Sepasang Kaki Buat Emak

Sepasang Kaki Buat Emak

Hidup adalah kesempatan yang harus diperjuangkan. Setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing. Ia dilahirkan dari rahim yang sudah ditentukan. Tak bisa mengelak, tak dapat menghindar. Menjalani setiap fase kehidupan dengan penuh keikhlasan.

Bocah lelaki itu dengan cekatan menjajakan koran di pinggiran jalan. Saat lampu merah tiba, ia segera berlari, menawarkan koran pada pengguna kendaraan yang berhenti menunggu lampu hijau kembali. Kesempatan itu tak disia-siakannya, karena dari setiap koran yang terjual, ia akan mendapatkan rupiah yang bisa dibelikan makanan. Jika hasil berlebih, ia sisihkan untuk disimpan dalam celengan.

Sungguh miris memang, anak sekecil itu harus berpacu dengan waktu, mengais pundi-pundi hanya demi sesuap nasi. Hak untuk belajar pun hanya tinggallah mimpi. Demi menghidupi sang ibu, ia harus rela menanggalkan seragam sekolah, dan mencari rizki di tengah terik matahari, terkadang di suasana dinginnya malam yang sepi.

Pekerjaannya sebagai penjual koran di pagi buta sampai siang menyapa, dilanjutkan dengan mengamen hingga waktu senja, saat kelam membahana, terkadang ia mencari barang bekas untuk dijual kembali keesokan harinya. Tak pernah membuat lelah atau pun jengah.

Bocah kecil berusia tiga belas tahun itu merelakan masa kecilnya terenggut paksa karena keadaan. Mau bagaimana lagi, hidup menempanya penuh perjuangan. Tak diizinkan berleha-leha, apalagi manja.

Sang ayah yang diharapkan menjadi tumpuan harapan, hilang entah kemana, hanya sang ibu yang sudah tak punya kedua kaki, sejak kecelakaan itu terjadi enam bulan yang lalu, mengharuskannya diamputasi. Sudah tak bisa memulung lagi. Mereka hanya tinggal berdua dalam rumah tak layak huni di kolong jembatan, pinggiran ibu kota.

Alif, adalah salah satu potret bocah jalanan yang digerus zaman. Meratapi nasib tanpa penyesalan. Menapaki satu demi satu takdir yang harus dijalankan. Mengubur mimpi indah yang menguar bersama kenyataan. Bekerja keras demi sebuah kehidupan.

Orang tak akan peduli dengan masa depannya. Orang hanya akan mengasihani, bahkan tak sedikit mencibir. Tapi ia bukan pengangguran yang hanya mengharap belas kasihan orang. Meski usia masih tergolong muda, ia berjuang dengan tenaga membaja.

Tak punya cita-cita yang muluk, hanya bisa membahagiakan sang ibu, sudah merupakan harapan besar. Tak pernah ia lihat senyum lepas dari bibir perempuan yang telah melahirkannya, dengan susah payah itu.

Sebagai seorang ibu, Mae, hanya bisa mengurut dada pilu, menyaksikan putra semata wayang harus berjuang sendirian, dari pagi hingga malam. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seharusnya ia bisa menempatkan Alif di sekolah bersama teman-teman sebaya, bermain dengan riang di sebuah lapang pinggiran kota, pergi ke musala saat senja menyapa. Tapi semua seakan sirna tatkala sakit mulai menggerogoti diri. Anak lelaki satu-satunya harus menggantikan posisi, sebagai tulang punggung keluarga. Sungguh menyedihkan.

“Alif tak apa-apa, Mak, bekerja buat kehidupan kita,” kata Alif saat Emak melarang menggantikannya mencari nafkah.

“Kalau kau kerja, bagaimana sekolahmu, Lif?” tanya Emak menatap sendu anak semata wayang.

Bibir bocah lelaki itu mengukir senyum, sembari kedua tangan memijit tangan emaknya.

“Alif berhenti sekolah aja, Mak. Fokus cari duit.”

“Sekolah itu penting, Nak, jangan sampai kau tinggalkan.”

“Kalau Alif sekolah, waktu cari duitnya sedikit, Mak. Lagi pula, sekolah ‘kan ada biayanya. Dari pada buat biaya sekolah, mending duitnya buat kita makan, Mak,” ujar Alif berlogika.

Emak tak bisa berbuat banyak. Keinginan Alif sudah bulat. Meninggalkan bangku sekolah untuk menggantikannya mencari nafkah. Meski berat, ia hanya bisa berpasrah.

