Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi 15. Khasiat Gaiś (Air Hujan)

Tibbun Nabawi – Sehat Ala Nabi

15. Khasiat Gaiś (Air Hujan)

Oleh Irma Syarief

Langit terlihat mendung. Awan hitam mulai menggelayut. Udara terasa dingin. Bau tanah mulai menyeruak. Berbeda sekali dengan keadaan tadi siang. Begitu kontras. Matahari sangat garang memancarkan panasnya di atas kepala. Peluh begitu ramah menemani para petani yang berjibaku dengan tanah persawahan dan juga kebun.

Petrichor. Aroma itu semakin tajam dan menguat. Titik-titik air hujan mulai menetes berjatuhan dari langit menimpa tanah yang kering. Aroma yang khas milik hujan yang turun ke bumi. Kini, gerimis itu datang lebih deras dan memaksa manusia untuk berdiam diri dalam rumah masing-masing.

Anak-anak sudah masuk kamarnya masing-masing. Satu kamar biasanya diisi dua atau tiga anak. Paviliun itu terbagi dua ruangan yang terpisah oleh tembok. Sisi kiri diisi anak-anak laki-laki dan sisi kanan milik anak-anak perempuan. Kamar Umi dan Abah berada di tengah-tengah mereka.

Sore ini tidak ada kegiatan apa-apa. Hanya sedikit berbenah dan mengangkat jemuran yang sudah kering. Mak Isah, Umi, Sarah dan beberapa anak perempuan baru saja selesai memasak untuk makan malam selepas Magrib nanti.

Tak terasa Magrib menjelang. Abah dan anak-anak laki-laki sudah ada di Masjid. Anak-anak perempuan dipimpin Umi salat berjamaah di rumah. Kemudian lanjut membaca Alquran. Hujan lebat masih mengguyur bumi dengan deras. Suaranya memecahkan kesunyian Kampung Darmasatya.

Akhirnya Isya pun menjemput. Niat makan malam selepas Magrib akhirnya terjeda. Pukul tujuh lebih tiga puluh menit bada Isya, Abah pulang diikuti oleh Gustaf, Rahman, dan anak-anak laki-laki. Makan malam pun tersaji. Sederhana namun penuh kenikmatan. Ada keberkahan.

“Hujan gini enaknya makan mulu ya,” kata Abah memecahkan kesunyian.

Umi mengangguk.”Yang penting, abis makan jangan tidur dulu.”

Selesai makan semuanya berkumpul di ruang keluarga. Ada beberapa anak laki-laki yang memijit kaki Abah. Begitu juga Umi. Hawwa dan Aisyah paling berinisiatif memijit kaki Umi.

“Siapa yang suka mandi air hujan?” tanya Abah.

Hampir semua anak mengacungkan tangannya. Kecuali Sarah. Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa Sarah engga suka mandi air hujan.” tanya Umi. Semua mata memandang Sarah.

“Enak lho, Kak Sarah! Main hujan itu kayak dipukul-pukul badannya. Geli tapi bikin senang,” ujar Ibrahim. Yang lain ikut bersuara mengatakan berbagai pendapatnya.

Sarah terdiam. Matanya berkaca-kaca.
“Sarah pernah jatuh waktu hujan turun, Mi! Udah gitu hujan bikin Sarah kehilangan Bapak karena hanyut kebawa sungai abis pulang dari kota.” ungkap gadis itu pelan.

Umi memeluk bahu Sarah dan mengusap kepalanya dengan kasih sayang. Anak-anak perempuan lain ikut memeluknya. Menguatkan hati gadis belia itu. Sarah tersenyum kembali.

“Bah, ceritain dong khasiat air hujan. Kayaknya pernah deh diceritain sama Ustad Muhazir,” pinta Rayhan. Anak-anak lain juga menyetujui usul Rayhan.

Abah mengangguk dan mengiyakan permintaan anak-anak.

“Gaiś atau hujan disebut di beberapa tempat dalam Alquran. Kata ini enak didengar sehingga meresap ke dalam jiwa dan raga, menimbulkan kesenangan tersendiri ketika kata ini disebut,” kata Abah berfilosofi.

Lalu Abah meneruskan. “Air hujan itu adalah air yang paling baik, lembut, bermanfaat, dan paling besar berkahnya. Apalagi jika berasal dari awan yang disertai gemuruh, dan airnya terhimpun di rawa pegunungan.”

“Air hujan paling lembab diantara macam-macam air karena tidak terlalu lama menimpa tanah. Sehingga bisa dimanfaatkan dan tidak terkontaminasi oleh elemen kering yang ada. Karena itulah, air hujan cepat berubah karena kelembutan dan reaksinya.”

“Hujan itu membawa keberkahan untuk makhluk di dunia ini.” Abah memandang jendela yang berembun.

“Air hujan sangat diperlukan oleh tanaman agar bisa tumbuh dengan baik atau fotosintesis. Jika kekeringan akibat kemarau yang panjang, maka hasil panen tidak akan baik. Selain itu, hujan yang meresap dalam tanah akan menjadi air tanah. Nah, air tanah ini yang akan dipakai manusia untuk mencuci, memasak, dan kebutuhan hidup lainnya.”

“Energi listrik, kalian tahu dari mana? Dari air yang ditampung di danau buatan dan diubah serta dimanfaatkan untuk energi listrik dengan peralatan teknologi yang canggih. Selain itu, air hujan bisa juga untuk air minum yang sudah di proses terlebih dahulu.”

“Kalian lihat hutan Kalingga sana?” tunjuk Abah ke arah hutan nun jauh disana yang terlihat gelap dan sunyi. “Di sana, pohon-pohon dan hewan liar membutuhkan air yang banyak untuk kelangsungan hidup. Pohon juga membantu penyerapan air hujan dan mencegah banjir.”

Anak-anak menyimak cerita Abah dengan suka cita. Suasana hangat dalam kesunyian. Gustaf dan Rahman menutup dan mengunci pintu pagar depan.

“Nah sekarang, kalian masuk kembali ke kamar masing-masing. Jangan lupa cek pintu dan jendela. Udara malam ini sangat dingin. Waktunya istirahat.” Abah menutup cerita malam ini.

Para penghuni rumah pun bersiap menuju peraduan setelah berwudu.

****
AlQuran

1.Surat Asy-Syura Ayat 28

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.

2. Surat Al Qaf Ayat 9

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.

3. Surat Ibrahim Ayat 32

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

*****

Medical Hadis
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya, lalu beliau guyurkan badannya dengan hujan. Kamipun bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa anda melakukan demikian?” Jawab Rasulullah,“Karena hujan ini merupakan rahmat yang diberikan Allah.” (HR. Muslim )

****

Referensi :
– Alquran Cordoba – Amazing
(Ibnul Qayyim Aljauziyyah, Zadu’l Ma’adi fi Hadyi Khayri’l Ibadi, Juz 4 t.t. :346)
– Google, berbagai jurnal islam dan kesehatan

Selasa, 19 Mei 2020

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.