Cinta di Hati Rima – Bagian 5

Oleh Irma Syarief



“Datanglah dengan membawa keluargamu! Saya ingin banyak berbicara dan mengenal lebih dalam lagi dengan Uminya Nak Drey, “titah Papa.


Papa mengatakan itu ketika aku dan Bang Drey sampai di rumah menjelang sore dan langsung membicarakan rencana kami. Mama tentu sangat senang ketika mendengarkan berita ini. Adik-adikku sedang keluar rumah.


“Baik, Pak! Nanti saya sampaikan kepada Umi di Makassar. Semoga tidak ada halangan apa pun kedepannya,” jawab Bang Drey takzim. 


Kemudian laki-laki itu mohon pamit untuk kembali ke Jakarta namun sebelumnya hendak menjemput Mas Aksa dan salat Magrib di rumah Bu Ranti. Papa hanya tersenyum tipis. Sepertinya Papa sedang memberikan satu “peringatan” bahwa permintaannya itu bukan main-main. Mama kemudian mengelus punggung Bang Drey. 


“Hati-hati di jalan ya, Nak! Salam dari Mama untuk Umimu.” 


Mama mencoba mencairkan suasana yang sedikit membuatku tidak nyaman namun kulihat wajah Bang Drey biasa saja tak nampak kegundahan.


Aku mengantarnya hingga depan pintu pagar. Si Mata Elang itu berjalan di depanku perlahan. Sepi. Aku mengikutinya dengan diam. Badannya yang jangkung dan tegap seolah-olah menutupiku yang kecil dan mungil.


Tiba-tiba dia membalikkan badan dengan cepat dan tak terduga. Aku yang tidak siap dengan gerakan tubuhnya refleks menabrak. Tak sengaja, keningku menyentuh dagunya dan bagian depan aku dan Bang Drey sudah merapat begitu dekat. Dengan posisi telapak tanganku sudah menyentuh dadanya.


Kurasakan ada yang berdetak begitu kencang. Satu! Dua! Hei … ada dua jantung yang berdetak. Bukan hanya di dadaku. Ternyata suara itu terdengar dari dada si Mata Elang.


Langsung aku mundur beberapa langkah ke belakang. Malu dan terkesima. Aku menunduk menahan debaran yang semakin melaju. Belum pernah sedekat ini dengannya. Kalau pun kami berbicara dan pergi satu mobil, tidak pernah ada kontak fisik diantara aku dan Bang Drey. Aku hanya sedang menjaga diri dan kehormatanku. Bang Drey pun memiliki prinsip yang sama.


“Maaf, Dek! Abang … cuma mau kasih tau kamu aja kalau barang yang tadi di beli di Lembang belum diturunkan satu lagi. Kamu ambil ya di bagasi!”


Barang? Yang mana? Tadi kurasa semua sudah aku keluarkan. 


Hanya makanan khas Bandung dan beberapa cendera mata untuk Mama dan Papa. Itu pun Bang Drey yang beli di beberapa tempat yang kami kunjungi. Begitu juga sayuran, buah dan tahu susu yang kami dapat di sebuah tempat wisata kuliner yang paling terkenal dengan olahan susu dan tahunya. 


“Lihat dan ambillah! Pasti ada yang belum kamu ambil tadi.” Bang Drey berkata lagi seolah tahu apa yang aku pikirkan. Kemudian tertawa. “Jangan bilang kamu lupa ya! Yang jelas itu sangat penting buat kamu.”


Segera aku membuka bagasi belakang. Penasaran. Si mata Elang itu mengikutiku. Di sana, ada satu tas cukup besar dari bahan kanvas warna coklat. Kuraih dan terlihat ada satu dus lagi di dalamnya dibungkus kertas warna keemasan.


“Apa ini? Rima rasa ini bukan barang yang kita beli tadi lho! Dan kapan barang ini ada di sini? Tadi udah kosong, kok!” Aku heran sekali.


“Beneran bukan punya kamu, Dek?”


“Beneran, Bang! Bukan milik Rima.”jawabku jujur.


