Covid-19 Membawa Pergi Mama

::Covid-19 Membawa Pergi Mama::

Berpuluh minggu televisi dan media lainnya dipenuhi berita kasus Covid-19. Hingga Ramadan tiba di penghujung, berita korban covid-19 masih ramai. Dan beberapa minggu terakhir yang menjadi korban adalah orang-orang yang ku kenal. Kenal baik secara langsung, ataupun kenal dengan keluarganya.

Salah satunya adalah ibu dari muridku. Kaget pastinya, karena tempat tinggalnya berdekatan dengan kami. Sampai akhirnya ditetapkan sebagai zona merah. Tak paham apa penyebab awal sang ibu positif covid. Beliau sempat dirawat kurang lebih satu bulan di salah satu RS yang baru saja dibuka untuk umum. RS tersebut berdiri di area kampus besar dan terkenal.

Alfa namanya, tak bisa menengok mama sejak dikarantina di Rumah Sakit. Sampai akhirnya sang mama berpulang selamanya, Alfa tak lagi melihat wajah mama. Dia pun menyesal, di galeri gawainya hanya tersisa beberapa foto dirinya dan mama. Itu saja yang bisa dilihatnya berkali-kali.

Hari pertama mama dikarantina, biasa saja buat Alfa. Karena ia terbiasa ditinggal mama sehari-hari untuk bekerja. Namun, sejak mama meninggalkan Alfa selamanya, semua terasa berbeda.

Minggu terakhir Ramadan, Alfa berduka. Duka yang amat dalam. Bahkan dia marah dengan semesta, marah kepada virus yang telah merenggut mama. Satu-satunya orang yang disayanginya saat ini. Namun kepada siapa harus dilampiaskan semua amarahnya.

Alfa segera diungsikan ke rumah kerabat ibunya. Alfa bercerita melalui ponselnya, tentang kekesalannya kepada wabah covid-19, tentang kegusarannya saat tak bisa melihat mama yang dikarantina, pun tentang marahnya Alfa kepada Tuhan.

Hujan sore itu ikut mengiringi prosesi pemakaman mama. Alfa hanya melihat dari kejauhan. Tante menahannya untuk mendekat. Alfa tergugu menahan pilu. Satu-satunya kakak yang dia punya tak bisa hadir karena jauh di luar kota. Gerimis yang turun semakin membuat basah hati Alfa. Namun semua itu menjadi takdir baginya.

Kini, kesendirian mengisi harinya. Bertemu kakak tak mungkin, dan ayah tak pernah lagi ia tahu keberadaanya. Ramadan sampai di penghujung. Alfa masih termangu di atas sajadah panjangnya. Mendoakan mama tak pernah terlupa dari kesehariannya kini. Sambil berharap wabah ini segera pergi. Meski tak akan menghidupkan kembali mama, namun masih banyak orang yang harus sehat dan tetap hidup.

Allah, ampuni semua kesalahan mama, sayangi mama, luaskan kuburnya, berikan mama sebuah rumah di surgaMu. Jadikan aku hambaMu yang pandai bersyukur. Bersyukur dengan semua keadaan yang Engkau berikan. Sungguh aku tak sendiri yang menerima takdir ini. Masih banyak anak-anak yang bernasib sama denganku.

Tuhan, kapankah wabah ini berlalu?…

Semoga ia lekas berlalu tanpa bekas. Meski meninggalkan jejak kematian.

Depok, 30 Ramadan 1441. H



rumahmediagroup//afafaulia18



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.