Lebaran Datang tapi Corona Belum Mau Pulang

Lebaran Datang tapi Corona Belum Mau Pulang

Oleh Irma Syarief



“Bun, udah ada kabar dari Abi kapan Abang sama Yaya balik lagi pondok?” tanya Abang Imba, perjaka saya satu-satunya. Abi, panggilan untuk Ustad Nur Mudir Boarding school anak kembar saya.

Abang Imba menekuk wajahnya. Saya perhatikan dia sedikit kecewa. Rambutnya sudah memanjang. Kumis tipis dan janggut mulai tumbuh. Efek pandemi dan banyaknya tukang cukur yang pulang membuat saya tidak bisa membawanya ke barber shop langganan. Di rumah pun, tidak ada alat yang memadai untuk mencukur. Jadinya, begitulah. Rambut bertambah ukurannya tanpa bisa dicegah.

“Kapan sih corona pergi? Abang pengen balik lagi ke pesantren. Di rumah juga bosen, engga kemana-mana. Mau pulang kampung ke rumah Oma aja engga bisa. Bosen, Bun! Tiga bulan kita terkurung di rumah. Lihat di TV orang-orang kok cuek aja ya kumpul-kumpul atau pergi seenaknya,” omelnya kembali.

Saya paham apa yang dia rasakan. Bukan hanya anak-anak saya yang merasakan ketidakpastian ini, semua orang pasti ada dalam kondisi ini. Tidak ada yang bisa menjawab dan memprediksikan dengan jelas.

Orang-orang mulai merasakan sumpek dengan keterbatasan ruang gerak, bingung untuk beraktivitas banyak, kondisi sosial-ekonomi yang tidak jelas, belajar daring yang membosankan, tambah lagi dana membengkak untuk membeli kuota agar tetap tersambung dengan guru atau pekerjaan.

Entah kapan ini akan berakhir. Hari ini saya membaca salah satu berita online, justru PSBB di Jakarta akan diperpanjang sampai tanggal 4 Juni.

Menurut Anies Baswedan, berdasarkan angka-angka ukuran epidemologi Covid-19 di Jakarta sudah menunjukkan tanda-tanda membaik. Namun, Anies menegaskan kondisi ini belum selesai karena potensi penyebaran covid-19 masih tinggi dan berpotensi untuk terjadinya gelombang kedua.
(cnbcindonesia.com)

Bisa jadi, pandemi ini akan cepat menghilang dari Indonesia jika kita disiplin dan mengikuti aturan WHO secara ketat dengan cara menerapkan social dan physical distancing dan tetap di rumah.

Sekali lagi! Semua tergantung kepada kita.

Namun kenyataannya, cukup banyak orang yang tidak paham bahkan mengabaikan pencegahan penyebaran virus corona dengan menjaga jarak dan tetap di rumah.

Sejatinya, kedisiplinan menjalankan social dan physical distancing, kerja di rumah, beraktivitas dan beribadah di rumah akan memutuskan mata rantai virus ini dari manusia ke manusia lain. Bisa dikatakan, inilah kunci utama, virus corona segera pergi dari muka bumi ini.

Namun di sisi lain dan cukup dilematis, mereka bukannya mengabaikan kebijakan pemerintah, masyarakat paham bahaya akan terpapar virus jika di luar rumah.

Satu hal yang menjadi alasan mereka mengabaikan anjuran ini yaitu kuatnya desakan akan kebutuhan hidup sehari-hari yang harus dipenuhi. Jika mereka di rumah siapa yang akan menjamin ketersediaan stok bahan makanan. Pun mereka harus mengais rezeki agar dapur tetap mengepul.

Di sinilah tugas pemerintah harus bisa memastikan dan menjamin masyarakat yang melaksanakan physical distancing dan stay at home bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Tidak ada lagi yang beraktivitas di luar rumah.

Diharapkan, semakin banyak orang yang tetap tinggal di rumah akan semakin memudahkan para tim medis menjalankan tugas mulianya sebagai garda terdepan dalam menangani pandemi ini.

Beban tim medis sangatlah berat.
Mengorbankan diri dan keluarga demi raga yang lain. Mereka tidak bisa memeluk dan kembali kepada keluarganya dalam waktu dekat.

Saat ini, tim medis hanya memiliki dua pilihan. Bisa kembali lagi ke rumah atau syahid dalam menjalankan tugas mulianya. Masihkah kita tidak peduli?

Senja makin merangkak. Suara takbir mulai menggema di masjid depan rumah. Ramadan telah berlalu meninggalkan lara di hati. Akankah tahun depan akan bersua kembali? Entahlah.

Lamat-lamat terdengar pembaca berita di televisi menayangkan jumlah korban positif semakin bertambah. Wisma Atlet Kemayoran sudah membuka tiga towernya untuk menampung para pasien itu.

Corona, kapan kau pergi dari muka bumi ini?

Jakarta, 24 Mei 2020

Idul Fitri, 1 Syawal 1441 Hijriyah

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Shiyamana wa Shiyamakum
Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faizin.

rumahmediagrup/irmasyarief

Gambar dari pinterest

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.