Tarawih di Rumah Yuk, Bu

Tarawih di Rumah Yuk, Bu

Bu Mariyem adalah orang yang rajin dan solihah. Usianya belumlah terlalu tua. Sekitar 55 tahunan. Rumahnya yang bersebelahan dengan masjid membuat dia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Ketika di awal-awal Indonesia terjangkit covid 19 putra-putri Bu Mariyem mengingatkan ibunya untuk beribadah di rumah saja.

“Tidak usah ke masjid, Bunda. Kita tarawih di rumah saja. Kita berjamaah di rumah saja. Biar Mas Aryo yang jadi imamnya. Masjid kita ini terletak di tepi jalan raya. Banyak musafir mampir untuk shalat. Itu tidak aman, Bunda. Bisa saja mereka yang datang membawa virus covid 19.”

Sinta sebagai putri sulung berusaha menjelaskan kepada ibunya.

“Ah, kamu ini jangan terlalu berlebihan. Kita serahkan semuanya kepada Allah.”

Bu Mariyem menjawabnya ringan sambil membetulkan mukenah yang dikenakannya.

“Kalian berjamaahlah di rumah. Ibu berangkat ke masjid,ya……”

Masjid kami adalah masjid yang lumayan besar. Letaknya yang strategis di tepi jalan utama merupakan tempat singgah yang nyaman untuk para musafir. Ta’mir masjid menyediakan hand sanitizer dan beberapa alat semprot disinfektan untuk para jamaah. Juga mengukur suhu badan sebelum mereka masuk masjid. Sebuah ikhtiar yang baik untuk pengaman.

Hari ke 9 Ramadan, Bu Mariyem merasa tidak enak badan. Bangun tidur tubuhnya terasa sakit semua. Tenggorokannya terasa kering dan batuk-batuk. Sinta membujuk ibunya untu pergi ke dokter. BuMariyem menjawab santai.

“Tidak usah, nduk. Kan cuma sakit begini saja. Ibu mau ke masjid dulu.”

Di pelataran masjid, petugas pengukur suhu tubuh mendapati suhu tubuh yang tinggi pada 9 orang jamaah, termasuk Bu Mariyem. Ini membuat Bu Mariyem tidak jadi shalat tarawih di masjid dan kembali pulang.

“Ibu tidak enak badan, Sinta. Ibu tarawih bareng kalian saja di rumah.”

Masih dua kali salam, Bu Mariyem merasa pusing dan tubuhnya menggigil. Dia melepas mukenahnya dan berjalan ke tempat tidurnya. Sinta menyusulnya dan terkejut begitu memegang kening ibunya yang panas tinggi.

“Ayo, Mas. Kita harus membawa ibu ke dokter.” Teriaknya panik pada suaminya.

Mereka pun segera menuju klinik terdekat. Di klinik seorang dokter yang memakai APD memeriksa bu Sinta dan memberikan beberapa pertanyaan. Tak lama kemudian ia memberikan surat rujukan ke rumah sakit yang lebih besar untuk menjalani tes laboratorium. Sinta menangis sesenggukan ketika dokter itu mengatakan bahwa gejala yang dialami Bu Sinta menunjukkan gejala covid 19 dan harus di bawa ke rumah sakit yang lebih besar untuk menjalani tes laboratorium.

Para petugas yang memakai APD itu memasukkan ibunya ke mobil ambulance. Arya memeluk istrinya yang tidak bisa berhenti menangis dan meratap.

“Tenanglah sayang, kita berdoa semoga hasil tes ibu negatif. Sekarang ini hanya berdoa yang bisa kita lakukan.”

rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.