Korelasi Perpustakaan dan Dokumentasi

Ada hal yang seharusnya kita sudah tahu, bahwa perpustakaan dan dokumentasi memiliki beberapa kesamaan.

Tetapi, ini berkaitan dengan kesamaan bidang studi yang ada di dalamnya. Pelayanan yang hampir sama.

Bahkan memakai sarana yang juga sama sehingga kita patut mempertanyakan, apakah sebetulnya perbedaan antara kedua hal diatas. Yaitu perpustakaan dengan dokumentasi.

Menurut Lily K. Sumadikarta (1975) membicarakan perpustakaan ini pada masa-masa pertama dalam kemajuannya, merupakan sebuah wahana yang teramat sederhana untuk tempat penyimpanan kertas-kertas berisi tulisan yaitu buku.

Dengan kegiatan yang terus digalakan dalam hal kepenulisan, maka semakin kesini karya semakin berkualitas. Apalagi sekarang tulisan tidak dalam bentuk tulisan tangan ketika diciptakan.

Kini, tulisan atau karya kepenulisan itu sudah dalam bentuk tercetak. Bahkan terus meningkat. Otomatis kegunaan perpustakaan juga semakin menaik.

Yang asalnya hanya dianggap sebagai tempat kumuh atau gudang buku, kini perpustakaan semakin mengambil peranan untuk menyebarluaskan informasi yang tentunya sudah semakin marak dalam kepenulisan buku yang tercetak saat ini.

Nah, sudah pasti peran dokumentasi disini sangat penting. Salah satunya untuk mencatat semua koleksi yang ada di perpustakaan dan disusun, agar memudahkan dalam pengambilan kembali koleksi yang dicari nantinya.

Yang tadinya hanya menitikberatkan pada buku saja, kini perpustakaan semakin memberikan sajian lebih menarik. Misalnya majalah, karya ilmiah, laporan-laporan penelitian, yang tentu saja semakin banyak diminati oleh pemustaka pada umumnya.

Sehingga pada akhirnya perpustakaan memiliki beberapa jenis dilihat dari ruang lingkupnya. Diantaranya :

1. Perpustakaan Nasional
2. Perpustakaan Umum
3. Perpustakaan Khusus
4. Perpustakaan Perguruan Tinggi
5. Perpustakaan Sekolah

Kaitannya dengan dokumentasi tadi, sebenarnya kegiatan ini yang terus dilakukan oleh seorang pustakawan.

Pada akhir abad ke-19 di Brussel (Belgia), direncanakanlah sebuah bibliografi internasional yang didalamnya terdapat beragam ilmu pengetahuan.

Untuk melakukannya para ahli menggunakan cara yang sudah dilakukan pustakawan. Mereka melakukan kegiatan pencatatan hasil karya yang sudah ada dari katalog perpustakaan.

Dengan cara penyusunan pengelompokan baru memakai system DDC (Dewey Decimal Classification). Yang didalamnya merupakan bagan pengkelasan subjek yang dibuat oleh Melvin Dewey (1876) yang kita ketahui sebagai seorang pustakawan.

Mereka membuat UDC (Universal Decimal Classification) pada tahun 1905. Dengan tentunya terlebih dahulu mempelajari seorang pustakawan dalam mengklasifikasikan subjek buku yang dicatat, sebagai inventaris atau koleksi yang ada di perpustakaan.

Dengan adanya hubungan atau korelasi tersebut diatas, maka para ahli menyebutnya kegiatan dokumentasi, untuk membedakan kegiatan itu dari pustakawan. Meskipun pada dasarnya system yang digunakan tetap atau hampir sama menyerupai.

Rumah Media Grup / Allys Setia Mulyati
Foto : dokumentasi pribadi

SUMBER : BMP PUST2241 Dasar-Dasar Dokumentasi, Purwono. Universitas Terbuka, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.