Bang Drey tertawa kecil dengan misterius. Aku hanya memandangnya bingung. Dia meyakinku untuk membawa bungkusan itu. Aku hanya bisa menerimanya. 


“He he he … itu bawa ya! Hadiah dari Abang buat Dek Rima. Spesial dibeli di tempat yang istimewa dan untuk yang istimewa juga. Apa itu? Penasaran ‘kan? Dibukanya nanti aja ya, kalo Abang udah pulang.” Godanya penuh teka teki.


Hhmm … ternyata itu kejutan untukku. 


“Makasih banyak, Bang! Terlalu berlebihan nih, sampai ngasih kado. Padahal bukan hari lahir lho.”


Bang Drey kembali tersenyum. Kemudian dia berlalu dan masuk ke mobil. Kulambaikan tangan dan menunggunya sampai mobil yang di kendarai menghilang di ujung jalan.


Setelah mengunci pintu pagar aku masuk dan menuju kamar. Azan Magrib sudah terdengar dari Masjid yang tidak jauh dari rumah. 


Magrib hingga Isya kuhabiskan di atas sejadah. Meminta doa, berzikir dan melantukan ayat-ayat Allah. Kulepaskan semua kegundahan dan juga harapan dengan penuh kepasrahan. Kusisipkan doa untuk si Mata Elang itu. Semoga Bang Drey menjadi pelabuhan terakhirku. 


Selesai salat teringat tas kanvas tadi. Didalamnya ada satu bingkisan yang cukup besar. Setelah kertas pembungkusnya kuurai, ternyata sebuah dus ukuran sedang dengan bahan yang tebal dan kokoh. Penutupnya bertuliskan sebuah nama. Sepertinya desainer atau sebuah brand luar. Rami Al Ali. Kupastikan isi di dalamnya tentu sesuatu yang mahal. Penutupnya segera kubuka perlahan.


Wow … cantik sekali.


Satu set kaftan berwarna hijau pupus dengan bordiran halus di bagian leher dan tangan selaras dengan warna kaftan namun lebih tua. Tidak banyak ornamen yang menempel dengan pola cutting sederhana saja. Cantik dan elegan. Bahannya serupa silk namun ini begitu lebih lembut kuraba. Bahan yang mahal. Lengkap dengan hijab segi empatnya. Kuperhatikan, ternyata di setiap bagian sudut hijabnya terdapat swarovsky yang menawan. 

Mengkilap dan glamour.
Desain dengan selera yang tinggi.


Di bawah kaftan terselip secarik kertas. 

Tulisan Bang Drey!


“Sudah dibuka ya hadiahnya? Pasti langsung deh. Abang yakin itu!”

(Sampai tulisan ini aku tertawa. Ternyata dia sudah memprediksikan) 


Jangan tanya bagaimana Abang bisa mendapatkannya. Baju itu Abang beli di satu tempat yang indah. Satu tempat dimana kita bisa melihat Asia dan Eropa secara bersamaan ketika melintas dengan kapal di selatnya. Abang punya keinginan bisa kembali kesana suatu hari dengan kekasih halal. Baju itu sebenarnya sudah ada sebelum Abang mengenal Dek Rima. Tau engga? Ketika pertama melihatnya di sebuah butik dan dikatakan itu limited edition, Abang buru-buru membelinya. Entah untuk siapa?

Yang jelas di hati seolah mengatakan, ambil!

Akhirnya kaftan itu menunjukan siapa pemiliknya. Di pakai ya!”


Air mataku meleleh …

Kupendarkan pandangan keluar jendela. Bintang dan bulan sedang bercengkrama mesra di langit sana. Cantik sekali!

Ku yakin, saat ini kita terpisah namun kita memandang langit yang sama.


Mata Elang … 



Kutitipkan rindu pada angin

Kusimpan rasa pada awan

Kubisikan renjana pada bulan



Aku telah jatuh cinta 

pada seseorang yang kisahnya telah terukir

dalam rajutan aksara yang indah

Dalam doa-doaku


🍁


– Bersambung- 

rumahmediagrup/irmasyarief

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.