Penghalang Ilmu

Penghalang Ilmu

Apakah ada hubungannya antara kemudahan dalam memahami ilmu dengan perilaku yang dilakukan? Kita simak kisah berikut ini.   

Suatu hari Imam Syafi’i duduk berguru kepada Imam Malik dengan membacakan sebuah kitab di hadapannya. Imam Malik terkagum dengan kecepatan hafalan, kecerdasan, dan pemahaman Imam Syafi’i. Maka Imam Malik berkata, “Sungguh aku melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya kepadamu, maka jangan padamkan cahaya itu dengan gelapnya kemaksiatan.”

Sebaliknya, hal yang bertolak belakang dialami pula oleh Imam Syafi’i, satu saat ia datang kepada gurunya untuk mengadukan tentang buruknya hafalannya. Maka inilah nasihat gurunya, Waki’, ”Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau merenungkannya kembali. Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan kepada pelaku maksiat.”

Imam Syafi’i lalu merenungi dosa apa yang telah ia perbuat, lantas beliau teringat akan satu keadaan di mana dirinya secara tak sengaja pernah melihat mata kaki seorang wanita yang tertampak karena pakaiannya tersingkap saat menaiki kendaraan, maka seketika itu pula beliau memalingkan mukanya.

Ilmu merupakan pemberian dari Allah, Rasulullah diperintahkan oleh Allah untuk berdoa:

…رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

“…Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha: 114).

Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Kita pun demikian familiar dengan doa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu as-Sunni).

Qasim bin Abdurrahman meriwayatkan bahwa Abdullah berkata, “Saya mengira bahwa seorang lelaki bisa lupa ilmunya, karena kesalahan yang dilakukannya.”

Paparan sebagaimana yang diungkapkan di atas memberikan kejelasan, berhubung ilmu datangnya dari Allah, maka perilaku taat kepada-Nya sangat erat kaitannya untuk memudahkan dalam memahami ilmu. Demikian sebaliknya, perilaku maksiat hanya akan menjadikan diri sukar menerima ilmu. Allahu ‘alam bisshowab.  

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: mim.or.id     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.