Demi Islam

Demi Islam

Sahabat Mush’ab bin Umair, sebelum keislamannya ia amat kesohor di kota Mekkah lantaran ketampanan dan kemewahan penampilannya, tak heran para gadis dibuatnya terpesona. Keperlenteannya berbalik 180 derajat saat cahaya iman merasuk dalam jiwanya.

Mush’ab bin Umair tak ragu sedikit pun meninggalkan segala fasilitas hidup dan kemewahan yang selama ini disodorkan oleh keluarganya. Ia rela dipenjara oleh ibunya sendiri yang tetap dalam kekafirannya. Masa muda yang identik dengan masa untuk memuaskan segala hasrat duniawai, tak berlaku bagi pemuda Mush’ab. Ia lebih memilih akhirat ketimbang dunia. Lebih memilih keabadian dari pada kefanaan.

Rasul pun bertutur tentang diri Mush’ab, “Dahulu saya melihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya, semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Begitulah Mush’ab, betapa ia mampu mengalahkan kesenagan nafsunya demi meraih keridhaan Illahi.

Sejarah juga menoreh dengan tinta emas akan kekukuhan iman seorang Sa’ad bin Abi Waqqash. Sa’ad adalah seorang pemuda Mekkah keturunan terhormat. Nasabnya masih ada pertalian kekerabatan dengan Rasulullah, yaitu dari jalur kakeknya, Uhaib bin Manaf yang merupakan paman dari ibunda Nabi Muhammad, Aminah.

Begitu Sa’ad memilih Islam sebagai agama yang diyakininya, ibunya Hamnah binti Sufyan bin Umayyah menentang keras pilihannya tersebut. Ibundanya marah dan meminta Sa’ad untuk kembali ke agama pagan, namun Sa’ad kukuh dalam pendiriannya.

“Mereka semua dalam kesesatan yang nyata, bagaimana mungkin mereka menyembah batu yang tidak memberi manafaat dan mudharat?” Ujar Sa’ad pada ibunya. Mengetahui keteguhan hati anaknya, Hamnah mengancam akan melakukan aksi mogok makan.  

“Hendaklah engkau meninggalkan agamamu itu atau aku tidak akan makan dan minum hingga ajal menjemputku, lalu engkau dicela manusia karenanya!” Serunya kepada Sa’ad. “Jangan lakukan itu, wahai ibuku. Sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini!” Tandas Sa’ad.

Selanjutnya,  terlontarlah ucapan yang kesohor dari seorang Sa’ad menanggapi aksi mogok makan ibunya. “Demi Allah, andai ibu memiliki seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku karenanya. Terserah kepada ibu, mau makan atau tidak.” Pungkasnya.

Allah mengapresiasi ucapan Sa’ad tersebut dengan menurunkan ayat Al-Qur’an untuk mengabadikannya.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Mereka adalah sosok yang telah memberikan keteladanan luar biasa, rela berkorban jiwa raga demi Islam. Semoga kita dapat menurut jejaknya. Aamiin.   

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar:hajij.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.