Diari Cik Onis

Rencana Tak Boleh Gagal

“Baik, demikianlah resep kue-kue tradisional yang sudah kita praktikkan bersama hari ini. Sekadar info, bagi yang ingin melihat pesta kawin ala Belitong, bisa ikut saya besok ke Selat Nasik,” tawar Mak Inang sembari kedua tangannya sibuk merapikan printilan di atas meja.

“Jam berapa Bu?”
“Naik apa ke sana?”
“Kan beranjuk* ke?”
“Sebenar ke Buk, nawarek kamek ngikut?”
“Ibuk sendiri ape ramai-ramai?”

Riuh suara peserta workshop kuliner bertanya atas tawaran Mak Inang. Semua antusias. Salah satu penyebab semangat pasti karena ingin melihat pengantin pria ditandu. Sudah sangat jarang ada yang melakukan hal begitu di Belitung. Biasanya pakai mobil kalau jauh atau berjalan kaki kalau dekat.

Cik Onis bergairah bukan cuma karena pestanya, tapi terutama karena tempatnya. Selat Nasik, men! Ini kesempatan, katanya dalam hati. Sudah berapa kali Cik Onis mengajak lakinya ke pulau itu tapi selalu dijawab nanti. Nanti kalau angin sudah reda, nanti kalau ada undangan kawan, nanti kalau anak-anak libur.

Tak pakai ba-bi-bu kiri kanan, Cik Onis segera mendekati Mak Inang. Minta nomor telepon dan jam pasti berangkat untuk besok. Setelah dapat semua keterangan, Cik Onis segera susun rencana.

Sore hari tatkala lakinya tengah duduk santai selepas kerja seharian di kebun, Cik Onis mendekat dengan ragu-ragu.

“Aw ngasine laki aku ne¹,” rayunya lembut seraya tangannya memijat bahu sang suami, “Kepak die ngula ume sari arian².”

“Habis makan apa tadi, Nis? Tak biasanya pijit bahu Abang kalau tak diminta,” selidik Bang Aloy pada istrinya semata hati secengkeram jantung.

Cik Onis meringis di belakang suaminya. Sulit menyembunyikan niat di hadapan lelaki keras nan lurus dan tak suka berbelit-belit ini.

“Onis besok ke Selat Nasik ya Bang, ikut Mak Inang. Katanya berangkat jam 2 siang dari Tanjung Ru’. Ramai yang pergi,” jelasnya dengan suara agak bergetar karena gerakan pijat tinju.

“Pergi sama Abang saja ya Nis, kawan Abang bilang ada acara juga di sana, nanti Abang konfirmasi lagi,” pinta sang suami.

Cik Onis terdiam. Tangannya lalu mengulur ke leher suaminya. Dielusnya sebentar kemudian kedua tangannya ia gantungkan hingga ke dada Bang Aloy. Kini pipi mereka bersentuhan.

“Pokoknya besok kita ke pulau ya Bang, Onis dah kepingin kali ke sana,” desaknya. Diciumnya sekilas suaminya lalu ia pun kembali ke dapur.

Keesokan harinya…

“Bibah, sudah beres bajumu dan baju adek?” teriak Cik Onis pada gadis sulungnya.

“Sudah Mak, berangkat kita sekarang?” lembut suara Habibah menjawab emaknya.

Cik Onis melihat jam dinding sekali lagi. Sudah setengah dua lewat 3 menit. Perjalanan ke Tanjung Ru’ bisa lebih dari 20 menit kalau jalan santai. Bang Aloy belum ada telepon juga. Daripada ketinggalan rombongan lebih baik berangkat saja lah.

Bertiga dengan kedua anak perempuannya, Cik Onis pun pergi dengan membawa motor. Sepanjang perjalanan, jarum speedometer hanya bergeser-geser di angka 70 sampai 90. Cik Onis ini jiwa pembalapnya selalu muncul dalam kondisi kepepet.

Hasilnya, 10 menit sebelum jam 2 mereka sudah tiba di pelabuhan penyeberangan. Cik Onis lalu menelepon Bang Aloy.

“Bang, Onis berangkat ya? Ini kami bertiga sudah di pelabuhan. Tinggal menunggu rombongan komplit saja,” lapor Cik Onis sedikit waswas, takut suaminya berteriak di ujung sana.

Bang Aloy tak menjawab. Teleponnya mati sendiri akibat buru-buru dimasukkan ke kantong celananya. Dilemparnya semua peralatan kebun ke teras samping pondok kayu. Motor butut yang tak bersalah dihentaknya berputar arah. Bang Aloy cemas.

Bagaimana tak cemas? Bininya itu tak pandai berenang. Ini bulan ketika banyak angin kencang. Kalau ada apa-apa di tengah jalan, bisa lenyap istri tersayang.

“ONIIISSS, PUULAAANGNG…,” teriak Bang Aloy sepanjang jalan hutan.
“RAJIN BENAR KAU BIKIN ABANG JANTUNGAN!”


* menginap
¹ Aduhai, kasihan sekali suamiku
² Capek dia berkebun seharian

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.