Corona, Pergilah!

Corona, Pergilah!

“Tante, kapan aku masuk sekolah, ya?’ tanya Feyrus salah satu keponakanku sambil mengelus-elus kucing peliharaannya.

Kutatap anak kelas 6 itu. Sudah 2 bulan ia libur sekolah, sama denganku yang bekerja dari rumah.

“Hmm … belum tahu, Fey, kayaknya kamu kelas 6 terus sampai akhir tahun 2020 ini,” godaku.

“Ih, Tante, lo? Aku kangen teman-temanku ….”

Aku termenung. Tak hanya Feyrus, dua keponakanku lainnya, Andika dan Umar, juga terkena imbas Covid-19, skripsinya menjadi terhambat.

Tak ada yang menduga kalau wabah Covid-19 ini sedemikian dasyat imbasnya. Sekolah-sekolah dan kampus-kampus diliburkan, ribuan orang kehilangan pekerjaan akibat ditutupnya tempat kerja mereka, rakyat kecil menjerit memikirkan bagaimana mereka bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari. Bahkan untuk bisa berjumpa dengan sanak saudara di kota asal pun tak bisa.

***

Ironi, itu yang kurasakan saat aku melewati sebuah pusat perbelanjaan beberapa hari lalu. Parkiran kendaraan meluap hingga ke jalan raya. Nampak para petugas berseragam melakukan patroli dan menginformasikan melalui pengeras suara agar masyarakat yang berbelanja menerapkan physical distancing. Para penegak hukum itu dapat menindak tegas kerumuman warga yaitu mereka menerapkan aturan PSBB atau menyuruh pulang para pengunjung.

Begitulah, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diterapkan pemerintah kerap dilanggar. Berbondong-bondong bak tawon masyarakat memadati ruang-ruang publik seperti pasar dan pusat-pusat perbelanjaan untuk membeli baju baru lebaran dan kebutuhan lainnya. Dua bulan “terpenjara’ dalam rumah menjadikan mereka lupa bagaimana keganasan Covid-19.

Tak bisakah mereka menahan diri untuk tidak membeli baju baru?

Padahal, pemberlakuan PSBB ini merupakan salah satu  cara untuk mengendalikan penularan Covid-19. Namun, apa yang kita saksikan baik secara langsung maupun melalui media elektronik sangatlah menyedihkan. Banyak pusat-pusat perbelanjaan dan pasar yang tidak memberlakukan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 seperti physical distancing, screening suhu tubuh, serta penyediaan hand sanitizer atau tempat cuci tangan.

Lantas, kapan pandemi Covid-19 akan berakhir?

Menurut para pakar kesehatan, kapan pandemi berakhir bergantung pada tingkat kepatuhan dan perilaku masyarakat. Diharapkan semua pihak disiplin, memiliki kesadaran tinggi, serta mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan dari pemerintah dalam menanggulangi Covid-19 ini kalau tidak mau resikonya tertular Covid-19.

Tak mampu kubayangkan jika wabah ini terus berlangsung. Semoga pandemi ini segera berakhir, ya Allah.

Yang pasti aku meyakini, di dunia ini ada awal pasti ada juga akhirnya karena tak ada yang abadi selain Dia.

Pertokoan kembali dibuka
Foto: winda’s collection

***

Rumahmediagrup/windadamayantirengganis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.