Kisah Pengorbanan Si Patung Emas Raja

Di sebuah kerajaan Antah hiduplah seorang raja yang merasa egois, ia lebih penting memikirkan dirinya dibanding dengan kepentingan dan kehidupan rakyatnya. Banyak rakyatnya hidup dalam kemiskinan namun raja seakan tak peduli dengan semua itu. Suatu saat ia berencana membuat patung dirinya dengan bahan yang terbuat dari emas.

“Buatkan Aku patung yang terbuat dari emas dengan memakai jubah kebasaranku dan mahkota indahku. Tingginya melebihi kubah kerajaan jadi dapat terlihat di seantero kerajaan,” ujar Raja Wira kepada arsitek kerajaan.

Para pekerja bekerja keras dalam membuat patung sang raja. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun para pekerja bekerja tiada henti. Akhirnya pada tahun ketiga selesai juga patung emas sang raja, betapa bahagia dan bangganya sang raja. Tibalah saatnya mengumumkannya ke seluruh rakyatnya. Rakyat Kerajaan Antah  tak sabar melihat patung emas yang akan resmikan oleh Raja Wira. Sorak-sorai dan tepuk tangan mengiringi dibukanya kain sutera yang membungkus patung emas tersebut. Tampak gagah, kokoh dan indah patung yang dibuat untuk Raja Wira.

Rakyat kerajaan Antah begitu bangga dengan dibuatnya patung emas tersebut. Mereka berduyung-duyung untuk melihat keindahan patung tersebut. Hari berganti hari patung emas masih kokoh berdiri tegak di pusat alun-alun kerajaan. Burung-burung seringkali singgah dan hinggap di tubuh patung tersebut. Tiba-tiba,

“Hai burung !” setengah berteriak.

Burung-burung yang hinggap di patung tersebut terkejut mencari sumber suara.

“Di sini !, aku patung yang kau hinggapi !” ujarnya lagi.

“Oh … kamu bisa bicara?” ucap salah satu burung.

“Aku berdiri kokoh di atas sini sehingga aku dapat melihat seluruh wilayah kerajaan, begitu luasnya wilayah kerajaan Antah ini. Namun ternyata tak semua rakyatnya hidup makmur, ada banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan hal ini luput dari perhatian sang raja. Raja hanya memperhatikan yang terlihat tanpa tahu bahwa rakyatnya ada yang menderita,” lirih patung menjelaskan pada burung-burung.

Burung-burung diam mendengarkan dan menyimak ucapan sang patung.

“Memangnya apa yang dapat kamu lakukan untuk menolong rakyat yang miskin, kita tak dapat berbuat apa-apa,” timpal sang burung.

“Ada ! Untuk apa aku berdiri di sini orang-orang lalu lalang tak lagi memperhatikan diriku sementara rakyat yang miskin tengah kelaparan. Paruh kamu sangatlah kuat patuk-patuklah badanku yang terbuat dari emas ini agar emas yang menutupi seluruh tubuhku lepas, kemudian bawalah ke rumah-rumah rakyat agar mereka dapat memanfaatkan serpihan emas dari tubuhku,” jelas patung.

Sejak percakapan tersebut setiap burung mulai mematuk-matuk tubuh patung tersebut, kemudian membawa serpihan emas untuk diletakkan di depan rumah rakyat miskin. Lama-kelamaan emas yang menutupi tubuh patung tersebut habis dan tersisa kerangka besi. Saat raja mengetahui hal ini ia segera memerintahkan prajuritnya untuk merobohkan dan membakar kerangka patung tersebut.

Burung-burung amat sedih mengetahui bahwa patung akan dibakar. Mereka takkan pernah melihat sosok patung yang gagah dan indah. Demi menyelamatkan rakyat kerajaan Antah dia rela mengorbankan dirinya. Sungguh pengorbanan yang besar, karena pengorbanan sang patung rakyat Antah tak ada lagi yang hidup dalam kemiskinan.

Ilustrasi Gambar : Karya Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.