Aki dan Ambu – Bagian 6

Aki dan Ambu – Bagian 6

Pagi-pagi sekali Ambu meminta Aki mengantarnya ke pasar. Ada beberapa bahan pangan yang perlu Ambu beli untuk lebaran nanti. Aki menunggu di tempat parkir. Sekitar setengah jam kemudian, Ambu kembali dengan tergesa-gesa. Kedua tangannya menjinjing barang belanjaan.

“Cepat sekali belanjanya, Ambu?” Aki yang sedang duduk santai di bangku pinggir tempat parkir segera beranjak untuk membukakan Ambu bagasi mobilnya. “Jadi nih kita buat ketupat,” lanjutnya sambil memperhatikan selongsung ketupat yang dibawa Ambu.

“Iya, Ki,” jawab Ambu sambil meletakkan barang belanjaannya di bagasi. “Aduh Ki, pasar penuh sesak. Ambu tak mau lama-lama berdesakan dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini. Untungnya ambu buat daftar belanjaan. Jadi langsung mencari yang tertera di daftar.  Kalau ketemu, langsung beli. Tidak pake acara tawar menawar lagi,” jawab Ambu sambil melangkah menuju pintu depan mobil.

Setelah menutupkan pintu bagasi, Aki pun segera menuju kursi sopir.

“Kalau sebelumnya, Ambu malas berdesakan di pasar karena rawan pencuri. Sekarang malah lebih-lebih. Ya takut pencuri, ya… takut pandemi,” Ambu bersungut-sungut. Diambilnya handsanitizer yang tergeletak di dashbor mobil, kemudian ia basuh tangannya.

“Mungkin mereka juga sama dengan kita, Ambu. Belanja keperluan untuk lebaran” jawab Aki sekenanya.

“Iya, Ki. Kita pulang, Ki,” ajak Ambu.

“Tidak ada yang mau dibeli lagi Ambu? Mumpung di pasar. Biar tidak usah bolak-balik,” Aki mengingatkan.

“Tadinya ingin membeli taplak meja makan. Tapi melihat kondisinya seperti itu, Ambu urungkan niat. Biar kita pakai taplak yang ada saja. Tidak perlu membeli baru. Atau beli online saja.” Ambu menjelaskan. Aki mulai menghidupkan mesin mobil. Mata Ambu sibuk menyapu area parkir. “Tempat parkir saja sebegini penuhnya. Pantas saja di dalam pasar berjubel,” gumam Ambu.

“Kalau di kota, kita bisa belanja di super market ya, Ki. Di sana kita bisa belanja sambil tetap menjaga jarak,” Pandangan Ambu menerawang. Pikirannya melesat ke masa setahun lalu, saat dia masih tinggal di Jakarta.

“Sekarang di Jakarta juga diterapkan PSBB, Ambu. Bahkan lebih ketat daripada di sini,” tukas Aki.

“Iya juga sih,” timpal Ambu. “Untungnya di sini masih termasuk zona hijau. Jadi Ambu berani belanja di pasar,” lanjutnya.

“Baiknya sih kalau tidak terlalu perlu, tidak usahlah belanja  sendiri ke pasar. Kita nitip saja ke penjual sayur keliling langganan Ambu,” saran Aki.

“Iya, Ki,” jawab Ambu singkat.

Sejenak keduanya terdiam.

“Ternyata yang belanja di lantai atas tidak kalah banyak, Ki. Pada masa pandemi seperti ini, orang-orang masih saja sibuk berburu baju lebaran, meskipun harus berdesak-desakan.” Ambu membuka kembali perbincangan.

“Sulit mengubah tradisi yang sudah mendarah daging, Ambu,” jelas Aki.

“Budaya kita, lebaran itu identik dengan baju baru ya, Ki?” tanya Ambu.

“Idul Fitri itu disebut juga hari kemenangan. Makanya, pada hari itu semua bersuka cita. Bersilaturahmi satu sama lain. Sebagai rasa syukur, makanan enak-enak disajikan dan pakaian terbaik pun dipakai. Lagi pula, saat salat hari raya, kita disunahkan memakai pakaian terbaik kita. Jika bisa membeli baju baru, maka dibelilah baju spesial untuk lebaran.” Aki menjelaskan panjang lebar.

“Iya, Ki. Ambu juga ingat betul saat masih kanak-kanak. Lebaran itu selalu ditunggu karena orang tua akan memasakkan yang enak-enak dan membelikan baju baru,” Ambu membayangkan masa kecilnya yang indah bersama kedua orang tuanya. “Saat lebaran pun ada tradisi nyekar, Ki. Ambu jadi kangen pada orang tua ambu. Sayangnya, karena kondisi sekarang seperti ini, kita  tidak bisa pergi nyekar ke pusara orang tua ambu. Syukurlah, kita masih bisa nyekar ke pusara orang tua Aki.”

“Kita doakan kedua orang tua Ambu dari sini saja. Doa kita pasti sampai pada mereka,” hibur Aki.

“Betul, Ki.” Ambu merasa sedikit terhibur. ”Oh, ya! Saat ambu kecil, ada pula tradisi menyalakan petasan saat hari raya. Tahun ini ada tidak ya yang menyalakan petasan?” gumam Ambu.

“Sejak lama sudah ada larangan menyalakan petasan. Ambu lupa, ya?” Aki mengingatkan.

“Oh iya! Ambu lupa,” terkekeh. 

“Alhamdulillah … kita sudah sampai rumah.” seru Ambu saat mobilnya memasuki halaman rumah. Ambu  tidak segera turun dari mobil. Dia malah duduk bersandar di kursinya. Melalui kaca depan mobil, Ambu menatap rumah yang nyaris setahun dihuninya. Lusa adalah lebaran pertamanya di rumahnya itu.

Aki Rahmat hanya geleng-geleng kepala melihat yang dilakukan Ambu. Dia segera turun dari mobil, lalu mengeluarkan belanjaan dari bagasi. ***

#WCR_cerbung6_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.