Aki dan Ambu – Bagian 5 (Syukur dan Sabar)

Aki dan Ambu  – Bagian 5 (Syukur dan Sabar)

Seusai tarawih berjamaah yang dilanjutkan tadarus bersama, Aki Rahmat dan Ambu Rahmi  tidak segera beranjak meninggalkan tempat salat.

“Tidak terasa kita sudah berada di sepuluh hari terakhir Ramadan ya, Ambu,” Aki membuka obrolan.

“Iya, Ki. Sayangnya kita tidak bisa beritikaf di masjid,”  keluh Ambu.

“Apa boleh buat, Ambu. Kita manut aturan pemerintah. Semoga itu menjadi kebaikan di bulan Ramadan juga.

“Padahal kampung kita ini kan bersih dari corona ya, Ki. Kalaupun kita beribadah bersama di masjid, mungkin tidak akan terjadi penularan,” Ambu mencoba berargumen.

“Imbauan pemerintah daerah ini lebih ke sedia payung sebelum hujan, Ambu. Corona itu kan tidak terlihat mata kita, makanya kita dianjurkan untuk berjaga-jaga,” papar Aki.

“Sedih ya, Ki.  Allah menurunkan musibah corona ini hingga kita merasakan Ramadan kali ini sepi. Biasanya, saat Ramadan, masjid-masjid menjadi ramai oleh yang beribadah. Sekarang … malah ditutup,”  keluh Ambu lagi.

“Tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu dengan sia-sia kan, Mbu?” Aki sengaja berdiam sejenak, menunggu reaksi Ambu. Ambu hanya mengangguk pelan. “Corona ini juga pasti sengaja diutus untuk maksud tertentu. Kita hanya bisa menduga-duga apa sebenarnya yang dikehendaki Allah dari kita dengan pandemi covid-19 ini. Yang pasti, hanya ada dua pilihan dalam hidup kita, bersyukur atau bersabar. Betul tidak, Ambu?” Aki memancing Ambu untuk berargumen lagi.

“Iya, Ki. Kita memang pantas bersyukur karena hingga kini kita dan keluarga masih diberi kesehatan. Kalaupun dalam melakukan upaya agar bisa kita putus rantai penyebaran corona, kita dituntut untuk sabar ya, Ki?” Ambu terpancing untuk menjawab.

“Lanjutkan, Ambu!” pinta Aki.

“Lanjutkan apanya, Ki?” Ambu terlihat bingung.

“Jika kita bersyukur dan bersabar, apa yang akan kita peroleh?”

“Ih, Aki mah ngetes  Ambu!” Ambu memukul pelan paha Aki.

“Bukan mengetes, Ambu. Aki sih Cuma senang saja dengarnya kalau Ambu berdalil, he … he … he … Tidak sia-sia Ambu suka mengikuti  pengajian ibu-ibu,”  sanggah Aki.

“Coba Aki saja yang jelaskan! Apa yang akan kita peroleh jika kita bersyukur dan bersabar,” Ambu balik meminta.

“Ah, si Ambu, malah balik nyuruh. Aki kan tidak ikutan ngaji, he… he…. ,” canda Aki.

“Tapi Aki suka dengar ceramah ustad-ustad di TV dan youtube kan?” Ambu tak mau kalah.

“Ngomong-ngomong, enak nih kalau ngobrolnya sambil ngopi,” Aki berkelit.

“Ah, Aki ….  Duduknya pindah atuh yu! Sambil nonton TV,” ajak Ambu.

Keduanya beranjak meninggalkan tempat salat. Aki langsung menuju ruang TV. Sementara itu, Ambu ke dapur untuk membuatkan kopi jahe untuk Aki. Tak lama, Ambu menyusul Aki sambil membawa minuman panas dan camilan untuk pelengkap obrolah mereka.

“Ahamdulillah… maknyus nih, Ambu,” Abah meletakkan mug kopi jahenya. “Terima kasih banyak, Ambu,” lanjutnya.

“Dicoba juga singkongnya, Ki,” Ambu menyodorkan piring berisi beberapa camilan dari singkong berbungkus daun pisang.

“Ini singong yang Aki ambil kemarin dari kebun, Ambu?” Tanya Aki  sambil mengambil satu lalu membuka pembungkusnya.

“Iya, Ki,” jawab Ambu sambil memperhatikan Aki yang mulai menyantap jaburan buatannya.

“Bagaimana, Ki?” Ambu terlihat penasaran.

“Alhamdulillah, enak Ambu. Manisnya pas, dan irisan kelapanya terasa sekali,” Aki mengacungkan jempol. Ambu Nampak sumringah.

“Jika kita mensyukuri setiap apa yang Allah beri, maka Allah akan menambah dan menambah lagi pemberiannya pada kita. Betul, kan Ambu?” Tanya Aki.

“Betul, Ki,” jawab Ambu singkat.

“Ambu merasakannya sendiri kan? Saat awal kita pindah ke sini, Ambu kerap mengeluh karena kondisi di kampung ini sangat berbeda dengan tempat kita dulu. Saat itu, Ambu sempat meraskan tidak betah di sini. Sampai-sampai minta kita kembali ke kota. Tapi, setelah hati Ambu menerima kondisi di sini apa adanya, Ambu menjadi betah kan?” tanya Aki.Ambu menjawab dengan anggukan.

“Iya, Ki. Ambu merasakannya sendiri. Sekarang Ambu betah tinggal di sini. Semua yang ada di sini, sekarang terasa menyenangkan,” Ujar Ambu. Jadi, Apa yang akan kita perolah saat kita bersyukur dan bersabar, Ki?” Ambu kembali meminta jawaban.

“Yang bertanya itu tidak selalu berarti tidak tahu jawabannya kan, Mbu? Ambu punya jawaban dari pertanyaan itu,” jawab Aki. Ambu hanya manggut-manggut. ***

#WCR_tetap5_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.