Ketika Beribadah di Rumah Saja

Ketika Beribadah di Rumah Saja

Digesernya pintu itu perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit dilihatnya apa yang ada di dalam ruangan itu. Lengang. Ada pilu menusuk-nusuk hatinya. Mata tuanya mulai berkaca-kaca. Kaki kanannya melangkah melewati garis pintu.

Allahummaf-tahlii abwaaba rahmatik. Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu. Aamiin!” bisiknya. Setitik air bening jatuh membasahi telapak tangannya yang masih tengadah.  Diusapkannya telapak tangan itu pada wajah sekaligus menyeka air mata yang berderai membasahi pipi keriputnya.

Dia berdiri mematung di tengah ruangan. “Tik-tak” bunyi jam dinding terdengarnya begitu nyaring di tengah keheningan. Pandangannya menyapu seisi ruangan, lalu terhenti di gulungan karpet yang menumpuk di sudut  belakang. Nyaris sebulan penuh karpet itu tertumpuk di situ. Warga berinisiatif menggulung karpet itu setelah mengeringkannya dari semprotan disinfektan. Alhasil, ruangan itu tampak begitu lapang berlantaikan keramik putih.

Digelarnya sajadah yang ia bawa dari rumah. Dua rakaat tahiyyatul masjid ia kerjakan. Pada sujud terakhir, pecahlah tangisnya. Ia merasakan tubuhnya menciut begitu kecil di tengah ruangan besar itu. Ada getir yang begitu saja memenuhi sanubarinya. Pilu yang dirasanya sejak tadi kini seolah menyayat-nyayat hatinya. Ia selesaikan salat sunatnya itu dengan terisak-isak.

“Assalamu’alaikum!” Seorang pria bermasker masuk lalu menghampirinya yang masih bersimpuh di atas sajadah.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakaatuh,” jawabnya. “Kau ke sini, Imran?” Tanyanya kemudian.

“Iya, Bah. Tadi saya lewat di depan, melihat pintu masjid terbuka. Saya longok dari luar, ada Abah sedang salat. Jadi saya masuk,” paparnya. “Abah sudah zuhur?” Imran balik bertanya.

“Abah baru sempat tahiyyatul masjid,” jawabnya. “Mau zuhur berjamaah?” tanyanya kemudian.

“Iya, Bah. Saya wudu dulu ya, Bah,” katanya sambil bangkit lalu menuju tempat wudu. Sekilas dilihatnya laki-laki tua itu mengangguk.

Yang dipanggil Abah oleh Imran adalah marbot masjid itu. Dia biasa dipanggil Abah Dira. Pria berusia mendekati enam puluh tahunan itu, lebih dari separuh usianya mengabdikan diri sebagai marbot masjid itu. Sejak adanya instruksi dari pemerintah daerah agar warga beribadah di rumah saja. Masjid itu pun ditutup untuk jamaah. Sebagai marbot, dia tetap mengunjungi masjid itu untuk membersihkannya. Dia juga kerap salat di situ saat waktunya tiba. Terkadang, ada juga yang ikut berjamaah. Biasanya mereka yang sedang bekerja sebagai kurir atau pengantar barang. Tapi, lebih sering ia salat sendirian.

Imran kembali dari tempat wudu.

“Silakan salat sunat dulu, Nak! Mumpung Ramadan,” suruh Abah.

“Iya Bah,” jawab Imran. Lantas ia mengerjakan beberapa salat sunat sebelum akhirnya ia bermakmum salat zuhur pada Abah Dira.

“Masih ada yang harus kamu antar, Nak?” Tanya Abah Dira setelah mereka selesai sunat bakdiah.

“Tidak ada, Bah. Hari ini, hanya sedikit yang pesan,”jawab Imran.

“Bagaimana perkembangan bisnismu sekarang?” Tanya Abah Dira lagi.

“Alhamdulillah, masih bisa jalan, Bah. Meskipun tidak sebanyak sebelum ada corona,” jawab Imran.

“Mudah-mudahan berkah, ya Nak,” doa Abah Dira.

“Aamiin,” sahut Imran.

Imran adalah penduduk kampung sebelah. Hampir dua tahun ini ia berjualan makanan kemasan dari olahan ikan dan daging. Selain Abah Dira yang merasakan dampak corona pada sepinya masjid, Imran pun termasuk yang terkena imbas pada sepinya pembeli dagangannya.

Karena tidak bisa lagi berkeliling untuk menjajakan dagangannya, Imran mencoba memasarkannya secara online. Itu pun masih terbatas pada media sosial yang ia punyai. Karena banyak juga wilayah yang memperketat masuknya orang asing, Imran hanya menerima pesanan untuk wilayah yang masih bisa dia jangkau.  Meskipun hasil penjualannya tidak sebanyak sebelum adanya corona, tapi Imran tetap bersemangat menjalankan bisnis kecil-kecilannya itu. Apa boleh buat, kali ini dia tidak memiliki pilihan lain selain usaha itu.

“Kapan kira-kira masjid ini bisa dibuka kembali untuk umum, Bah?” Tanya Imran memecah keheningan.