Alif bertekad untuk membahagiakan Emak, satu-satunya yang disayang. Dalam hati ia berjanji, akan membelikan sepasang kaki palsu, agar Emak bisa berjalan lagi. Meski untuk itu, ia harus bekerja keras mencari lebih banyak lagi uang, ia rela, asalkan Emak bahagia.

**

Alif menatap kosong jalanan yang ramai hilir mudik kendaraan. Teman-temannya sudah berlarian ke jalan saat lampu merah tiba, untuk menjajakan dagangnya. Beberapa anak ada yang mengamen, ada pula yang meminta belas kasihan orang.

Namun bocah lelaki itu seolah tak tertarik untuk berbaur. Ia lebih asyik duduk di trotoar dengan koran yang masih menumpuk di tangan. Hari ini semangatnya seperti memudar, saat ia tahu jika harga sepasang kaki palsu mencapai angka tiga juta.

Alif pesimis. Kapan ia bisa membelikan Emak kaki palsu jika harganya semahal itu? Penghasilan jualan koran, mengamen dan memulung dalam sehari saja hanya cukup untuk makan, kalau pun bisa menabung, itu tak seberapa.

Uang yang sudah dikumpulkan selama empat bulan ini, baru enam ratus dua puluh ribu rupiah. Masih jauh untuk membelikan Emak kaki palsu. Akan memakan waktu yang lama untu Alif bisa mencapai harapannya.

“Kamu tidak jualan koran, Lif?” Mala, teman sesama pedagang di jalan, bertanya seraya duduk di samping Alif. Koran yang berada di tangan gadis kecil itu sudah hampir habis.

Alif menggeleng lemah.

“Kenapa?” tanya gadis kecil itu lagi, melihat Alif dengan tatapan heran.

“Malas,” ucap Alif singkat.

“Kamu kenapa, Lif? Lagi ada masalah? Cerita saja sama aku, siapa tahu bisa bantu,” ujar gadis itu peduli.

Alif menunduk lesu.

“Aku mau membelikan Emak sepasang kaki palsu, tapi setelah kutanyakan di toko, harganya tiga juta.”

Gadis itu terbelalak kaget. Tak menyangka ternyata sepasang kaki palsu harganya lumayan mahal.

“Sabar ya, Lif. Kau harus mengumpulkan uang lebih lama, untuk bisa membelikan Emak kaki palsu.”

“Kasihan Emak, harus melakukan semua sendiri saat aku cari duit.”

“Kau harus semangat, Lif, demi Emak bisa punya kaki palsu. Ayo kita jualan lagi!” Mala berseru, memberi Alif semangat untuk tak menyerah.

Dengan langkah gontai, Alif mengikuti langkah Mala menuju kendaraan yang berhenti di lampu merah.

**

Alif membawa sepasang kaki palsu yang dibeli dari hasil uang tabungannya selama setahun ini. Ia tak sabar untuk memberi Emak kejutan.

Dengan langkah tergesa, Alif bergegas pulang menuju rumah. Melewati ramai hilir mudik kendaraan. Perasaannya sudah diliputi rasa haru. Bisa memberikan Emak tawa bahagia, yang tak pernah ia lihat terlukis di wajah yang sudah menua.

Riuh ramai memenuhi rumah yang ia tuju. Orang-orang berkerumun dengan rata-rata berpakaian hitam. Pandangan mereka tertuju pada Alif yang datang membawa sepasang kaki palsu. Alif tertegun heran dengan apa yang terjadi di rumahnya.

“Alif, sabar ya, Nak,” ucap seorang lelaki yang Alif kenal sebagai Pak RT itu.

“Ada apa ini, Pak?” tanya Alif curiga.

“Masuk saja dulu, kau akan tahu sendiri nanti.” Pak RT merangkul Alif, menuju ke dalam rumah yang sudah penuh sesak.

Pandangannya tiba-tiba terarah pada sesosok tubuh yang sudah terbujur kaku, berbalut kain kafan. Wajah pucat perempuan yang ia cintai sepenuh hati itu tak bergerak. Segaris senyum terpatri, mengiringi air mata yang tumpah.

Alif berjalan menghampiri. Dalam diam ia duduk di samping jasad yang sudah tak bernyawa milik emaknya. Bulir bening mulai menetes perlahan dari kedua netra yang mulai redup. Harapan akan membahagiakan Emak sirnalah sudah.

Sepasang kaki hanya teronggok di samping Emak. Takkan pernah bisa menjadi pemiliknya. Alif meraung panjang dalam duka yang tak berkesudahan.

Sumber gambar : google

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.