Ketupat Lebaran

Ini hari ke 29 Ramadhan. Biasanya kalau ibu-ibu adalah orang yang paling sibuk di akhir bulan ini. Bukannya sibuk berdzikir, tapi sibuk menyiapkan buat keperluan hari raya. Begitu pun dengan diriku selalu dibuat sibuk juga, apalagi kalau di akhir Ramadhan pembantu sudah minta libur. Jadi tambah sibuk di rumah tak ada yang bantu-bantu. Pagi-pagi setelah sahur langsung nyuci piring bekas makan waktu buka dan sahur yang lumayan banyak karena kami keluarga besar. Jadi kalau ga nyuci setelah magrib, pastilah cucian banyak di waktu pagi.

Setelah shalat subuh biasanya bisa rebahan sebentar . Tapi kali ini ga bisa karena harus nyuci baju. Belum lagi harus matiin lampu di rumah ibu, yang kini kosong.
Setelah beres nyuci aku langsung menuju rumah ibu untuk mematikan lampunya karena memang rumahnya kosong. Sengaja tidak aku sewakan karena sayang dengan perabotan rumahnya. Kalau ada orang yang sewa belum dia mampu merawatnya seperti rumah sendiri. Rumah itu memang menjadi hak adik bungsuku. Namun karena dia tinggal di luar kota jadi dia ga mau menempatinya. Kalau pulang kampung saja dia mau menengoknya. Terkadang dia hanya mau mampir di rumahku saja tak mau menengok rumahnya.

Saat aku tiba di rumah Ibu, tiba-tiba aku langsung dikejutkan sapaan bibi, adik ipar ibu.
“Lagi apa Neng” Tanyanya.
“Oh, ini lagi ngasih makan ikan”. Jawabku sambil melempar dedak yang kubawa dari rumahku.
“Oh, kirain lagi apa. Ni ada uli bawa!” Katanya.
“Ya Bi, makasih. Wih udah bikin uli segala. Maaf taruh aja di situ, tanganku lagi kotor”. Jawabku.
“Iya, ini di sini ya”.
Kemudian bibi pamit pergi
Aku melanjutkan pekerjaanku. Ngasih makan ikan ke kolam yang satunya lagi.
Lalu teringat buat menu buka mau bikin pepes ikan. Segera kuambil pisau lalu ku ambil daun pisang buat bungkus pepes.
Setelah semua beres, aku balik ke rumah.

Tiba-tiba aku teringat untuk bikin cangkang ketupat untuk persiapan besok. Aku nyuruh suami untuk ngambil janur barang beberapa lembar. Tapi dia tak mau manjat pohon kelapanya dengan alasan malas. Malah dia menyuruhku untuk beli aja di pasar. Tadinya aku ga mau repot bikin karena harus ada janurnya. Paling juga aku hanya butuh beberapa saja. Di saat situasi seperti ini sebenarnya aku malas untuk ke pasar. Sudah terbayang bagaimana padatnya suasana pasar yang penuh dengan orang-orang yang belanja. Apalagi disaat seharusnya jaga jarak tetapi tidak semua orang yang patuh akan anjuran pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan saat di luar rumah. Jadi kuputuskan untuk buat sendiri cangkang ketupat. Untungnya si cikal mau disuruh manjat pohon kelapa untuk ngambil pelepah janur. Satu pelepah sebenarnya kebanyakan karena aku hanya butuh beberapa lembar saja.
“Mah, ini janurnya”. Kata si Cikal sambil pergi lagi. Tumben sekali hari ini dia mau kusuruh. Biasanya aku nyuruh sama dia ga pernah dituruti.
“Ya, taruh aja di situ”. Aku menjawabnya. Lalu kulihat keluar. “Banyak amat “. Pikirku. Tapi tak apalah nanti kalau sudah santai kukerjakan.

Sore menjelang magrib, setelah semua pekerjaan dapur selesai aku mulai membuat cangkang ketupat. Saat sedang memilah-milah janur yang akan kupakai, si bungsu menghampiri.
“Mau bikin Ketupat ya Mah?” Tanyanya
“Iya “. Jawabku
“Aku pingin bisa Mah, bagaimana caranya?”
“Iya nanti Mamah ajarin kalau udah nyantai”. Kataku sambil terus mengerjakan membuat cangkang ketupat. Tak mudah untuk bisa membuat cangkang ketupat. Butuh ketelitian. Di keluargaku hanya aku yang bisa membuatnya. Aku bisa ini karena diajarin Bapakku. Teringat akan suatu mitos bahwa kalau anak perempuan tak bisa bikin cangkang ketupat, katanya nanti bakalan dapat suami yang “hernia”. Ah, ada-ada saja orang di kampung tapi itu mungkin hanya guyonan saja agar semua wanita bisa membuat cangkang ketupat. Buktinya masih ada perempuan yang pinter bikin ketupat tapi dapat suami hernia.

Saat aku masih satu rumah dengan ibu, tetanggaku suka pada minta dibuatkan. Termasuk juga minta janurnya. Jadi satu pelepah itu bisa buat untuk beberapa orang. Rata-rata satu keluarga minta antara 10-20 biji. Mereka tak usah beli. Tapi mungkin sekarang mereka lebih praktis untuk beli di pasar karena aku sudah pindah rumah. Harga satu bijinya Rp 500,00. Dan di tempatku yang baru aku tak banyak tetangga. Jadi ga ada yang minta untuk dibuatkan.

Baru beberapa biji aku membuatnya, pas ku lihat jam dinding ternyata sudah hampir magrib. Aku segera menghentikan pekerjaanku. Dan segera kusuruh si bungsu untuk bersiap-siap menyajikan makanan untuk berbuka.
“Neng, siap-siap hampir magrib”. Perintahku kepada putriku.
“Iyaaa Mah”. Jawabnya.
Inilah enaknya punya anak perempuan walaupun masih kecil tapi sudah bisa bantu-bantu emaknya. Beda sekali dengan kedua anak lelakiku.

Setelah tarawih kulanjut lagi pekerjaanku membuat cangkang ketupat.
“Mau buat lagi ya Mah ?” Tanya anakku
“Iya Neng”. Jawabku
“Buat berapa lagi Mah?”
“Ya secukupnya aja”. Aku menjawab

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya. Setelah dirasa cukup, aku segera membereskan pekerjaanku. Dua puluh biji juga sudah terlalu banyak. Entah besok mau terisi semua atau hanya separuhnya. Karena lebaran tahun ini sodaraku tidak bisa mudik. jadi dikonsumsinya hanya buat keluarga sendiri saja. Besok tinggal isi dan digodog selama 4 jam. Anak-anak sukanya disajikan dengan bumbu kacang. Jadi aku bikin bumbu kacangnya juga selain bikin gulai. Penyajian dengan bumbu kacang bisa ditambah toge dan tahu goreng. Setiap lebaran menu ketupat selalu menjadi menu utama. Hampir semua orang di kampung selalu membuatnya. Kalau bersilaturahmi pasti selalu ditawarin makan ketupat meskipun di rumahnya pada buat.

Sumber foto : koleksi pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.