Kapan Corona Berakhir, Bunda?

Kapan Corona Berakhir, Bunda?

Aku tertegun membaca statusnya di media sosial. Seakan ada bongkahan besar bersisi runcing dan tajam menghimpit dada ini. Sesak dan sakit sekali rasanya. “Sebegitu prustasikah engkau, Ka,” gumamku. Kupejamkan mata menahan gejolak rasa. Air mata memaksa merembes melalui celah-celah bulu mataku. Terbayang wajah ceria anakku. Senyumnya yang dulu selalu terkembang membawa aura bahagia bagi orang-orang di sekitarnya.

Aku tersedu. Saat kubuka mataku, air bening hangat semakin deras meleleh dari sudut-sudutnya. Kubiarkan saja itu membasahi wajahku.

Kuusap lembut fotonya.  Hatiku berbisik, “APD ini membuat gerakmu sangat terhambat ya, Ka? Bunda turut merasakan betapa sesaknya engkau dengan pakaian itu. Bunda pun turut merasakan pegalnya kakimu. pusingnya kepalamu, dan betapa kaku lehermu. Andai saja kita bisa bersama. Selepas tugas, kau bisa berbaring sepuas hatimu di pangkuan bunda, sekadar melepas penatmu dengan belai lembut tangan tuaku. Akan kubaluri tubuhmu dengan kasih sayang disertai doaku. Kan kususuri setiap urat-uratmu yang kaku agar kau merasa nyaman hingga pulas di pangkuanku.”

Nyaris saja aku meneleponnya. Tapi segera kuurungkan niatku. Aku tahu pasti, sekarang dia sedang bertugas. Semenjak anakku tergabung dalam tim tenaga kesehatan yang menangani pasien corona, seberapa pun inginnya aku menyapanya melalui telepon, aku harus menahan diri.

Anakku kini bukan sekadar milikku dan keluargaku. Dia milik semua orang yang kini memerlukan perawatannya. Akhirnya, aku hanya bisa menunggu dia menghubungi terlebih dahulu. Hanya sekejap saja kami berbincang jarak jauh. Dia selalu mengatakan, “Kaka baik-baik saja, Bunda.” Mungkin dia tahu bahwa kata-kata itu begitu sakti sehingga bisa mengusir semua kekhawatiranku mengenai kondisinya. Atau mungkin, kata-kata itu juga yang menjadi penguat tekad di hatinya untuk terus bertahan demi kesembuhan sesama.

Nyaris tiga bulan bangsa ini diguncang kasus covid-19. Selama itu pula anakku bergabung dengan timnya di RSCM sebagai tenaga kesehatan yang bertugas menangani korban virus corona. Semenjak itulah kami berjauhan. Hanya sesekali dia meneleponku atau mengirim pesan melalui WhatsApp. Awalnya dia begitu bersemangat. Tekadnya untuk mengabdi pada negeri bisa menghalau lelah dan payah yang menderanya. Dia begitu berharap, badai corona ini segera berlalu. Harapan yang pastinya juga ada di dada semua orang. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu. Aku merasakan semangatnya mulai surut. Segala daya telah dikerahkan,  sementara musibah tidak juga reda. Kelelahan bertubi-tubi yang menimpanya akhirnya melemahkannya juga.

Aku sangat paham. Dia dengan rekan-rekan sejawatnya pasti ikhlas membaktikan diri demi kemanusiaan. Mereka rela berada di garda terdepan, bertaruh nyawa demi sesama. Akan tetapi, ketidakseriusan dan ketidaktegasan pemerintah dalam menanggulangi musibah ini, telah membuat semangat mereka memudar. Ungkapan kekecewaan terhadap pemerintah dan masyarakat yang terkesan abai terhadap bahaya corona, mulai bermunculan di media sosial. Hanya satu yang dituntut dari masyarakat, tetaplah di rumah agar penyebaran corona terputus. Dengan demikian, badai corona pun akan segera berlalu dari negeri ini. Jika itu dapat terwujud, maka kondisi pun akan segera pulih kembali. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap enteng corona ini.

