Melawan Pengangguran

Sumber gambar : galery mediagrup.com

Melawan Pengangguran

Topik pengangguran selalu menarik untuk dibicarakan. Mengapa masih saja terdapat pengangguran?, walaupun negaranya sudah maju. Biasanya terjadi karena reformasi struktural dari pasar tenaga kerja. Biaya tenaga kerja dan fleksibilitasnya jauh lebih besar daripada apa-apa yang dicapai perusahaan, kemudian terdapat deregulasi pasar tenaga kerja yang tidak mendukung. Nilai kesejahteraan suatu negara sangat kecil, belum mampu mewujudkan semua harapan masyarakat dengan kondisi ketenagakerjaan yang penuh (full employement).

Anjuran adanya reformasi tenaga kerja menjadi pilihan bagi negara berkembang. Mengapa? Karena banyak perusahaan yang dihadapkan pada kondisi kompetitif, pasar global, pekerja harus mampu menyesuaikan kemampuan dirinya dalam hal upah, dan banyak pekerjaan yang “tidak aman” dalam situasi tertentu. Penciptaan lapangan kerja baru sangat susah di saat ada kondisi tertentu yang tidak memungkinkan, misalnya musibah, wabah penyakit, kondisi ekonomi makro buruk, dll.

Pada tingkat agregat, pengangguran yang tinggi dan terus menerus, maka akan memunculkan terjadinya inefisiensi sosial besar-besaran. Apakah berlangsung lama? Bisa jadi lama, karena tidak ada produktivitas yang dihasilkan, walaupun masyarakatnya berpendidikan tinggi. Yang terjadi adalah pertumbuhan produktivitas tenaga kerja rendah. Namun, bisa jadi tidak bisa terjadi juga, karena adanya kebijakan yang tepat. Penanganan yang tepat pada akar masalah. Justru, kekakuan pada kebijakan akan aturan membuat persoalan semakin rumit.

Dalam konteks lain, persoalan pengangguran biasanya disebabkan karena turunnya upah, sehingga pekerja “rela” meninggalkan pekerjaannya, atau perusahaan tidak lagi mampu memberikan upah layak, sehingga ketimpangan pendapatan yang menyebabkan kemiskinan semakin marak. Ketimpangan dan pengangguran adalah dua sisi mata uang yang sama. Terdapat hubungan yang sama, kekuatan ekonomi mendasarkan pada harga, produktivitas, teknologi dan guncangan globalisasi. Permintaan tenaga kerja yang tidak terampil akan semakin berkurang. Dan pengangguran akan banyak dihasilkan oleh tenaga kerja yang tidak terampil ini.

Demikian, seringkali yang menjadi solusi agar pengangguran berkurang, disediakan oleh perusahaan adalah dengan memberikan upah tanpa membayar keamaan pekerjaan. Distribusi upah yang tidak merata, tetapi diberikan dalam bentuk upah rendah. Jadi pekerja tetap ada, walaupun dengan upah rendah. Demi menghapus pengangguran.

Lalu, solusi selanjutnya terdapat pada pilihan kebijakan yang di ambil pemerintah. Kebijakan memilih pengaturan melalui perbaikan-perbaikan kelembagaan. Sementara, para pakar ekonomi banyak mencirikan pemikirannya terkait pengangguran ini sangat berkaitan dengan kebijakan keuangan/moneter. Jadi, seringkali persoalan pengangguran tidak sempit pada persoalan upah, atau ketenagakerjaan tunggal, tetapi seringkali menjadi imbas adanya persoalan moneter.

Referensi :

R. Howell, David. 2005. Fighting Unemployment. The Limits Of Free Market Orthodoxy. Oxford Press.

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.