Diari Cik Onis

Lagaknye

Ratusan mata terpana melihat Cik Onis. Ribuan komentar tak terucap menggelegar di masing-masing kepala yang melihatnya. Ada yang jelas terkesima. Ada yang kagum kemudian mencemooh. Ada pula yang sejak menyaksikan penampilan barunya sudah pegang dada diikuti istighfar berkali-kali. Bisik-bisik tetangga pun tak dapat lagi dihindari.

“Hoy Oniiisss… lagak amat andok kecit di kepalak to (bagus sekali handuk kecil di kepalamu).”
“Sua die dak berambut agik. Isak sakit apela ye (mungkin dia tak punya rambut lagi. Habis sakit apa dia ya)?”
“Astagapeerrr, ngape kimacam itu tutup kepalak e (Astaghfirullah, kenapa begitu tutup kepalanya)!”

Hanya sebagian ocehan dan gumaman usil yang terdengar jelas di telinga Cik Onis saat melenggang masuk ke ruang pertemuan warga siang itu. Dasar si makcik tipenya memang tak peduli omongan orang, jadi percaya dirinya tetap tebal. Bahkan dia masih sanggup tebar pesona, senyum ke setiap pelosok sambil kecup tangan dan melambai alias kiss bye.

“Onis! Makai ape ikam to name e (apa nama benda yang kau pakai itu)?” bisik Mak Yanti penasaran ketika Cik Onis baru saja mendaratkan pantatnya di kursi sebelah. Matanya hampir tak lepas menyelidiki tutup kepala baru Cik Onis.

“Kata orang, namanya turban. Hijab model baru ini,” sahut Cik Onis bangga, terlihat dari caranya menggerakkan kepala.

Mendengar kata ‘model baru’, beberapa warga yang duduknya selemparan tisu di sekitar Cik Onis pun mulai merapat. Perkara fesyen, emak-emak langsung tajam pendengaran sebab tak ingin ketinggalan. Jangan sampai ucapan katrok, nggak modis, gaya jadul, tersemat ke diri mereka. Biar kata tinggal di kampung, dandanan harus menyamai penduduk metropolitan.

“Ada juga yang bilang ini sorban atau serban. Yang pasti bukan perban,” lanjut Cik Onis sambil tangannya menyentuh dan membelai lembut sang turban kesayangan.

“Yang aku tahu, cuma orang Sikh yang pakai penutup kepala model begitu, Nis,” sela Teh Widi yang duduk di belakang Mak Yanti.

“Setengah betul, Teh, karena sebenarnya jauh di masa lalu justru kalangan bangsawan dan terpelajar muslim yang memakai turban. Kaum Sikh, yang agamanya perpaduan Hindu dan Islam, terus menerus pakai sorbannya supaya tidak dianggap kurang ajar ke Tuhan. Rambut kelihatan, kepala terbuka, nggak banget deh. Biar kata sedang tidak beribadah,” terang Cik Onis mantap sembari matanya menyapu para pemirsa.

“Tapi itu kan urang laki nok makai e (kaum lelaki yang pakai), ngape kao nok bini-bini makai juak (kenapa kamu yang perempuan memakai juga)?” kritik Mak Yanti dengan kening berkerut.

“Sejak abad 18, turban mulai masuk ke fesyen perempuan. Para artis sampai Ratu Elizabeth II juga pernah pakai turban. Jadi ya, kesimpulannya, kalau dulu turban mutlak hanya jadi bagian dari outfit keagamaan, sekarang bisa dikenakan siapa saja demi mempercantik diri,” pungkas Cik Onis cepat-cepat karena kurang nyaman didehemi dan dipelototi Bu Sekretaris Desa dari meja depan.

Para warga yang tadi mengerubungi Cik Onis pun kembali ke tempat duduk masing-masing mendengar kode Bu Sekdes tersebut. Mak Yanti rupanya masih kepo, makanya masih mencolek pinggang Cik Onis seraya mengatakan, “Kau yakin tambah cantik dengan turban di kepalamu?”

“Nggak juga Mak Yan, aku cuma mau tampil beda saja sekali-sekali. Ini pun sudah mulai gerah kurasa. Agak gatal sikit. Cemanalah cara menggaruk yang elegan ya Mak?”

rumahmediagrup/fifialfida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.