“Entahlah, Nak. Abah tidak tahu, kapan masjid ini akan makmur kembali. Sedih sekali rasanya saat tiba waktu salat, masjid ini tetap lengang. Tidak ada lagi suara jamaah berzikir dan anak-anak mengaji setiap malam. Waktunya salat Jum’at pun, masjid ini tetap sepi,” suara Abah Dira mendadak parau. Suaranya menggambarkan bagaimana gejolak perasaannya. Matanya mulai berembun. Beberapa kali dia menelan ludah dan menghela nafas panjang seolah ingin mengenyahkan beban berat yang menghimpit dadanya.

“Apalagi sekarang bulan Ramadan ya, Bah? Biasanya semarak salat tarawih dan tadarus. Sekarang sepi,” Imran pun turt merasakan kesedihan Abah Dira.

Abah Dira mengangguk. “Sepuluh malam terakhir pun pasti akan sepi dari orang yang iktikaf,” katanya kemudian. Menghela napas berat. “Pihak DKM mengambil kebijakan untuk menutup masjid karena itu merupakan instuksi dari pihak pemerintah daerah. Berat memang, tapi apa boleh buat ini dilakukan semata untuk kemaslahatan umat. Pada kondisi seperti sekarang ini, kita memang harus berhati-hati dan selalu waspada agar tidak terjangkit virus itu,” papar Abah Dira.

Keduanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Abah tarawih di rumah juga, Bah?” Imran memecah keheningan dengan bertanya pada Abah Dira.

“Abah tarawih di sini bersama Umi dan si bungsu,” jawab Abah. “Rumah Abah kan di belakang masjid ini. Masjid ini pun tak ubahnya rumah bagi Abah. Makanya Abah tetap beribadah di masjid ini. Sekali-kali bukan untuk menentang instruksi dari pihak pemerintah. Tapi Abah tidak sampai hati membaiarkan masjid ini benar-benar tutup. Apalagi saat Ramadan seperti sekarang ini,” lanjutnya menjelaskan.

“Apa tidak diperbolehkan juga jika kita salat di masjid dengan tetap menjaga jarak, Bah?” tanya Imran. Ia terlihat penasaran.

“Entahlah,” jawab Abah pelan. “Mungkin itu tidak akan diizinkan. Masyarakat kan diimbau untuk diam di rumah saja. Semua aktivitas seharusnya dilakukan di rumah,” lanjut Abah.

“Iya, Bah. Saya dengar, penyebaran corona ini akan terhenti saat semua orang tinggal di rumah minimal selama empat belas hari. Sayangnya, untuk tinggal di rumah selama waktu itu, bagi rakyat jelata seperti saya, dari mana saya bisa menghidupi keluarga saya. Saya tidak punya tabungan sama sekali. Pendapatan saya sebelumnya selalu habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama untuk membiayai kuliah anak sulung saya,” tenggorokannya seakan tercekat. Ada air bening meleleh dari sudut mata Imran. Segera ia seka dengan punggung tangannya.

“Iya, Abah juga paham, Nak. Abah dengar pemerintah akan memberikan bantuan bagi rakyat miskin seperti kita. Semoga itu segera terwujud,” kata Abah sambil membuka kopiah putihnya. “Hari ini rasanya gerah sekali,” lanjutnya.

“Iya, Bah. Semoga dengan cuaca terik seperti saat ini, virus corona bisa punah,” timpal Imran.

“Abah sempat menduga-duga. Jangan-jangan Allah SWT sekarang sedang menyentil kita dengan mengutus makhluknya yang teramat kecil itu agar kita semua sadar betapa kita telah banyak berbuat dosa,” kata Abah. Wajahnya menunjukkan betapa seriusnya ia mengatakan hal itu.

“Mungkin juga, Bah. Allah mungkin murka sehingga Ia menjauhkan kita dari rumah-Nya. Harusnya kita banyak-banyak bertaubat ya, Bah,” Imran menimpali.

“Betul sekali, Nak. Pemerintah telah melakukan banyak upaya agar penyebaran corona terhenti,” Kata Abah Dira sambil membenahi silanya.

“Iya , Bah. Mulai dari menjaga jarak fisik dan sosial, karantina wilayah, imbawan memakai masker dan menjaga kebersihan dengan sering-sering mencuci tangan, dan lain-lain,” timpal Imran kembali.

Abah Dira terlihat manggut-manggut. “Semua itu adalah ikhtiar lahir. Ujarnya. Menarik napas lagi. “Harusnya pemerintah juga menginstruksikan agar kita juga menempuh upaya batin dengan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Kita harus banyak-banyak beristighfar. Memohon ampunan atas semua dosa-dosa kita. Mungkin itu bisa membuat Allah kembali rida pada kita. Kita pun harus  lebih memperbanyak doa. Kita berdoa agar musibah corona ini segera reda. Jika kita semua berdoa dengan tulus, Doa-doa itu akan berpilin-pilin, melesat ke langit dan akan Allah kembalikan ke bumi dengan pengabulan,” papar Abah Dira menutup obrolan siang itu.

Keduanya meninggalkan masjid dengan langkah gontai. ***

WCR_ditetapkan_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.