapan. Mereka hanya bisa meratapi sakit ditinggalkan dengan sisa kekuatan.
Tertanam benih kehidupan dalam rahim Amira. Usianya baru menginjak tiga minggu. Kekuatan yang masih menyisakan harapan akan kepergian Alia untuk selamanya.

“Jika Allah memberikan satu permintaan untuk Alia, apa yang Alia ingin pinta dari-Nya?” tanya dokter Raihan yang menangani penyakit Alia, beberapa hari sebelum Alia mengembuskan napas terakhirnya.

“Izinkan Alia hidup sekali lagi.”

“Untuk apa?”

“Untuk membahagiakan Ayah dan Bunda.”

“Kamu memang anak yang baik. Beruntung sekali Ayah dan Bunda memiliki putri yang cantik dan perhatian seperti dirimu.”

“Om Dokter percaya keajaiban?”

“Percaya, memangnya kenapa?”

“Om Dokter percaya, jika Allah akan menggantikan sedih kita dengan bahagia, tepat di saat kita kehilangan sesuatu yang berharga?”

“Dari mana Alia dapat kata-kata bijak seperti itu?”

“Dari Kakek yang selalu menunggu Alia.”

Dokter Raihan terpaku. Ia menatap Ardi dan Amira yang juga tercengang dengan penuturan gadis sekecil Alia.

Itulah percakapan terakhir dengan Alia. Karena setelah itu, ia mengalami anfal dan koma. Alia mengembuskan napas terakhirnya dengan senyum terkembang di bibir, menatap lemah ayah dan bundanya yang sudah bersimbah air mata.

“Bunda dan Ayah sudah ikhlas melepas Alia,” ucap Amira tepat di telinga putrinya.

Setelah itu, Alia tak bernapas lagi. Ia telah kembali pulang ke haribaan-Nya. Dengan wajah setenang malam, dan senyum seindah bulan. Meninggalkan secercah bahagia yang akan segera hadir melengkapi hidup ayah dan bundanya.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.