SUNGKEMAN VIRTUAL

Menyambut datangnya Hari Kemenangan sering disebut Hari Raya atau Lebaran setelah sebulan penuh berpuasa dibulan ramadhan tentu memiliki nilai sensitifitas yang tinggi. Ada rasa keharuan dan religi tingkat tinggi. Timbulnya rasa syukur kepada Allah Swt karena masih diberi kemampuan untuk mensucikan diri kembali ke fitri. Begitu tiap tahun dirasakan oleh kita umat manusia.

Perihal tradisi dan budaya “datang” yang berlaku hampir disemua wilayah tentu berbeda tata caranya, meskipun hal itu tidak memiliki SOP tertulis, tradisi natural dimasyarakat. Budaya sungkeman pada masyarakat Jawa, misalnya hampir serupa juga dengan budaya Nyorog di Betawi, atau Kirim Rendang di Minang dan seterusnya.  Dalam catatan Wikipedia, Arti dari kata sungkem adalah tanda bakti dan hormat yang dilakukan oleh kedua pengantin ke hadapan orang tua serta keluarga yang lebih tua (pinisepuh) dari kedua belah pihak, menunjukkan tanda bakti dan rasa terima kasih atas bimbingan dari lahir sampai ke perkawinan. Dalam pemaknaan yang lebih luas, perilaku tersebut berlaku pula pada tradisi di hari raya. Tradisi sungkeman, nyorog maupun kirim rendang adalah sebagai bukti nyata bhakti seorang anak terhadap orangtua, murid kepada guru, atau adik kepada kakak, yang lebih muda kepada yang lebih tua. Dihari itu semua mencair, melebur jadi sebuah keharuan dalam jabat tangan, pelukan erat, cipika cipiki dan tertawa riang akhirnya. Itu disaat normal. Lalu bagaimana ketika saat itu berganti seprti hari ini disaat pandemic Covid 19 sedang puncaknya? Tentu saja hal ini sulit dilakukan. Pelarangan pemerintah dengan memberlakukan larang mudik dan pulang kampung, pemberlakuan social dan physical distancing serta PSBB tentu semakin sulit bagi kaum urban atau anak rantau untuk kembali ke kampung. Tradisi mudik atau pulang kampung jadi terhambat. Rasa rindu dan kangen jadi tersumbat. Lalu, bagaimana semua kerinduan harus tertambat? Oh My God!

Budayawan Sujiwo Tedjo dalam sebuah dialog di televisi secara ekplisit menyatakan bahwa tradisi sungkeman hadir diri dapat digantikan secara virtual melalui kemajuan teknologi. Iya, betul. Menggunakan handpone yang sederhana hingga super canggih dapat dilakukan telepon, video call untuk menyampaikan rasa kangen dan ridu berat tersebut. Selesai. Namun tentu saja rasanya berbeda. Kurang manjleb, begitu. Niscayanya tradisi dan kebudayaan sebagai sebuah peradaban umat manusia memang dapat berubah bahkan bisa diubah. Tentu saja memerlukan waktu yang cukup panjang. Sebagaimana juga secara gamblang dinyatakan oleh Budayawan Babeh Ridwan Saidi. Budaya yang sudah menjadi tradisi disuatu masyarakat sangat sulit berubah, karena itu sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun. Hal nya perubahan budaya sungkem nyata, ngejogrog, hadir secara fisik diganti dengan hadir secara virtual tentu saja dapat dilakukan. Ketika musim Pandemik seperti saat ini, kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi dipandang dapat menolong, namun sejatinya memang harus hadirkan diri secara utuh dihadapan orangtua, keluarga yang dihormati. Semoga sungkem ala Corona tidak akan terulang di hari raya berikutnya. Dan, peradaban yang bernilai sangat tinggi tidak terganti oleh teknologi.

Majayus Irone/Budayawan/Rumahmediagrup.com/Artikel Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.