Preman Pensiun dan Kenanganku

Preman Pensiun dan Kenanganku

“Kamu miskin?”

“Kamu pengangguran?”

“Kamu lemah iman?”

Tiga kalimat yang dilontarkan Saep, bos copet dalam Sinetron Preman Pensiun 4 saat akan merekrut anak buahnya sungguh menggelikan. Adegan itu menggugah kenanganku. Bukan kenangan menjadi salah satu komplotan pencopet, tetapi sebagai korbannya hahaha ….

Siang itu, bergegas aku pulang dari kampusku di Jatinangor. Di terminal bus Jatinangor, kuutarakan keinginanku untuk pulang kepada Wita, sahabatku. Setelah itu, kami berpisah, Wita naik bus jurusan Jatinangor-Elang, sedangkan aku naik bus Jatinangor-Dipati Ukur. Ada rindu yang menggebu untuk segera pulang ke kotaku. Biasalah anak bungsu, sedikit-sedikit kangen dengan ibu hehehe ….

Usai mengunci pintu kamar kos di Jalan Tubagus Ismail Dalam, Dago, bergegas aku berjalan menuju ke Pasar Simpang, Dago. Aku hanya membawa tas daypack biru Alp*** yang biasa kupakai untuk kuliah.

Sebuah angkot jurusan Dago-Stasiun Hall kuberhentikan. Angkot rupanya telah penuh dengan penumpang. Dalam perjalanan, entah mengapa ada perasaan tak enak di hati, tapi kuabaikan.

Satu per satu penumpang turun, termasuk dua penumpang yang mengapitku. Salah satunya perempuan berambut sebahu. Penampilan mereka layaknya mahasiswa. Lalu, angkot pun kembali melaju menuju tujuan terakhir yaitu stasiun. Ternyata, aku adalah penumpang terakhir.

Saat akan menyiapkan ongkos angkot, betapa terkejutnya aku mendapati dompetku tidak ada. Rencana pulang pun gagal.

Apa tertinggal di kamar kos, ya? Bagaimana aku membayar ongkos angkot dan pulang kembali ke Dago? Jalan kaki? Oh, No!

Dengan lemas aku turun dari angkot.

“Ma-af, Pak, dompet saya tidak ada, saya hanya ada uang segini …,” ucapku kepada pak sopir sambil menyerahkan sejumlah uang yang masih kurang untuk membayar ongkos. Beruntung tadi aku sempat menaruh uang logam di saku celana.

Pak sopir menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti.

“Emm … bolehkah saya ikut numpang lagi ke Dago, Pak?” tanyaku penuh harap.

“Iya, Neng, nggak apa-apa, silakan ikut aja.” Jawaban pak sopir melegakanku.

“Terima kasih, Pak.” Aku pun kembali naik ke angkot untuk pulang ke Dago.

Terima kasih, ya Allah, ketemu bapak sopir yang baik hati.

Sesampai di kamar kos, segera kucari dompetku, namun tidak juga ketemu. Aku terduduk lemas. Dan, setelah kurenungkan sepertinya aku telah kecopetan. Ya, wanita yang duduk di sebelahku adalah eksekutornya. Sementara anggota tim lainnya sebagai pengalih. Mereka sempat ribut di angkot. Itu rupanya modus mereka untuk mengalihkan perhatian penumpang, khususnya calon korban, aku. Mirip seperti anak buah Saep dalam Sinetron Preman Pensiun 4 yang sedang tayang pada jam empat pagi ini.

Sebenarnya, tak banyak uang yang ada di dompet, hanya cukup untuk membeli tiket kereta Bandung-Cilacap. Namun, karena ada KTP dan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa), maka atas seorang kawan aku melaporkan kehilangan dompet tersebut di kantor polisi.

Sebuah pelajaran berharga kudapatkan. Karena tergesa-gesa, dompet kutaruh di bagian depan daypack. Ceroboh sekali seakan-akan memberi kesempatan pada mereka untuk mencopet.

***

Suatu ketika di kota Bandung.

#rumahmediagrup/windadamayantirengganis

Saep, bos copet
Foto by Winda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.