sumber-pribadi-rmg

Penulis Mental Copas

Iklan

Penulis Mental Copas

Baru saja saya dapat wapri maupun pemberitahuan di grup WA penulis web RMG, dari salah satu penulis web, mbak Irma Syarief. Saya kaget, beliau memberitahukan tulisannya diposting di satu website (masih domain gratisan) tanpa ada namanya di sana alias dicopas oleh orang lain, tanpa izin tanpa mencantumkan sumber atau nama penulis.

Miris. Sungguh miris, ternyata dengan mudahnya orang tersebut mengcopi tulisan orang lain tanpa izin tanpa mencantumkan sumber dan tanpa mengedit sama sekali. Dicopi dari awal sampai akhir.

Saya menyayangkan mental penulis seperti ini (plagiator) yang dengan mudah memplagiat tulisan seseorang dan dimasukkan ke dalam media pribadinya (medsos, media online, koran, majalah, buku) kemudian diakui sisi olehnya.

Menulis itu tidak mudah. Butuh inspirasi dan ide segar, kadang beberapa orang perlu merenung lama untuk bisa menulis. Tapi dengan mudah penulis dengan mental copas mencuri tulisan tersebut dan dijadikan tulisannya dengan tujuan tertentu (meraih keuntungan, ketenaran, kepuasan, dll).

Sejatinya, seorang penulis haruslah memiliki ide segar dan original. Tentunya perlu banyak membaca, melihat, mengamati sekitar maupun membaca referensi di buku agar bisa membuat tulisan yang bagus dan bermanfaat. Jika dirasa harus memuat tulisan dari referensi lain, maka penulis wajib menyertakan sumber asli tulisan tersebut. Tentunya tidak mengcopi keseluruhan tulisan tanpa ada keaslian tulisan sendiri.

Iklan

Media online rentan plagiasi tulisan

Perihal copi paste tulisan atau bahasa kasarnya plagiat itu bukan hal yang baru dalam dunia kepenulisan. Masih teringat beberapa tahun ke belakang, heboh di FB (yang tahu mungkin kalangan penulis saja) ada seorang penulis memplagiat puluhan tulisan orang lain dan dilombakan. Si plagiat tersebut menang dalam berbagai lomba menulis yang diikuti. Ternyata, terungkap bahwa tulisan yang dilombakan adalah hasil plagiat dari tulisan para penulis lainnya. Hingga akhirnya, plagiator ini viral di medsos.

Lain FB lain website. Di web, banyak sekali plagiator yang asal comot tulisan dan diterbitkan di websitenya. Tanpa ada sumber tanpa penulis. Hingga saya sempat bingung ketika membaca tulisan beberapa website isinya sama tapi beda penulis. Yang jadi pertanyaan, siapa penulis aslinya?

Bagaimana dengan media cetak?

Saya memiliki pengalaman buruk beberapa belas tahun ke belakang. Waktu itu kelas 3 (XII) SMA. Mengirim tulisan ke media cetak yang jadi langganan perpus sekolah. Isinya tentang UAN, karena pada saat itu mendekati UAN dan saya mencoba menulis semalam suntuk meminjam komputer asrama malam-malam sendiri mengetik tulisan sambil gelap-gelapan (horor ya). Waktu itu malam Kamis (untungnya bukan malam Jumat). Hari Kamisnya saya kirimkan tulisan via pos ke alamat redaksi. Hari Rabu depannya dapat surat dari pihak koran. Deg-degan dan senang rasanya, tulisan saya direspon oleh koran tersebut. Tapi sayang, isinya adalah penolakan terhadap tulisan saya, karena belum memenuhi standar mereka dan tulisan saya dianggap plagiasi. (OMG, cius lu??) Sedih bercampur bahagia. Sedih tulisan saya ditolak, tapi bahagia tulisan saya direspon.

Besoknya, hari Kamis (seminggu dari pertama mengirim tulisan) hasil kerja keras semalam suntuk diterbitkan pihak koran. Tapi, saya marah! Ternyata tulisan saya diplagiat atau dibajak. Tulisan saya dicopas pihak koran dari awal sampai akhir plus tips n trik mengatasi UAN. Yang membedakan hanya ada satu kalimat percakapan yang memang saya tidak mencantumkannya. Di akhir tulisan ada nama penulisnya: tim penulis “…” (koran tersebut). Masyaallah, sakit hati ini, tulisan yang saya kerjakan semalam suntuk sambil gelap-gelapan di ruang komputer asrama (saat SMA saya mondok di asrama) ternyata diplagiat orang lain. Yang sangat disayangkan, plagiator itu ternyata salah satu tim dari penulis redaksi dari koran besar di Indonesia.

Dari kejadian di atas, bisa disimpulkan, bahwa penulis model copas itu ternyata banyak sekali. Dari kalangan biasa hingga penulis profesional.

Jika kita ingin jadi penulis, jadilah penulis yang jujur. Jujur di sini bukan hanya tentang isi tulisan saja, tapi bagaimana mendapatkan tulisan juga. Hargai karya tulisan dari penulis lain. Jika ingin mengambil, menyadur, memasukkan dalam tulisan kita, haruslah disertai kode etik atau etika penulis berupa sumber asli/sumber referensi/daftar pustaka atau apa pun sebutannya.

Menulis adalah amalan, yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. jadi, penulis mental copas? No way!

rumahmediagrup/ilhamalfafa

7 comments

  1. Setuju pak…puisi saya pernah di-copas fb, gak masalah sih kalau menyertakan sumbernya, tp yg copas santuy aja. Yo wes lah.🤭

    Disukai oleh 1 orang

  2. Tulisanku kayaknya belum pernah di palgiat, mungkin karena enggak bagus hehehe, tapi kall foto hasil jepretan pernah beberapa kali diaku hasil karya orang lain 😂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.