Kisah Dalam Masa Corona yang Belum Juga Berlalu

Kisah Dalam Masa Corona yang Belum Juga Berlalu

“Sudah hari ke-28 kita melaksanakan ibadah puasa, tapi tak sehari pun Ayah bersama kami. Reyhan sudah sangat merindukan Ayah.”

Kata-kata Arini tercekat. Ia mencoba menahan rasa yang hendak menyeruak lewat kedua netranya.

“Maafkan, Ayah, Bu. Ayah sepertinya takkan bisa pulang sampai lebaran nanti.”

Pertahanan Arini akhirnya luruh juga. Ia menangis tertahan seraya menggenggam erat benda pipih di samping telinganya.

“Bu…”

Suara lelaki di seberang sana tak membuat Arini tersentuh. Panggilannya terdengar lirih. Bulir bening itu pun mengalir di kedua pipi lelaki yang tengah terduduk lesu di bangsal rumah sakit.

Ia rindu, teramat rindu dengan putra semata wayangnya. Ia rindu dengan perempuan yang sudah sebelas tahun menjadi istrinya itu. Ia rindu dengan keluarga kecil yang begitu dicintainya.

Pengabdiannya sebagai seorang dokter spesialis dalam, mengharuskannya ikut merawat pasien Covid-19 di rumah sakit tempatnya bekerja.

Sudah empat puluh enam hari ia tak pulang. Sebuah asrama yang tak jauh dari rumah sakit, menjadi rumah keduanya. Tak ada lagi tawa riang putra kebanggaan, tak ada sentuhan kasih istri kesayangan.

Kini semua terasa hambar dalam hidup Randi, lelaki yang kini sudah dinyatakan positif terkena covid-19. Ia menjalani masa karantina bersama dengan beberapa pasien positif lainnya.

Ia tak sanggup mengatakan keadaan yang sebenarnya pada Arini. Ia tak ingin membuat perempuan itu semakin cemas. Ia hanya berharap akan segera sembuh dari sakitnya dan pulang kembali ke rumah. Berkumpul dengan keluarga yang sangat dirindukan.

Masih terdengar isak tangis tertahan dari seberang. Randi tak ingin mengusik kesedihan Arini. Ia hanya mendengar dalam diam. Merasakan sakit yang tengah dirasakan istrinya.

“Bagaimana keadaan, Ayah?”

Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut Arini. Egois rasanya jika ia mempertahankan rasa sakit, dan mengesampingkan perasaan suaminya yang juga terluka dengan ketidak pulangannya ke rumah, hingga lebaran nanti.

“Ayah baik.”

Ucapan Randi seakan sembilu yang menghujam dadanya sendiri. Ia telah memberikan kebohongan besar pada istrinya. Bagaimana jika ia tak bisa selamat, melawan virus yang kini tengah menggerogoti tubuhnya itu?

Bagaimana bisa ia menghadapi Arini dengan membawa kebohongan itu hingga ajal menjemput? Akankah istrinya memaafkan rahasia yang coba ia sembunyikan sendiri? Hati Randi terasa perih.

“Buuu, Reyhan sebentar lagi khatam Al-Qur’an.”

Teriakan Reyhan membuyarkan kesedihan Arini. Ia berusaha menyembunyikan duka yang beberapa saat lalu menyelimuti wajahnya.

“Ibu habis nangis?” tanya bocah lelaki itu seraya menghampiri dan memperhatikan mata sembab ibunya.

Arini menggeleng. Digenggamnya gawai dalam pangkuan. Sementara Randi masih menyimak obrolan antara putra dan istrinya itu.

“Ada sesuatu yang membuat Ibu sedih?” tanya Reyhan lagi. Kali ini mimiknya serius, masih tak berpaling dari wajah ibunya.

Arini mencoba sekuat hati menyembunyikan rasa itu. Ia tundukkan kepala, tak kuasa menatap mata Reyhan yang menyelidik.

“Siapa yang menelepon?”

Kali ini sepertinya Reyhan tak sabar. Ia dengan cepat menyambar gawai yang berada dalam genggaman Arini.

Reyhan terkejut melihat sebuah nama yang tertera di layar. SUAMIKU.

