Sebelum Terlanjur

Sebelum Terlanjur


Coba pahami langkahnya, dari sejak semula. 
Kian tak tentu. 
Melelahkanmu. 
Tak kau biarkan waktu kan mengajarinya. 
Kau ingin sedari dini dirinya tertata. 

Pola tingkah masih seperti kebanyakan. Usang, kasar sudah, dan tak elegan. 
Jika kau memaksa ingin menepi untuk berteduh. 
Kupersilahkan sebelum terlanjur rapuh. 

Bahkan sekumpulan syarat yang kau pinta.
Karena tak ingin terlihat seperti jumawa.
Ia biarkan siapapun dalam keraguan. Dalam lisan yang terbaca sangat menawan. 

Benar tak inginkan keraguan hati. 
Hingga dia buat hilir mudik pikiran. 
Sampailah keberanian ini menetapi. 
Berlalu saja celoteh mereka tak karuan. 

Bila tak bisa lagi mengikuti irama hati. Keseimbangan  resonansi yang saling bersinergi. 
Waktu jua yang akan menandai pengorbanan diri
Terbeban di hati, lalu kian menjauh, pergi

Untuk apa mengobati luka tak berkesudahan, semakin menganga. 
Dan kau dendangkan pula merdunya tangisan, kau nikmati dukanya. 
Beracun tapi terlihat indah, tidak masalah. 
Masih juga engkau menyayanginya, meraih bahagia walau lelah.

Kau sadari kekurangan dirinya dan  menikmati tangisannya
Kau buai lagi dengan kekarnya dekapmu, hingga semua suramnya hati berbinar-binar lagi. 
Lupa diri kian tenggelam dalam kenestapaan tak kentara. 
Hakikat bahagiamu sendiri, sudah jauh tak pernah kau dapati. 

pic. islamedia. com

rumahmediagrup/isnakuainr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.