Luka Membawa Duka

Luka Membawa Duka

Di luar hujan masih turun dengan deras. Sesekali kilatan cahaya petir seperti membelah langit, mengetuk kasar bangunan rumah, memekakkan telinga. Membuat dada berdetak kencang seketika.

Berkali-kali Rania melantunkan kalimat tasbih. Berharap suasana seperti ini takkan lama. Keadaan rumah begitu sepi, hanya berteman rinai hujan dan guntur menggelegar.

Tak ada orang lain di rumah itu selain dirinya. Sang suami tercinta biasa pulang dari kantor menjelang Isya. Mau tak mau, Rania harus mengungkung rasa takutnya seorang diri. Menunggu sang kekasih hati datang kembali.

Hari masih sore kala hujan mulai turun mengetuk genting. Semakin deras tanpa kompromi, ketika Rania selesai melaksanakan salat Magrib tiga rakaat.

Perempuan berjilbab itu menatap nanar ke luar jendela kamar. Hanya curahan hujan saling berlomba sampai di dasar tanah. Percikannya mengaburkan kaca jendela.

Bayang-bayang pepohonan yang tertiup angin seakan menari-nari, memanggil dirinya yang berteman sepi. Rania bergidik ngeri.

Malam sudah beranjak dengan singgasana kebesarannya. Menguasai bumi dengan gagah perkasa. Menyuarakan teman-teman yang biasa mendampingi. Rania masih belum beranjak dari sisi jendela.

Baru seminggu ini Rania menempati rumah baru di kawasan elit ibu kota. Kepindahannya sudah direncanakan semenjak Arka, sang suami, naik jabatan sebagai manajer sebuah perusahaan ternama, satu tahun yang lalu.

Kehidupan rumah tangga mereka memang merangkak dari nol. Arka yang awalnya hanya karyawan biasa, mulai berubah sejak menikah dengan Rania dua tahun yang lalu.

Secara materi, hidup mereka sudah sangat mapan untuk saat ini, tapi sayang, belum ada buah hati yang hadir melengkapi kebahagiaan mereka. Rania sangat merindukan tangis dan tawa dalam rumah besar itu.

Berbagai cara ia dan Arka lakukan demi mendapatkan anak, tapi hasilnya selalu saja nihil. Perempuan yang sudah tak memiliki orang tua sejak usia belia itu, hanya bisa mengurut dada pilu bila memikirkan tentang buah hati.

Tak terasa kedua matanya telah basah. Air yang merembes mengaliri kedua pipi segera ia hapus, tatkala sebuah ketukan samar-samar didengar dari arah pintu depan. Bergegas Rania menghampiri ruang tamu, dan membuka pintu perlahan.

Tampak sosok Arka dengan wajah pucat telah berdiri di sana, dalam keadaan basah kuyup. Rania heran, bukankah Arka naik mobil, tapi kenapa pakaiannya bisa sebasah itu?

Namun Rania tak begitu ambil pusing, segera ia menghampiri dan mencium tangan suaminya. Dingin.

“Ayo masuk, Mas, aku akan segera ambilkan handuk. Kau segeralah mandi dengan air hangat ya,” ujar Rania khawatir.

Arka tak menggubris. Ia hanya terduduk di sofa ruang tamu dengan tatapan yang kosong. Rania memerhatikan tingkahnya yang berbeda.

“Mas, kau baik-baik saja?” tanya Rania semakin khawatir.

Arka menoleh. Kedua mata itu terlihat sayu. Wajahnya berubah mendung.

“Peluk aku, Rania,” bisiknya hampir tak terdengar, samar bersama suara hujan yang masih deras di luar.

Aku menghampiri, duduk di sampingnya dan meraih tangan itu.

“Ada apa, Mas?” tanyaku seraya menggenggam kedua tangan Arka yang masih dingin.

Arka langsung memeluk Rania dengan erat. Dingin perempuan itu rasakan, tapi ia tak ingin mengecewakan suaminya. Dipeluk kembali tubuh yang kini telah menyatu itu, mencoba merasakan kehangatan yang selalu datang kala Arka memeluknya.

Namun entah kenapa, selama beberapa saat tubuh mereka tak terlepaskan, tapi selama itu pula, Rania tak merasakan hangat tubuhnya. Ia mencoba melepas pelukan Arka dengan pelan. Lelaki itu menurut. Ia tertunduk.

“Ada apa sebenarnya, Mas?” tanya Rania lagi seraya memandang wajah sang suami yang memucat.

“Aku mencintaimu, Sayang, tapi maaf, aku telah mengkhianatimu,” ucapnya pelan di sela isak tangis yang tertahan.

“Apa maksudmu, Mas?” tanyaku lagi, mulai tak menentu.

Lelaki itu makin terisak dalam tangis yang tak henti. Rania semakin resah.

“Aku mohon, Mas, bicaralah padaku.”

Rania pun mulai menangis.

“Aku mengkhianatimu dengan perempuan lain, Sayang. Tolong, maafkanlah aku.”

Rasanya petir yang menggelegar di langit, takkan sebanding dengan gemuruh yang terjadi dalam hati Rania. Jiwanya hancur kala Arka mengucapkan itu. Cinta yang ia jaga selama ini telah ternoda dengan pengakuan Arka yang telah mengkhianati pernikahan mereka.

Rania luruh bersama dengan luka yang ditorehkan Arka. Kebahagiaan yang selama ini tercipta rupanya semu belaka. Kepura-puraan Arka yang selalu setia, hanyalah kamuflase.

Lelaki itu telah menodai cinta suci yang mereka ikrarkan sehidup semati. Mungkinkah karena ia tak bisa memberikan Arka keturunan, hingga akhirnya lelaki itu mendua?

“Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Sungguh, aku menyesal telah mengkhianatimu.”

Rania tak menanggapi ucapan Arka. Penyesalan itu telah terlambat. Karena saat ini hanya ada luka yang tertinggal dalam hatinya, yang entah kapan akan bisa sembuh. Ia hanya bisa menangis pedih.

Ketukan di pintu depan telah membuyarkan rasa sakit yang kini tengah mendera hati Rania. Mau tak mau ia segera menuju pintu, melewati Arka yang masih diam terpaku. Segera ia hapus air mata yang masih membasahi kedua pipinya.

Dibukanya pintu perlahan. Tampak dua orang polisi berdiri dengan wajah tegang.

“Maaf, apa betul ini dengan rumah Pak Arka Wiryakusuma?” tanya salah seorang polisi.

“Ya betul, Pak, saya istrinya,” ujar Rania mulai was-was.

“Mohon maaf, Bu, kami hanya ingin mengabarkan, jika suami Ibu mengalami kecelakaan, mobilnya masuk jurang. Dan setelah dievakuasi, nyawa suami Ibu tak bisa diselamatkan, beserta jasad seorang perempuan yang berada dalam satu mobil yang sama.”

Rania tercengang. Tenggorokannya tercekat tak dapat berkata apa-apa. Rasanya ia tak siap menerima kenyataan pahit dalam satu waktu. Jika suaminya dikabarkan telah meninggal, lalu siapa lelaki yang baru saja bersamanya itu? Rania lunglai dan jatuh luruh bersama duka dan luka yang datang bersamaan.

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.