Ragu-ragu, Reyhan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Beberapa saat lamanya, tak ada suara yang tercipta. Hanya deru napas saling berlomba, mengejar waktu yang seakan terasa cepat berlalu.

“Ayah….”

Akhirnya kata itu berhasil keluar dari mulut Reyhan dengan suara lirihnya.

Randi kembali meloloskan bulir bening itu dari kedua netranya. Ia tahan kuat-kuat agar tak terisak.

“Reyhan…,” panggil Randi parau.

“Ya, Ayah.”

Reyhan menjawab dengan penuh kerinduan. Ingin sekali ia bisa memeluk sosok yang memanggilnya itu. Setelah sekian lama, ia akhirnya bisa mendengar suara itu.

“Reyhan baik-baik saja ‘kan?” tanya Randi mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh diliputi rindu.

“Reyhan baik, Ayah. Kapan Ayah pulang?”

Pertanyaan Reyhan itu membuat Randi bisu. Ia tak bisa menjanjikan apa pun pada putranya itu. Ia pun tak pernah tahu kapan ia bisa kembali dan melihat wajah orang-orang yang dicintainya.

“Ayah tak akan pulang lebaran besok?”

Masih tak ada jawaban.

Reyhan mulai terisak perlahan.

“Reyhan kangen Ayah,” ucap Reyhan membuat pertahanan Randi roboh. Ia pun ikut terisak menahan perih.

“Maafkan Ayah, Nak. Ayah belum bisa menemuimu dan ibumu. Pekerjaan Ayah tak membiarkan untuk bertemu kalian dalam waktu dekat ini. Tolong Reyhan bisa mengerti ya.”

“Ayah baik-baik aja ‘kan?”

“Tentu, Ayah baik di sini. Reyhan jaga diri ya, jaga Ibu juga. Bila saatnya nanti, kita pasti akan berkumpul kembali.”

“Ya, Ayah.”

Percakapan mereka harus terhenti sampai di sana. Reyhan menghambur dalam pelukan ibunya. Mereka pun larut dalam tangisan tak berkesudahan.

“Kapan Corona ini akan berakhir, Bu?”

Pertanyaan Reyhan membuat Arini bingung. Ia pun tak tahu kapan wabah ini akan berlalu. Mungkin selama pandemi ini masih merajalela, selama itu pula ia dan suaminya tak akan pernah bisa bertemu.

Akankah perpisahan mereka tetap berlangsung selama masa virus Covid-19 masih menguasai bumi? Pada siapa ia akan menggantungkan hidup selama masa itu terjadi?

Arini tak pernah tahu, kapan wabah ini menghilang. Ramadan segera berlalu, tapi tanda-tanda kepergian makhluk tak kasat mata itu tak jua terlihat. Obat penangkal pun belum juga ditemukan. Solusi untuk memerangi virus pun tak jua menemukan titik terang.

Hanya kesabaran dan kepasrahan yang bisa dilakukan. Berharap dan terus berdoa agar wabah ini segera hilang dari muka bumi. Mengembalikan kehidupan yang tenteram dan nyaman seperti sebelumnya.

Sementara itu, Arini tak pernah bosan mengingatkan Reyhan untuk tetap menjaga diri. Menghindari hak-hal yang dihimbau pemerintah. Ia tahu, putranya itu mulai merasakan bosan berada seharian di rumah, tapi ia tetap berusaha memberikan pengertian, jika perang yang sesungguhnya justru melawan hawa nafsu.

Di saat kita sudah berada di titik kejenuhan dengan aktivitas yang berkutat di situ-situ saja, kita berusaha melawan diri untuk tetap tidak melanggar apa yang sudah menjadi aturan keselamatan.

Tetap berdoa, memohon perlindungan Yang Maha Kuasa dari segala macam marabahaya yang mengintai. Lebih memanfaatkan waktu selama di rumah dengan memperbanyak ibadah dan melakukan hak-hal yang positif.

Mesipun tak ada Randi di sampingnya, Arini mencoba menggantikan peran ayah di rumah. Melakukan pekerjaan yang biasa Randi lakukan dan mendampingi Reyhan selama masa-masa di rumah saja.

Tak mudah memang. Tapi ia berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi putranya. Ia sudah kehilangan waktu bersama suaminya, ia tak ingin kehilangan waktu juga bersama Reyhan, putra tercintanya.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.