Yang patut disayangkan ialah di saat para dokter dan tenaga kesehatan berjuang mati-matian agar corona segera enyah dari muka bumi, malah tersiar kabar bahwa pemerintah tetap mendatangkan ratusan TKA dari negara yang telah lebih dulu terkena pandemi covi-19 ini. Berita demikan tentu saja sangat menyakiti hati para pejuang di garda terdepan itu, juga pihak keluarga mereka yang terpaksa harus hidup dengan tetap menjaga jarak, termasuk aku dan keluargaku. Mungkin berita itu juga yang memicu rakyat untuk membandel terhadap imbauan pemerintah.

Suatu ketika, si Kaka mengirim pesan, ”Kaka lelah, Bunda. Beratnya beban tugasku telah membuat tubuhku lelah. Tapi kondisi yang semakin tidak menentu ini membuat hatiku juga lelah. Telah banyak rekanku yang tertular. Bahkan, ada di antaranya gugur dalam tugas. Tapi, mana perhatian pemerintah? Mana kepedulian orang-orang yang kami bela?” Dia mengakhiri pesannya dengan emot menangis.

Hatiku terisis membaca pesannya itu. tangisku pun pecah. Perih sekali hati ini. Aku hanya bisa tersedu di sini saat anakku di sana nyaris putus asa. Saat anakku memerlukanku, aku bahkan berada jauh darinya. “Andai saja kamu ada di sini, Nak. Akan kupeluk engkau dengan sepenuh cintaku. Akan kugenggam erat tanganmu sekedar memberimu sedikit kekuatan.” jeritku di sela isak tangis.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang terus berderai, kuketik balasan untuk pesannya, “Bunda yakin. Anak bunda akan kuat menghadapi semua rintangan. Ingatlah Ka, kau melakukan itu dengan ikhlas, maka biarlah Allah yang akan memberimu balasan. Jangan sekali-kali berharap balasan dari sesama. Itu hanya akan membuatmu makin kecewa. Bunda, ayah, dan adik-adik semua sayang kamu. Kami bangga padamu, Sayang.” Kuakhiri pesanku dengan emot cinta lalu kukirimkan.

Sesaat kemudian dia membalas pesanku, “Iya, Bun. Aku sangat ikhlas melakukan semua ini. Tapi hatiku mulai lelah, mulai melemah. Aku rindu Bunda, rindu Ayah, dan adik-adik,” juga diakhiri dengan emot menangis dan cinta.

Kubalas kembali pesannya, “Kami semua juga sangat merindukanmu, Ka. Kami selalu panjatkan doa untuk keselamatanmu. Jangan berkecil hati, Sayang. Yakinlah, Allah senantiasa berada sangat dekat denganmu. Dia pasti juga rida pada apa yang Kaka dan rekan-rekan lakukan seperti halnya bunda dan ayah rida pada yang kamu lakukan.” Kukirimkan pesan itu diiringi titik air mata yang jatuh di layar gawaiku.

Gawaiku bergetar. Ada pesan masuk. Dia mengirim lagi pesan. Kali ini hanya satu kalimat tanya, “Kapan corona  berakhir, Bunda?” Aku terhenyak. Tidak sedikit pun terpikir harus menjawab apa. Yang terlintas dalam benak justru viralnya berita tentang konser amal kenegaraan, kerumunan dan mengularnya antrian masyarakat yang akan mengambil bantuan dari pemerintah maupun perorangan yang juga viral, serta sesaknya pasar oleh pemburu baju lebaran. ***

***

#WCR_cerpen_sinur

rumahmediagrup/sinur

2 comments

  1. Menitik air mata. Andai tak dikendalikan mungkin sudah berderai-derai. Terharu membaca untaian kalimat menyentuh hati. Titip doa untuk Kaka ya, Bunda. Bismillah semua akan segera berakhir.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Aamiiin Allahumma aamiin. Terima kasih banyak telah berkenan meluangkan waktu untuk singgah mengapresiasi. Terima kasih banyak juga untuk doanya, Mba Ribka. Jazakillah khoiron katsiiron.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.