Rancamaya

Pagi merekah. Mentari mulai beranjak naik. Hari ini hari Minggu, aku dan anakku si bungsu berniat olah raga pagi. Hanya sekedar jalan-jalan di sekitar rumah saja. Tak jauh jalan yang kami susuri. Hanya berkeliling sekitaran daerah yang deket rumah. Sekedar menggerakkan kaki yang yang selama ini tak pernah berolah raga.

“Kita mau ke mana Mah ?” tanya anakku

“Kita keliling perumahan saja.” Jawabku

“Ah, ga asyik, masa ke sana terus. Boseeen aaah.” Jawab anakku

“Terus maunya ke mana ? kalau yang jauh-jauh  nanti terlalu siang soalnya mama harus beres-beres rumah dan nyuci karena si bibi ga ada.” Aku memberikan alasan kepada si bungsu.

“Iya deh, tapi nanti siang pulang dari madrasah aku ingin maen lagi ke mall ya Mah! “

“Iya”. Jawabku karena ga mau memperpanjang obrolan.

Kami pun berangkat berkeliling biar agak jauh jalannya. Seperti biasa jika ada pemandangan yang indah, aku slalu mengambil gambarnya, sambil sesekali menyuruh anakku berfose.. Kemudian kami tiba di sebuah danau. Di daerah, kami menyebutnya situ . Kami  duduk sejenak di tepi danau itu sambil memandang airnya yang kehijauan. Di sebelah selatan nampak beberapa orang laki-laki sedang memancing. Entah sudah berapa lama mereka di sana dan entah berapa banyak ikan yang mereka dapatkan. Biasanya hari Sabtu dan Minggu tempat ini cukup ramai oleh orang-orang yang hobinya mancing. Ada yang hanya sekedar hobi ada juga yang sambil berharap dapat ikan banyak. Bahkan ada yang betah berlama-lama duduk di sana dari pagi sampai malam hanya sekedar memuaskan hobinya itu.

Ingatanku melayang ke masa kecil. Dulu tempat ini sangat menyeramkan. Jika lewat ke daerah ini, aku dan anak-anak yang lain ga berani mendekat apalagi berenang. Ingat cerita masa itu, entah benar atau tidak. Setiap setahun sekali, danau ini airnya dikeringkan. Kemudian masyarakat ramai-ramai menangkap ikannya. Kami biasa menyebutnya “gobyag”. Dan sebelum pelaksanaan gobyag, tentu saja situ itu ditanami ikan dulu. Banyak sekali orang yang mengikuti acara itu baik sebagai penangkap ikan ataupun penonton. Bahkan ada yang dari luar daerah. Meskipun harus bayar, banyak yang berminat untuk ikut turun bermandikan lumpur untuk menangkap ikan. Tapi jika hanya sebagai penonton tak usah bayar. Ada sayembara dalam acara itu, jika ada yang bisa nangkap ikan yang ada antingnya bakal dapat hadiah. Namun kenyataannya tak semudah yang dikira. Ternyata sulit sekali mendapat ikan yang banyak. Bahkan ada cerita bahwa ikannya disembunyikan oleh Mbah Jambrong. Entah seperti apa sosok Mbah Jambrong itu. Mungkin itu hanya mitos saja. Karena sebelum gobyag, ikan yang ditebar itu cukup banyak, namun jadi sedikit ketika ditangkap. Ikanya menghilang. Kami mendengar cerita itu dari guru ngaji, tapi beliau juga mendengar cerita itu dari orang tua dulu.

Seiring perjalanan waktu, daerah ini mengalami perkembangan dan perubahan. Apalagi setelah pergantian penguasa atau kepala desa. Daerah di bagian atas danau itu dijual kepada pengembang atas usulan kepala desa dan dijadikan perumahan. Lahan yang semula berupa kebun dan hutan milik masyarakat  sebagai penyangga air kini telah berubah menjadi pemukiman. Bahkan sekarang dibangun jalan yang cukup lebar menuju ke arah perumahan membelah antara danau dan sawah. Sehingga lebar danau kini kian berkurang. Apalagi setelah pergantian pemimpin lagi,  kini danau itu dikelola oleh perorangan. Danau itu dikontrak oleh yang berduit dan dijadikan tempat pemancingan. Hasil dari sewa danau tersebut dikelola oleh desa, dan sebagian hasilnya dibelikan fasilitas kesehatan berupa mobil ambulans yang bisa dimanfaatkan oleh orang yang tak mampu jika membutuhkan. Entahlah, sebagai rakyat kami tidak tahu dan mungkin ada yang tak mau tau. 

Kini,  hanya sebagian kecil saja yang bisa menikmati aliran air dari danau tersebut. Hanya yang tinggal di sekitar danau saja yang bisa merasakan manfaatnya. Malah yang bisa merasakannya adalah yang di luar desa karena saluran pembuangan air dari danau itu tidak mengalir ke kampungku. Dulu, saat danau itu masih berfungsi dengan baik sebagai saluran irigasi di daerah kami,  bak mandi tempat penampungan air di depan rumah, airnya selalu penuh.  Bahkan para tetangga yang tidak punya toilet di rumahnya sering ikut numpang mandi dan mencuci. Karena airnya cukup melimpah. Namun sekarang sejak situ itu tak lagi dikelola oleh desa, air yang mengalir ke kampungku makin surut. Untuk mengairi air ke kolam saja, aku harus berebut dengan yang punya sawah. Jika musim kemarau, kolam di depan rumah selalu kekeringan. Tak lagi bisa ditanami ikan. Ya,  kami tak lagi bisa menikmati suburnya air seperti dulu. 

“Ayo Mah, kita pulang!” tiba-tiba saja anakku membuyarkan lamunanku.

“Eh iya, ayo udah siang !” jawabku baru sadar kalau dari tadi kami sedang duduk menikmati sejuknya udara pagi di tepi Situ Rancamaya.

foto : koleksi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.